Manusia Masa Lalu

Aku adalah manusia yang percaya bahwa hidup harus diselesaikan tanpa menyertakan masa lalu. Bagiku, masa lalu adalah masa yang sejatinya takkan pernah berubah, segiat apapun aku berusaha mengubahnya. Dan pergumulan dengan masa lalu, menurutku adalah hal bodoh yang hanya dilakukan oleh manusia-manusia yang berjalan mundur, yang titik awal kehidupannya adalah tujuan hidupnya, yang masa depannya ditinggalkan.  Mereka acapkali kusebut sebagai manusia tertinggal.

Manusia tertinggal, dalam imajinasiku, adalah spesies manusia paling purba, yang meski hidup di zaman modern namun memiliki daya pikir rendah, tertinggal. Mereka merasa puas hanya dengan menjelajahi kesuksesan di masa lalu. Mereka mengutuk kegagalan di masa lalu. Mereka lupa bahwa ada masa setelah masa kini, yang harus disiapkan dengan kegigihan yang nyata. Tanpa fantasi, tanpa khayal tentang masa lalu. Dan bagiku, seburuk-buruk manusia spesies ini adalah mereka yang terkungkung bukan hanya dalam masa lalunya sendiri, melainkan juga dalam masa lalu orang lain.

Advertisements

Luka

Kau membunuhku. Dengan kalimatmu. Dan itu membuatku hampir mati dalam penyesalan.

Kukira, menyakitimu tak akan membuatku semelarat ini. Ini semacam rasa sesal, dan aku, secara kronis, benar-benar mengutuk diriku sendiri. Melihat awan hitam bergumul di bola matamu saat meminta maafku–tanpa secuilpun kau peduli bahwa akulah penjahatnya, itu membuatku sekarat.

Astaga. Telah sejak lama aku membuatmu lelah. Membuat tidurmu tak nyenyak. Membuat telingamu membusuk mendengar betapa berisiknya pelikku. Aku kian terpuruk. Berjuta rasa sesal mulai meracuni aliran darah, menyebabkan nyeri tak berperi di ulu hati, dan kutanggapi dengan sikap depresi yang serius. Ah, kukira ini bisa selesai hanya dengan meneguk secangkir kopi, namun kenyataannya tidak?

Kau tahu? Aku tersiksa karna menyiksamu. Aku juga terluka karna melukaimu. Relasi ini sepertinya mulai menuju pada sebuah titik balik yang saling meniadakan, padahal aku, dan juga kau, telah sejak lama mengharapkan penambahan nilai atas ini. Maka sebagai pelakon antagonis–yang mengambil andil besar atas hubungan yang sakit ini, sudah sepatutnya aku tenggelam dalam penyesalan.

Kemarin aku membisikkkan maaf di telingamu. Katamu, “Jauh sebelum kau memintanya, aku selalu saja telah memaafkanmu.” Ah, aku benar-benar mati lantaran kalimatmu.