Luka

Kau membunuhku. Dengan kalimatmu. Dan itu membuatku hampir mati dalam penyesalan.

Kukira, menyakitimu tak akan membuatku semelarat ini. Ini semacam rasa sesal, dan aku, secara kronis, benar-benar mengutuk diriku sendiri. Melihat awan hitam bergumul di bola matamu saat meminta maafku–tanpa secuilpun kau peduli bahwa akulah penjahatnya, itu membuatku sekarat.

Astaga. Telah sejak lama aku membuatmu lelah. Membuat tidurmu tak nyenyak. Membuat telingamu membusuk mendengar betapa berisiknya pelikku. Aku kian terpuruk. Berjuta rasa sesal mulai meracuni aliran darah, menyebabkan nyeri tak berperi di ulu hati, dan kutanggapi dengan sikap depresi yang serius. Ah, kukira ini bisa selesai hanya dengan meneguk secangkir kopi, namun kenyataannya tidak?

Kau tahu? Aku tersiksa karna menyiksamu. Aku juga terluka karna melukaimu. Relasi ini sepertinya mulai menuju pada sebuah titik balik yang saling meniadakan, padahal aku, dan juga kau, telah sejak lama mengharapkan penambahan nilai atas ini. Maka sebagai pelakon antagonis–yang mengambil andil besar atas hubungan yang sakit ini, sudah sepatutnya aku tenggelam dalam penyesalan.

Kemarin aku membisikkkan maaf di telingamu. Katamu, “Jauh sebelum kau memintanya, aku selalu saja telah memaafkanmu.” Ah, aku benar-benar mati lantaran kalimatmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s