Kacamata

Ada banyak hal di dunia ini yang bagi sebagian orang dirasa sangat penting tapi kemudian dianggap sepele oleh sebagian yang lain. Ada hal yang disukai oleh sebagian orang namun dibenci oleh sebagian yang lain. Ada yang didamba-dambakan oleh sebagian orang namun disia-siakan oleh sebagian yang lain.

Milyaran manusia hidup berdesakan mencari celah untuk bisa bertahan hidup di muka bumi. Bukan hanya bertahan, sebagian besar dari mereka mencari kebahagiaan dan kenyamanan.¬†  Dalam memperjuangkan kebahagiaan, masing-masing manusia membawa prinsip, idealisme, dan rasa suka yang tidak sama. Tak ada yang salah dengan ini, karna saat Tuhan menciptakan manusia pun, Dia sudah meniscayakan perbedaan. Dia juga sudah memberi aturan-aturan agar manusia bisa hidup bahagia–karna Tuhan tahu bahwa pada dasarnya setiap manusia ingin bahagia. Hanya saja, definisi bahagia bagi masing-masing manusia seringkali berbeda, sebagaimana keinginan dan idealisme yang pula berbeda.

Di muka bumi, hari ini, saya meyakini bahwa ada orang-orang yang sedang berjuang menuju A, ada yang sedang berpeluh demi B, ada yang terseok-seok demi memperjuangkan C. Mereka sedang mengejar kebahagiaan, mereka tengah mendefinisikan kebahagiaan, tentunya dengan caranya masing-masing. Dan itu sah-sah saja.

Satu kepala manusia membawa persepsi yang tidak bisa diakurkan dengan persepsi manusia-manusia lainnya. Satu kepala manusia, membawa prinsip dan rasa suka yang berbeda dengan manusia lainnya. Itulah sebabnya jauh-jauh hari Tuhan telah memberitahu kita untuk tidak mensoalkan perbedaan. Perbedaan antarmanusia adalah keniscayaan. Perbedaan diciptakan bukan untuk digunjingkan, melainkan untuk kemudian disyukuri, untuk kemudian diambil hikmah, untuk kemudian dijadikan sarana pengendalian diri–bahwa tak semua yang kita sukai atau yang baik menurut kita lantas disukai atau dipandang baik pula oleh orang lain, untuk kemudian dijadikan sarana pembelajaran diri–bahwa membuka seluas-luasnya ruang toleransi atas perbedaan yang ada adalah sebuah keputusan bijaksana.

Lantas,
Terbayangkah ketika manusia-manusia ini, dengan segala perbedaannya, tinggal di bawah atap yang sama? Dalam satu perahu yang sama? Dalam sebuah biduk rumah tangga?Terbayangkah bagaimana sulitnya menyatukan dua isi kepala yang berbeda, dua jenis kelamin yang berbeda, serta dua keinginan yang berbeda dalam rumah tangga? Ah ya, cukup. Tak usah dibayangkan, karena itu memanglah tak mudah. Tapi sedari awal Tuhan telah membekali manusia kemampuan untuk menahan ambisi, untuk menerima adanya intervensi pasangan hidup, serta untuk saling mengasihi dan mengenyampingkan ego pribadi. Tuhan sudah menyiapkan semuanya, dan saya percaya, sesiapapun pasti bisa bertahan, bahkan bisa merasa nyaman dan bahagia meski terdapat banyak perbedaan. Ya, saya percaya itu.

Meski demikian, meski Tuhan menjanjikan kenyamanan dan kebahagiaan bagi mereka yang berumah tangga, tidaklah serta merta kita bisa mendapatkannya. Ada harga yang harus dibayar. Ada usaha yang perlu ditekuni. Ada jalan berliku yang harus dilalui. Ya, sakinah, mawaddah, warahmah itu bukanlah hadiah. Ia adalah upah atas jerih payah. Dan sesiapa yang berusaha, in sya allah akan merasakan ranumnya. Caranya? dengan menghormati dan bertoleransi atas perbedaan pasangan hidup kita. Bukan bertoleransi lantas tak saling memperbaiki diri, melainkan bertoleransi lalu berhenti mengharapkan apa-apa yang tidak mungkin pasangan kita miliki serta menerima dengan ikhlas apa-apa yang ia miliki.

Well.
Sepanjanglebar apapun saya berbicara, pada akhirnya perkara seperti ini adalah perkara yang hanya bisa dipelajari ketika kita memanglah telah masuk ke dalam dunianya. Lets say, menikah. Ya, menikah adalah proses belajar sepanjang hayat, yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang terjun langsung ke dalamnya. Yup, itu yang sedang saya lakukan saat menuliskan artikel ini. Saya belajar menikah. Saya belajar menerima perbedaan. Saya belajar mengikis ego pribadi. Saya belajar menghormati kesukaan dan ketidaksukaan pasangan hidup saya.

Anyway, saya baru beli kacamata. Dan karena kesalahan saya sendiri, akhirnya untuk yang kedua kali–setelah 2 tahun menanti, saya gagal memiliki kacamata yang sesuai.hiks *teu nyambung ginih -_-“

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s