Nostalgia

Saya suka berlama-lama menatap wajah suami saat tidur. Sekadar menikmati kedamaian yang terpancar dari matanya yang tertutup rapat. Dalam momen itu, kadang terlintas satu buah pemikiran: “Beliau yang sama sekali tak ada hubungan darah dengan saya, rela berkorban begitu banyak untuk saya.” Lalu saya menjadi berkaca-kaca, saya menyadari betapa janji Allah begitu nyata: sakinah, mawaddah, warahmah bagi mereka yang mengupayakannya.

Terlintas dalam benak saya saat saya pertama kali berhubungan dan berkenalan dengan beliau-suami. Seorang laki-laki asing yang belum pernah saya temui sebelumnya, datang pada ibu dan bapa, memohon izin untuk menikahi saya. Perempuan mana yang tidak bingung? Saya terkaget-kaget. Maka dalam kebingungan itu, 100% saya gantungkan segalanya pada Allah. Allah satu-satunya tempat mengadu.

Allah menuntun tiap langkah saya. Restu orang tua dan ridha allah adalah satu-satunya jalan yang saya andalkan dalam memilih jodoh. Waktu itu, sama sekali tak ada rasa cinta pada beliau. Saya berada di titik nol sehingga saya bisa menilai beliau dengan pandangan yang seobjektif mungkin. Meski sejujurnya dalam hati, saya sudah mengantongi sebuah keyakinan bahwa ada banyak hal yang beliau miliki, yang di kemudian hari akan mampu membuat saya jatuh cinta.

Saya sangat teringat perkataan ibu mertua saya dulu, tatkala saya bertanya soal beliau. Saya katakan, “Ibu, tolong jelaskan pada saya bagaimana akhlak anak ibu. Saya mohon ibu menjelaskan dengan sejujur-jujurnya, demi masa depan saya dan anak ibu.” Dan dengan tanpa diduga-duga, sembari berlinang air mata, ibu mertua saya menceritakan segalanya. “Anak ibu yang satu itu adalah anak yang selalu bisa menenangkan hati ibu. Perkataannya, nasihat-nasihatnya,  selalu bisa membuat hati ibu nyaman.”

Ibu mertua saya terlihat begitu tulus menjelaskan semuanya. Setelah menghela nafas beberapa saat, ia melanjutkan perkataannya. “Satu hal yang harus suci tahu, dari kelima anak ibu, cuma dia yang tak pernah menyakiti hati ibu. Dia penyejuk hati ibu.” Praaaanggg…  sebuah rumah kaca yang memenjara hati saya selama ini akhirnya pecah juga. What a mankind!! Dan saya mulai bertanya-tanya, takjub.
Continue reading