Bukan Supernova

Kukira Tuhan tak akan keberatan untuk sesekali memperlambat atau bahkan
menghentikan waktu, beberapa jenak saja, demi mengizinkanku berleha-leha sembari
menikmati kisah yang terjaja, tanpa perlu tergesa-gesa atau dibayang-bayangi rasa
cemas akan ditinggalkan oleh waktu.

Ada momen-momen dimana aku begitu menginginkan detik membeku, zaman
menggantung, planet-planet berhenti mengorbit, sehingga diri ini bisa berlama-lama
bereuforia, mengenang, atau mungkin mengamati termin demi termin kehidupan yang
entah kenapa, kurasa kurang lama. Ya, jikalau saja Tuhan mempersilakanku tinggal
berlama-lama, maka pada momen inilah aku menginginkannya.

Seorang manusia mungil terpekur tidur dalam lelap. Mata memejam, kaki telentang
dengan dengan kedua tangan tertekuk 90 derajat sejajar kepala. Seperti
binaragawan yang sedang unjuk gigi saja. Semacam radiasi kosmik yang hampir
seluruhnya berupa partikel bermuatan positif, dia pun rasa-rasanya selalu
meradiasikan sesuatu yang positif, yang kemudian masuk ke dalam saripati darah dan
membuat keseluruhan energi positif diproduksi secara massive dalam tubuh. Hasilnya,
aku punya semilyaran alasan untuk bersemangat menjalani hidup hingga seribu tahun
lagi, karna dia.

Entahlah apa istilah ilmiah yang tepat untuk fenomena seperti ini. Ini semacam
primodialisme yang antah berantah. Secara magis aku tetiba saja begitu terpedaya
olehnya. Seolah medan magnet berpusat padanya. Aku tak lekas ingin berhenti
memandangnya, melindunginya, menyayanginya. Aku tak ingin dia terluka, meski
secuil. Ah, jatuh cinta macam apa ini? Sungguh tak terbayangkan, cintaku untuk dia
bisa sebesar dan sedalam samudera hindia, bahkan lebih-lebih.

Ada satu hal yang mencengangkanku, bahwa semakin dalam aku mencintainya, semakin
aku teringat seorang wanita yang pula mencintaiku sedalam itu: IBUKU. Ah ya,ibu.
Pernah dengar kisah supernova? Tentang pengorbanan heroik bintang-bintang di
antariksa demi terciptanya bintang baru. Ya, setidaknya begitu menurutku. Bintang
yang mengalami supernova akan melepaskan energi lalu meledak. Ledakan ini
meruntuhkan sebagian besar material dirinya dan melepaskan gelombang yang mampu
memusnahkan medium antarbintang. Gelombang ini menyebabkan terbentuknya
formasi bintang yang baru. Ya, bintang tua mengorbankan dirinya demi bintang-
bintang baru, itu sungguh luar biasa.

Kisah heroik supernova, meski tak sebanding, adalah perumpaan pengorbanan seorang
ibu. Meski sejatinya ia tak ada apa-apanya dibanding kisah heroik seluruh ibu di muka
bumi.

Ah, meski kini tahu rasanya jadi seorang ibu, ternyata aku tetap payah dalam
mendeskripsikan pengorbanan mereka. Selamat hari ibuuu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s