April Ketiga

Hai.
Sudah lama aku tak mengunjungimu. Rasanya aku memang terlalu sibuk. Hingga untuk sekedar menyapamu saja aku lupa. Apa kabar hidupmu tiga tahun terakhir? Semoga mempesona sepertiku. Yap, aku lebih dari sekedar baik. Aku bahagia.

Tiga tahun ini hidupku penuh dengan kejutan. Yap, seperti yang selalu kita bincangkan, skenario hidup manusia memang adalah skenario terbaik, meski tak selalu indah. Seperti skenario milikku. Aku merasa takjub, terutama setelah dia mulai menjadi partner mainku di panggung kehidupan ini.

Iya, dia. Dia yang kuceritakan padamu tiga tahun lalu. Ternyata dia lebih sempurna dari yang pernah kita bincangkan. Aku pernah bilang padamu, laki-laki yang memperlakukan ibunya dengan baik, akan memperlakukan istrinya dengan baik pula. Ini terbukti benar! Kau pernah risau tentang dia kan? Kau risau karna aku akan menerima dia, meski dulu aku tak mengenalnya. Hihi. Kau tak usah risau lagi ya.

Dulu ibunya bilang, dia tak pernah menyakiti hati, selalu berusaha membahagiakan ibunya. Kamu tahu? Dia sekarang pun begitu padaku. Aku selalu kehabisan cara untuk berterima kasih pada Tuhan, karena telah mengirimkan laki-laki baik macam dia.

Ah, aku tak tahu bagaimana deskripsi tepatnya. Saking baiknya dia, aku selalu saja tak bisa menjabarkan. Hm, intinya dia adalah laki-laki yang sangat baik. Sampai-sampai aku sering merasa heran, dia..  suamiku itu.. hatinya terbuat dari apa ya? Tutur katanya tak pernah menyakiti. Kesabarannya tak pernah surut. Kelembutan sikapnya selalu menghangatkan.
Ah, 3 tahun bersamanya, aku merasa menjelma menjadi sosok wanita paling bahagia di dunia. Beruntung sekali aku. Ya kan?

image