[Menikah Denganmu] Hadiah

Merasa sangat tidak ingin melewatkan moment-moment cantik yang saya lalui bersama suami di tahun pertama pernikahan–sayang jika tidak diabadikan dalam foto, video, dan tulisan. Di saat pertama ia kali duduk di samping saya, saat pertama kali ia mengajak mengangkasa menuju kota kelahirannya, saat pertama kali ia cemburu, marah, menangis. Saat ia tertawa, tidur, makan, dan lain sebagainya. Ya, moment-moment indah itu akan selalu saya abadikan di hati, mata, dan tulisan.

Baru saja kemarin, saat saya duduk di sampingnya di suatu malam yang tenang, ia, suami saya, tiba-tiba saja bercerita tentang perasaannya saat pertama kali bertaaruf dengan saya (kami sedang menonton Just Alvin edisi Ainun Habibie). Beliau tiba-tiba saja berkata, “Dek, abang tuh dulu meminta istri yang sholehah aja lhoo sama Allah.” saya mengerutkan dahi. “Lalu?”

“Dan jika pun ternyata diberi yang cantik, itu abang anggap sebagai hadiah.” ia memandang saya. “Dan tahukan adek? Allah ternyata benar-benar memberikan hadiah itu.” Saya tersenyum. “Kalau Ainun itu gula pasir, adek adalah gula kristal.” ia mengusap kepala saya. Continue reading

Advertisements