Dua Lima

Sudah sejak lama kuhentikan mengharapkan sesuatu yang tak kau punya dan sudah sejak lama pula kuterima semua hal yang menjadi bagianmu. I love you. (18 Mei 2013)–

“Terima kasih,” pada kedipan mata yang kedua kau mengucapnya. Senyumku mengembang tiga jari, lalu aku beranjak ke dapur, membuatkan teh hangat tanpa gula, secangkir saja. Kau mulai menghabiskan sarapan buatanku, tanpa memerlukan balasan kata atas terima kasihmu itu. Ya, ini sudah biasa terjadi di pagi hari. Kuhidangkan makanan lalu kau berterima kasih. Dan senyumku di setiap pagi, adalah tingkah laku yang lebih bermakna dari sekedar kata “kembali kasih.” Begitu katamu.

Aku berbahagia. Tuhan telah menciptakan makhluk sepertimu, yang slalu berterima kasih padaku, atas apapun, sekecil apapun. Saat kusiapkan baju untuk ke kantor, kau berterima kasih. Kusisirkan rambut dan kukancingkan kemejamu, lagi-lagi kau berterima kasih. Dan ketika kulepas keberangkatanmu dengan ucapan doa atas pekerjaanmu hari itu, kau tetap saja berterima kasih. Kau.. selaluuu saja berterima kasih! Ini membuatku malu. Sungguh tak ada apa-apanya perlakuanku dibanding perlakuanmu padaku. Ah, aku hanya mampu berbakti sekecil itu. Maafkan aku.

Kau sudah genap dua puluh lima tahun, sayang. Dan diantara keindahan urusan dunia, bagi kita, doa adalah kosakata paling megah. Doa mengubah fantasi menjadi nyata. Doa mengubah keinginan menjadi peristiwa-peristiwa kenyataan.

Mari tidur di pangkuanku malam ini, seperti malam yang sudah-sudah. Akan kembali kubelai helai rambutmu. Akan kembali kupijat dahimu yang kelelahan. Dan ketika kau mulai lelap, aku akan mulai berbicara pada Tuhan.

“Tuhan.
Kau lebih tahu dari aku, bahwa laki-laki ini mencintaiku karena Engkau, serta menjamin hidupku dan keturunanku atas izin Engkau. Maka cintai dia, dan perintahkan seluruh alam raya ini mencintainya. Mudahkan cita-citanya. Jadikanlah ia imamku yang bertakwa, yang istimewa.”

Dan doa-doa lainnya akan kupanjatkan secara pribadi saja pada Tuhan: tentang mimpi-mimpi yang gemar kau celotehkan padaku, tentang anak-anak kita yang kau inginkan keberkahan tersemat di nasib-nasib mereka kelak, tentang apapun hal baik yang kuinginkan Tuhan memberikannya padamu–tanpa seekor semut pun berhak mendengarnya.

Ah, sayang..saat aku menulis ini, usiamu telah benar-benar genap dua puluh lima. Dan pada tiap-tiap sisa usiamu *meski kelak uban-ubanmu bahkan sudah rontok, punggung persegimu mulai gontai, perutmu buncit, otot-otot lenganmu keriput, dan bahkan kau sudah sulit sekali mengingat nama buyut-buyutmu* aku selalu ingin ada disana, menyaksikan tingkah lakumu lalu mengomelimu yang masih saja manja padaku: meminta aku membelai rambutmu saat kau menonton tv sepulang kerja.

Aku kehabisan kata-kata, dan ketika aku mulai kebingungan atas ide-ide cerita yang tak kunjung tiba, kembali kau mengatakan padaku, “Senyummu, bagiku, adalah tingkah laku yang paling bermakna. Tersenyum sajalah, maka duniaku seketika akan menjadi indah.”

I could bottled the smell of the wet land after the rain
I’d make it a perfume and send it to your house
If one in a million stars suddenly will hit satellite
I’ll pick some pieces, they’ll be on your way

In a far land across
You’re standing at the sea
Then the wind blows the scent
And that little star will there to guide me

If only I could find my way to the ocean
I’m already there with you
If somewhere down the line we will never get to meet
I’ll always wait for you after the rain

(After the Rain, Adithya Sofyan)

image

Kue surprise ultah ke25

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s