[Menikah Denganmu] Balada Cinta di Jakarta

Adakalanya cinta terasa lebih nikmat jika dicicipi dalam kondisi yang serba terbatas. Bukan lagi tentang duduk bersantai bersamamu sembari menonton pertandingan Persib, yang entah kenapa, meski selalu kalah, tetap saja aku membangga-banggakannya–yang kemudian kau balas dengan cibiran yang sejujurnya sangat kusetujui. Bukan pula tentang meyeruput air kelapa muda di sebuah warung kecil sebagai bentuk selebrasi atas keberhasilan kita membunuh kebosanan di hari Sabtu; makan junkfood, menonton bioskop, dan jalan-jalan seharian keliling kota.

Kali ini cinta terasa berbeda. Cinta adalah tentang kita yang tergesa-gesa, mengejar impian di Jakarta bahkan di saat pagi belum menyua. Cinta adalah ketika aku memaksamu bergegas mandi sebelum adzan fajar, dengan harapan kita bisa lebih dulu sampai di Jakarta. Cinta adalah ketika kau, yang dengan terkantuk-kantuk megigau manja, berharap aku mengizinkan kau tidur lima hingga sepuluh menit lebih lama–yang tentu saja kutanggapi dengan ucapan, tidak bisa!

Ya, ada cinta tatkala kita menerobos embun-embun dengan gerakan sporadik–errr, kita memang sepasang manusia yang akrab dengan sporaditas! Sesekali kau berkelakar nyaring, sengaja ingin membuatku lupa bahwa kau sedang memacu kendaraan lebih cepat dari biasanya. Ya, layaknya mahasiswa-mahasiswa jaman sekarang yang kian bahagia menyudutkan ulil amri, aku pun tidak merasa keberatan ketika harus protes acapkali kecepatan berkendaramu melebihi 45km/jam. “Ini bukan semacam adegan Death Race atau Fast and Farious! Ini hanyalah adegan kemesraan kita yang tak perlu dihiasi dengan sesi kebut-kebutan!” Begitu kataku. Dan kau pun memelankan laju.

Sesampainya di sebuah area dimana bis-bis berjejer sementara supir-supirnya sibuk menyesap rokok sambil bersiul-siul, tak bisa dipungkiri bahwa kita nyatanya terlambat! Sudah semenjak empat menit yang lalu bis menuju Jakarta melenggok meninggalkan kita. Dan penyesalan akibat keterlambatan itu, bagi sesiapapun, sungguhlah patut diekspresikan dalam sebuah ungkapan ‘hiks’. Namun nyatanya tidak bagi kita. Menunggu setengah jam di halte, sambil terkantuk-kantuk, kedinginan, kelaparan, adalah sensasi cinta tersendiri. Kita pun menertawai satu sama lain.

Sesampainya di Jakarta, kita bergegas. Makan, sholat, dan apapun pergerakan yang kita lakukan, selalu saja bernuansa ketergesa-gesaan. Beginikah rasanya kehidupan di Jakarta? Atau memang inilah harga yang harus dibayar untuk menebus satu buah mimpi? Entahlah. Yang jelas, tak ada kesempatan berselonjor kaki sambil memainkan gadget! Tapi aku menikmatinya.

Kemudian…

“Gilang Ramadhan”
Giliran namamu dipanggil oleh entahlah siapa mereka itu. Kau sudah harus masuk ballroom dan meninggalkan aku. Dalam ketergesaan dan kekikukkan, kau tak lupa mengulurkan tangan lalu aku mengecupnya, yang membuat bebeberapa rivalmu, –manusia-manusia yang jua memperjuangkan hal yang sama denganmu, sebut saja begitu, melirikku dengan variasi siluet wajah menggelikan. Ada yang berekspresi ‘so sweet’, ‘apasih’, ‘oh’, ‘i dont care’, ‘gue juga bisa’, ‘eh ada apa sih tadi?’ dan lain-lain.

Katamu, ” Doakan abang pas adek sholat ashar ya” kau pun menyelinap di antara daun pintu yang kemudian ditutup rapat. Aku beranjak ke mushola, bersujud, berdoa, bersujud lagi, berdoa lagi. Ah, aku merasa bermanuver dengan cepat. Tuhan seolah duduk menungguiku dengan khidmat.

Selama kau bersama mereka, aku tak henti-hentinya berspekulasi. Kadang aku membayangkan mereka menyakiti hatimu, sehingga akupun cemas. Kadang pula aku membayangkan mereka memujimu, dan itu membuatku berbunga-bunga. Ah, sedang diapakan sebenarnya kau di dalam sana, sayang? Semoga ketika semuanya usai, jiwa ragamu masih lengkap sehendaknya semula, lirihku.

Lantas senja memulai jam kerjanya. Mataharipun hampir luput di barat langit. Dominasi jingga menjadi latar langkah kita yang kembali tergesa-gesa. Sambil membelah jalanan yang disesaki pengendara, kau menggenggam tanganku kencang, dan dengan mengerahkan seluruh tenaga, kita mengejar bis pulang.

Sebagai wanita yang, hmm, katakanlah belum pernah menjelajah Jakarta, terlebih dalam kondisi hamil, tentu saja aku begitu menikmati semua kondisi yang disuguhkan ibukota. Sensasi cinta yang tak biasaaa! Rasanya begitu takjub ketika menyaksikan kau berusaha menjagaku tiap detik. Kau akan terlihat gusar dan cemas ketika aku kepanasan, kelelahan, berkeringat, terkena debu, pegal-pegal, encok, dan keluhan lainnya. Sebisa mungkin kau akan menghindarkanku dari ketidaknyamanan. Kau, sungguh lelaki istimewa.

Kini kita menghempaskan diri yang lelah di sebuah ruang persegi, yang di dalamnya berkembang aroma-aroma kenyamanan: rumah. Telah selesai urusan kita dengan kota Jakarta. Telah selesai pula urusan kita dengan ketergesa-gesaan. Satu hal saja yang menjadi kesanku atas safari kita kali ini, bahwa ternyata bahagia selalu menyertaiku dimanapun, kapanpun, dalam kondisi apapun, asalkan kujalani itu bersamamu.

I love you😉

One thought on “[Menikah Denganmu] Balada Cinta di Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s