Takdir

Selalu ada masa-masa yang entah dengan apapun caranya ingin sekali rasanya Tika meloncatinya secepat kilat. Masa-masa yang sesak oleh perasaan depresi, pesimis, takut. Masa-masa yang kian menghukum dia ke titik yang paling membuatnya mati.

Sudah sejak lama Tika merindukan dirinya sendiri. Perempuan yang seringkali ia temui kala bercermin itu, tentunya bukan dirinya yang sebenarnya. Tika yang sebenarnya adalah Tika yang sangat controlled, yang mahir menoleransi keadaan terburuk sekalipun. Entahlah, kali ini ia merasa ada yang tak beres dengan dirinya.

Tidak diketahui semenjak kapan Tika mulai selalu merasa cemas. Cemas atas apapun. Cemas atas hari ini. Cemas atas hal-hal sepele. Cemas atas masa mendatang. Cemas atas cintanya. Sejatinya Tika tahu bahwa semua yang ia miliki sekarang bukanlah kepunyaannya. Itu titipan. Dan kapanpun pemiliknya ingin mengambil, Tika tentunya tak perlu protes. Tapi apalah Tika, hanya seorang wanita kemarin sore. Yang ia tahu, kini ia punya sesuatu yang teramat dicintai, dan itu membuatnya takut kehilangan setengah mati.

“Kamu takut aku pergi? Aku disini. Selalu.” Ujar Hero penuh canda.

“Aku takut kamu pergi, dengan cara baik-baik sekalipun.” Tika merasa tak ada yang perlu dijadikan candaan. “Aku takut kamu mati,selingkuh,amnesia, dan lain-lain.
“Kamu jangan pergi kemana-mana ya.plis.” Tika memeluk erat Hero.

“Ah, come on, dear. Kita nikmati masa-masa ini tanpa perlu mencemaskan apapun. Nikmati saja, seperti aku menikmati tiap detil dirimu. Aromamu, pelukanmu.” Hero melepas pelukan dan mencolek hidung Tika sembari tersenyum.

“Gak bisa, Ro. Aku ketakutan. Entah pada apa dan kenapa.” Tika lirih.

“Pada Takdir.Ya, kamu takut pada takdir. Padahal, takdir selalu berupa hal-hal  terbaik buatmu, sekalipun kamu tak menyikainya.” Hero menatap bola mata Tika dengan khidmat.

“Dengarkan, Tika sayang. Aku tak bisa menjanjikan kita akan selamanya bersama. Entah esok atau lusa aku akan mati, atau aku jatuh cinta pada wanita lain, atau aku menjadi amnesia. Aku tak tahu takdirku. Tapi bukankah takdir selalu mengalah pada doa? Pada pipi-pipi yang basah oleh air mata saat meminta? Berdoa sajalah atas apapun yang kamu mau. Ujarkan semuanya. Maka takdir akan berubah.

“Kamu tahu? Dalam diam aku selalu mendoakanmu. Mendoakan agar sekiranya Tuhan berkenan menjadikanmu denganku selamanya. Aku, sejujurnya, juga takut kamu pergi.” Hero membuat Tika diam seribu bahasa.

***

I can make the run or stumble,
I can make the final block;
And I can make every tackle, at the sound of the whistle,
I can make all the stadiums rock.
I can make tonight forever,
Or I can make it disappear by the dawn;
And I can make you every promise that has ever been made,
And I can make all your demons be gone.

But I’m never gonna make it without you,
Do you really want to see me crawl?
And I’m never gonna make it like you do,
Making love out of nothing at all.

Advertisements

Untitled

Kau tahu? Terkadang aku ingin meminjam sayap burung, lalu terbang hingga ke langit barat, lalu merangkaikan nama kita dengan cat warna jingga disana, lalu menikmati keindahannya pada suatu ketika yang penuh romansa, bersamamu.

Ada namaku dan namamu di langit, di ranah misterius yang hampir keseluruhan fenomenanya berujung pada ketidaktahuan manusia. Ada namaku dan namamu di langit, sebagai simbol kepastian cinta di antara ketidakpastian semesta.

Seindah kecintaan Elara pada Jupiter, atau Neptunus pada Titan, tahukah kau bahwasannya kecintaanku padamu melebihi kecintaanku pada garis senja? Senja yang kunamai dengan namamu, yang kemudian ketika ia hadir–dengan atau tanpa gemericik hujan atau sengatan hangat matahari, aku akan semakin saja mencintaimu.

Kau pernah mengatakan, dalam hidup ini, ‘saling mencintai’ sudahlah cukup membuat hidup kita bergembira. Karena saling mencintai berarti saling berkorban. Dan saling berkorban berarti saling memperjuangkan kebahagiaan. Kau perjuangkan kebahagiaanku, aku perjuangkan punyamu.

Katamu, Akan selalu ada pujian dari setiap pandangan orang-orang yang mencinta. Ada kerinduan dalam setiap lipatan jarak. Ada ruang kosong di sel-sela jemari kala tak berpegangan tangan. Ada kekhawatiran pada setiap jam pulang yang terlambat. Ada cemburu yang malu-malu dalam ritma hidup yang kian sesak oleh pekerjaan.

Kau tahu? Sudah sejak lama aku berhenti beritual: bergegas menuju garis pantai kala senja tiba, lalu duduk melipat lutut, lalu menengadah ke langit, lalu menyapa semesta, menyapa lembayung, menyapa sepotong matahari, menyapa jingga, menyapa awan-awan berbentuk mawar. Ya, aku menghentikannya setelah aku bertemu denganmu. Menatap wajahmu membuatku seribu kali lebih berbahagia. Maaf jika aku keterlaluan.

Ah, tak ada yang ingin kukatakan lagi, karna semenjak aku memelukmu, kutahu tak ada yang lebih hangat dari senja, kecuali kamu.

Bandung, 21 Januari 2014