Sepi dan Kita

“Tentu aku ingin kluar dari kondisi brengsek ini. Ketika harus meninggalkanmu seorang diri, aku
merasa bodoh dan tak berdaya. Tapi aku bisa apa?” katamu.

“Bagaimana jika kita anggap saja ini romantika. Agar ketika aku kembali, aku, dan juga kau, akan merasakan rindu yg membuncah.” katamu lagi.

“Tapi aku sepi. Aku tak suka sepi…” aku menolak teorimu. Kau menarik nafas.

“Kau pikir aku tak sepi? Aku pun sepi. Tersiksa.
Kau tahu apa yg membuatku tersiksa?” suaramu rendah.

“Aku tersiksa melihatmu sepi…” kau menunduk.

“Kau pikir aku baik-baik saja sementara wanita yang paling ingin kubahagiakan merasa sepi?”katamu, lemah.

“Aku suamimu. Aku mau menghabiskan
seluruh waktuku denganmu. Tapi aku harus menafkahimu, Cinta… Maka ringankanlah beban kepergianku dengan kesabaranmu. Agar aku bisa berkarya dengan lebih perkasa di luar sana. Demi kamu.”

aku terdiam.

“Deal?” kau mengangkat kelingking untuk dipautkan di kelingkingku.

“Maafkan aku yang masih kekanakan.” kusambut tanganmu.

“Tak apa. Aku suka.” kau pun terlihat sangat tampan dengan sesungging senyuman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s