[Menikah Denganmu] Sebuah Roman

Dengan sejuta bunga bermekar dalam jiwa, kukatakan bahwa semenjak hari ini, hari esok, dan hingga sejauh apapun masa yang mampu kulalui, aku akan tetap begini: menunggui kemunculanmu di lembar daun pintu, lalu menyambutmu dengan sebuah pelukan sangat erat–seerat rindu, lalu kulekatkan telingaku padamu, dan kudengarkan kejernihan degup jantung yang terselip di antara rusuk-rusuk yang bersamurai, lalu kudengarkan lagi… lagi… hingga sampai pada sebuah waktu dimana kau akan berbisik di nafasku, “Kau suka suara jantungku?”

Aku memejam mata. Orang bilang, bahagia terasa saat mata terpejam. Bagiku, bahagia adalah keharumanmu, yang ketika mataku terpejam, ia terasa seribu kali lebih harum dibanding miski.

“Kau suka?” tanyamu lagi. Aku membuka mata. “Ya, aku suka suara jantungmu.” Kau tak lagi bertanya mengapa, karna dari hati ke hati, kita telah lama tahu… bahwa jantung adalah kehidupan, dan jantungmu adalah kehidupanmu, yang ketika ia berdegup, itu berarti kau hidup. Ya, aku mau kau slalu hidup.

Pernah kau tertawa, “Secemas itukah kau tentang hidupku?”

Hey, entah kau lupa atau tak tahu, wanita memanglah selalu cemas. Dan laki-lakilah yang paling bisa membuatnya cemas. Kau, laki-laki yang di hadapan Tuhan telah mengikat janji untuk membersamaiku seumur waktu, tentu saja kau lebih kucemaskan dibanding apapun.

Lalu dalam diam, sebuah bisik lembut menyelinapi telingaku. Katamu, “Ingatlah. Aku tak abadi. Suatu hari nanti aku akan mati.” Ah, kau. Lagi-lagi kau lupa atau tak tahu? Cintaku bukan cinta buta. Cintaku diperantarai Tuhan. Dia yang mengemudi, sementara aku hanya  jundi yang harus siap dibawa kemana saja. Lihat? Kau memang sangat kucintai, tapi kau bukan segalanya.

Tidak. Aku tidak sedang mungulas kematian. Aku hanya ingin meyakinkanmu dan juga hatiku, bahwa tali cinta yang sedang kita rajut ini benar. Sesuai kadarnya. Tak ada pembangkangan pada Tuhan. Bukan begitu?

Ini sebuah roman. Dan degup jantungmu adalah topik renyah yang selalu bisa kubincangkan di sore hari. Tentang kehidupan, tentang cinta. Beruntung, suara jantungmu bisa kunikmati setiap hari.

Ya Tuhan, begitu manis rasanya menyadari bahwa aku bersamamu. Kau bilang, “Terima kasih, kau mau hidup denganku.” Aku tersenyum. Siapa yang tak mau menjalani hidup secerah pelangi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s