[Menikah Denganmu] Hadiah

Merasa sangat tidak ingin melewatkan moment-moment cantik yang saya lalui bersama suami di tahun pertama pernikahan–sayang jika tidak diabadikan dalam foto, video, dan tulisan. Di saat pertama ia kali duduk di samping saya, saat pertama kali ia mengajak mengangkasa menuju kota kelahirannya, saat pertama kali ia cemburu, marah, menangis. Saat ia tertawa, tidur, makan, dan lain sebagainya. Ya, moment-moment indah itu akan selalu saya abadikan di hati, mata, dan tulisan.

Baru saja kemarin, saat saya duduk di sampingnya di suatu malam yang tenang, ia, suami saya, tiba-tiba saja bercerita tentang perasaannya saat pertama kali bertaaruf dengan saya (kami sedang menonton Just Alvin edisi Ainun Habibie). Beliau tiba-tiba saja berkata, “Dek, abang tuh dulu meminta istri yang sholehah aja lhoo sama Allah.” saya mengerutkan dahi. “Lalu?”

“Dan jika pun ternyata diberi yang cantik, itu abang anggap sebagai hadiah.” ia memandang saya. “Dan tahukan adek? Allah ternyata benar-benar memberikan hadiah itu.” Saya tersenyum. “Kalau Ainun itu gula pasir, adek adalah gula kristal.” ia mengusap kepala saya.

Saya mencubit pipinya, “Oke, mulai lagi deh gombalnya.”

“Seriusan!” ia mengangkat dua jari, mengisyaratkan kata ‘swear’. Suara malam pun menjadi tersayup romantis. Kami larut kembali menonton kisah Habibie Ainun dengan perasaan yang ranum.

Wanita suka digombali, dan laki-laki yang baik pasti bisa melakukan itu. Mengapa? Karna Rasulullah pun melakukannya pada Khadijah, pada Aisyah. Dan jika Rasulullah adalah suami terbaik di dunia, maka bagi saya, seorang Gilang Ramadhan adalah yang kedua. Terkadang saya merasa amazing karna ia bisa menjadi begitu sabar, ia bisa menjadi sangat bijaksana, ia bisa menjadi begitu arif. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, ia memang diciptakan untuk melengkapi saya. Ya, saya mencintainya karena Allah.

Ia selalu mengatakan bahwa ia beruntung mendapatkan saya. Tidak, seribu kali saya katakan tidak. Sayalah yang beruntung. Ia laki-laki terbaik yang hidup di bawah naungan keridhaan ibunya. Ia laki-laki yang berjalan di antara keikhlasan hati ibunya. Adakah yang lebih baik dibanding laki-laki yang tak pernah menyakiti hati sang ibu? Ah, saya sungguh beruntung.

Teringat saya pada suatu malam,

“Jangan lihat ya,” ia memeluk dari belakang sambil menutup mata saya. Lalu perlahan menuntun ke daun pintu ruang tidur di rumah kami. Seingat saya, malam itu adalah malam kelima di awal tahun ini. Dan saya yang baru saja usai dengan setumpuk tugas perkuliahan di luar kota, saya merasa begitu bahagia mendapati ia telah menyiapkan kejutan.

“Apa kabar sayang? Apa kabar rumah kita?” setelah seminggu meninggalkan rumah, saya begitu rindu. Ia tetap diam. Hanya sentuhan telapaknya yang menutupi mata saya sajalah yang berisyarat, “abang akan menunjukkan sesuatu.”

“Sekarang buka mata,” ia meminta. Sebuah hadiah warna merah tergeletak di kasur. Hadiah pertama yang ia berikan di tahun ini.

“Hadiah ini abang berikan supaya adek bisa nulis kapanpun dan dimanapun adek mau,” ia menatap saya begitu dalam, membuat bergetar seluruh bagian tubuh saya.

Hadiah. Esensinya terletak bukan pada seindah dan semahal apa ia, melainkan pada ketulusan hati pemberinya, pada kenangan yang terselip diantaranya, dan pada cinta yang tersirat atasnya. Dan hadiah darinya malam itu, menunjukkan betapa ia ingin membahagiakan saya.

“Adek juga punya hadiah untuk abang,” saya mengeluarkan dus kotak berisi dompet cokelat. “Dompet yang lama dibuang ya. udah jelek.” ia lalu memeluk erat. Kami pun saling bertatapan, bertukar rasa.

Ia selalu mengatakan, mencintailah karena Allah. Lakukanlah semua pekerjaan karena Allah. Karna memang hanya Allah saja yang bisa membalas. Termasuk tentang rasa cinta kami berdua, libatkan Allah di dalamnya.

Terima kasih, Cinta🙂

3 thoughts on “[Menikah Denganmu] Hadiah

  1. Uciiiiiii. kalo lg gada yg dicari, komputer kantor aku pake bwt baca blog2 uciiiii. keren bangettt. uci pinter nulis. kisah2 nya inspiratif, dan kdg akuu jd ngeliyat diri akuu, ap akuu bs kyk ucii. heuuu. uciiiiiii kangennnnnn :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s