Just Nothing

image

“Many things happened through these days. And tonight, i really wish my ninja was here”

Advertisements

Juli

“Terlalu banyak yang ingin kukenang dan kulupakan dari kota ini. Dan tidaklah berlebihan jika kukatakan, aku rindu sekaligus mencaci.”

“Apa yang kau rindu? Apa yang kau benci?” Kau menurunkan koper dari mobil lantas menggusurnya menuju rumah dua tingkat di depan kita.

Kuhirup udara sore dengan perlahan. Aroma tanah, batu, dan dedaunan yang sama seperti dulu. “Aku tumbuh dan matang di kota ini. Aku merajut mimpi di kota ini hingga akhirnya aku mendapatkan apapun yang kurencanakan. Aku menjadi bangga pada diriku sendiri ketika aku berdiri disini. Seolah semesta kembali menghargaiku atas pencapaian-pencapaianku di masa lalu.”

Kau berhenti berjalan dan berbalik menujuku yang terpaku di samping mobil angkutan barang. “Lalu apa yang kau benci? Setahuku, kau tak pernah punya masa lalu yang buruk.”

“Kau benar. Hidupku baik-baik saja.”

“Lantas?”

“Ah iya, kau memang tak perlu memahami.” Ujarku sambil membuyarkan situasi yang mulai kaku. “Bagaimana jika kita mulai memasukkan barang ke dalam rumah?” Kau diam. Aku beranjak.

***

“Maafkan aku” kau meraih tanganku. Malam berangsur menggelap.

“Atas apa?” Ujarku. “Kau tak sedikitpun melukaiku.”

“Atas ini.” Kau menunjuk degup jantungku dan merasakannya. “Untuk hatimu yang tersakiti oleh masa laluku di kota ini.”

Aku berpaling. Enggan menunjukkan genangan air di bola mata. ” aku baik-baik saja.”

“Tidak. Kau sedang menangis. Kau selalu menangis atas ini.”

***

Aku merasa begitu bodoh. Tak bisa sama sekali berdamai dengan masa lalu. Aku berjalan mundur. Semua yang kupikirkan selalu kukaitkan dengan masa lalu. Selalu kutanyakan pada Tuhan, mengapa dulu begitu? Mengapa tak begini saja? Ah, aku tak berterima kasih pada Tuhan untuk urusan yang satu ini.

Awalnya kukira ini hanyalah masalahku dengan Tuhan. Lalu kau mengetahuinya, dan bagimu, ini ternyata lebih menyakitkan. Kau merasa terhakimi atas ini. Kau merasa menjadi orang dzalim karna apa-apa yang kau lakukan di masa lalu ternyata menyakitiku di masa kini. Ya, aku merasa sakit atas apa-apa yang menjadi masa lalumu… di kota ini. Meski masa lalumu itu tak ada hubungannya denganku. Bodohkan aku? Katakan saja, iya.

Tak adil sebenarnya, membebanimu dengan ini. Kau selalu meminta maaf padaku dan aku mengatakan ini bukan salahmu. Tapi aku sakit, kau pun sakit. Kita sama-sama sakit atas ini. Atas masa lalumu. Tapi aku tahu kau mencintaiku. Kau pun tahu aku mencintaimu. Tapi aku sakit, kau pun sakit. Atas masa lalu yang sepatutnya tak kulibatkan disini, dalam kisah kita ini.

Tunggulah besok, lusa..entahlah sampai kapan.. hingga aku benar-benar bisa menertawai diriku yang sekarang ini. Semoga kau bersabar.

Juli, wanita yang teramat mencintaimu.

Pagi

Pagi hari terkadang tak perlulah disambuti kicauan burung-burung nan bertengger di kabel tiang listrik itu. Tak perlu pula diembel-embeli tetesan embun bergelayutan di ujung daun jambu biji di sebelah rumah.Terkadang, ada bagusnya sesekali matahari bersembunyi di balik awan mendung sajalah sampai kebosanan. Dan langit itu, ya, langit di beranda rumah kita itu, tak usah pula berlagak manis dengan menjajakan siluet biru. Kelabu saja.Tak apa. Kubilang, tak apa!

Pagi hari yang kuingin, adalah bertemu denganmu di kali pertama aku membuka mata. Kubangunkan kau sambil terkantuk-kantuk, atau kau bangunkan aku, juga dengan terkantuk-kantuk. Aku mengekorimu dalam tiap gerakan sholat. Jika iman pasang, kita akan khidmat dan berlama-lama sholat, dan tatkala surut, aku akan merengek minta sebutir saja sholat witir. Ah, aku memang selalu merengek-rengek padamu, dan kau selalu baik padaku.

Pagi hari yang kuingin, adalah mendengar deklarasi darimu bahwa kau mulai merasa lapar. Dan satu porsi sarapan telah kusiapkan di hadapanmu. Kau dan aku makan seperti tak akan pernah ada lagi kesempatan untuk makan selain pagi itu. Ah, simpel kata, kita ini doyan makan!

Pagi hari yang kuingin, adalah memaksamu mandi pagi.
Pagi yang kuingin, adalah mengancingkan kemejamu lalu menyisir rambutmu.
Pagi yang kuingin, adalah memakaikan jaket dan helmmu lalu mengecup punggung tanganmu.
Pagi yang kuingin, aaah..cepat sajalah kau pulang dan memelukku!!!

#10 hari abinya dedebayi pelatihan