Sempurna

“Ini untukmu.”

Sebuket rosa merah kini tergeletak manis di meja kerjaku. Kartu ucapan warna putih tersembul kontras di antaranya. Kupungut, kubaca, lalu aku meleleh membaca kata-kata cinta. “Terima kasih.” kukecup keningnya.

“Aku masih punya kejutan untukmu.” ia mengeluarkan sebuah kotak dari kantong celananya. “Semoga kau selalu bahagia.” ia membuka kotak mungil itu dan menunjukkannya padaku. Sebuah pahatan kayu berbentuk kupu-kupu warna coklat. Namaku terukir di salah satu sayapnya. Aku memeluk laki-laki itu dengan pelukan terhangat yang aku bisa.

Dia memang begitu. Sejak dua puluh satu tahun yang lalu, dia selalu begitu. Membawakanku bunga dan sekotak barang di hari ulang tahunku. Tak peduli sakit, tak punya uang, atau tak punya waktu. Lihat saja, meja kerjaku kini dipenuhi benda-benda mungil pemberiannya, yang pada tiap-tiap kemungilannya, justru tersemburat kisah cinta yang besar.

Sempat aku menanyakan padanya, mengapa ia tak melakukan ini di hari ulang tahun pernikahan kami saja. Lebih tepat untuk dirayakan berdua, menurutku.

“Ulang tahun pernikahan?” retoris pertanyaannya.

“Setiap hari kita merayakannya, bukan? Saat pagi-pagi kau membangunkanku sembari mengecup keningku yang berkerut-kerut, lalu kau menyiapkan sarapan terlezat untuk kucicipi, lalu kau menyiapkan jas kerjaku, lalu kau melambaikan tangan di daun pintu saat aku bergegas, lalu kau mengirim pesan cinta di tengah kesibukanku, lalu kau menyambut kepulanganku dengan sesungging senyum beroleskan lipstik merah muda, lalu kau menyodorkan teh hangat yang aromanya menggoda barisan bulu hidungku, lalu kau menemaniku bersantai di depan tivi hingga kita tertidur, lalu kau terbangun di pagi hari dengan perbuatan yang sama yang tak kau gerutui. Bagiku, itulah perayaan cinta terbesar, dan kita merayakannya setiap hari. Ya, setiap hari, CInta.”

Begitulah ia. Sejak dua puluh satu tahun yang lalu, dia memang slalu begitu. Pernah suatu ketika, tepat di hari ulang tahunku yang ke-30, ia pulang sangat larut. Aku yang  telah siap dengan gaun hitam sebetis, polesan merah muda di bibir, rambut hasil blow, dan kalung  platina di dada, aku menunggunya di depan pintu rumah dengan suntuk dan kecewa. Kupikir ia lupa dan memilih kerja lembur. Tapi nyatanya, ia sengaja pulang kantor lebih awal dan keliling kota sampai larut malam demi membelikan jam tangan yang diam-diam kusimpan fotonya dalam handphoneku. Ia tak banyak bicara, tapi ialah yang paling bisa memahami hatiku. Ia, suamiku.

Kini aku menatapnya dengan tatapan cinta yang tak pernah sedetikpun ingin kuubah. Meski ia, aku, dan dunia telah menua, tapi cinta kami tidak.

“Aku mencintaimu,” kudekap ia sekali lagi. Ia mengusap ubun-ubunku.

“Aku pamit, Cinta.” ujarnya.

“Maaf karna kau harus menanggung beban yang seharusnya ada di pundakku.” matanya menerawangi ruang kerjaku. Ia lalu meraih roda di kursinya dan mulai mengayuh. Kutatap punggung perseginya yang ditopang kursi roda. Punggung itu… punggung yang menyamankan jiwa ragaku. Punggung yang berpeluh demi nafkahku. Punggung yang kini lunglai kesakitan, renta. Punggung yang seharian ini, kutahu, dipaksakan untuk memahat kupu-kupu kecil yang kugenggam.

——————end—————–

Huwaaa, ngebaca ulang tulisan sendiri kok malah terharu ya? *ambiltisu*. Cerpen ini sebenernya sih lebih ke “harapan/cita-cita” aja. Ya, saya pengen punya kisah cinta yang everlasting hingga akhir hayat. Meski sebenernya jangan sampai deh suami saya sakit dan mesti duduk di kursi roda kayak di cerita di atas. hehe. aamiin.

Menurut saya, tiap suami punya caranya sendiri dalam mencintai istrinya. Seperti halnya suami saya. Beliau lebih sering guyon daripada romantis-romantisan. Malahan justru saya yang biasanya romantis (nulis puisi dan lain-lain). hehe. Romantisme ala suami saya sih kayak gini:

saya: abang, boleh gak adek jadi pager ayu di nikahan temen?
suami: Gak boleh ah. Adek kan harusnya jadi pager super ayu :)
saya: -__-

Pernah juga suatu ketika suami saya pulang dari kantor dengan menjinjing kantong hitam. “Ini pisang buat adek.” katanya dengan muka polos. Pisang ya? hoho, kirain bawa bunga.hihihi. Trus trus besoknya suami saya pulang bawa pisang lagi. Saya pun makin tersenyum. Suami saya punya cara sendiri untuk membahagiakan saya🙂

Oya, pernah juga suami saya pulang dari ITC BSD dengan membawa oleh-oleh berupa: kaos kaki dan CD software pengelolaan apotek. Wah, saya sangat terharu sekaligus geli. Saya sendiri gak kepikiran untuk beli CD itu. Kyaaa kyaaa, suami saya memang keyen😀

Ya, seperti apapun suami saya, apapun kekurangannya, apapun ketidakbisaannya, saya slalu percaya bahwa dia adalah laki-laki tersempurna yang Allah hadirkan untuk menyempurnakan lahir batin saya.

I love you, my man.

Hari ini, besok, selamanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s