Sempurna

“Ini untukmu.”

Sebuket rosa merah kini tergeletak manis di meja kerjaku. Kartu ucapan warna putih tersembul kontras di antaranya. Kupungut, kubaca, lalu aku meleleh membaca kata-kata cinta. “Terima kasih.” kukecup keningnya.

“Aku masih punya kejutan untukmu.” ia mengeluarkan sebuah kotak dari kantong celananya. “Semoga kau selalu bahagia.” ia membuka kotak mungil itu dan menunjukkannya padaku. Sebuah pahatan kayu berbentuk kupu-kupu warna coklat. Namaku terukir di salah satu sayapnya. Aku memeluk laki-laki itu dengan pelukan terhangat yang aku bisa. Continue reading

Sepi dan Kita

“Tentu aku ingin kluar dari kondisi brengsek ini. Ketika harus meninggalkanmu seorang diri, aku
merasa bodoh dan tak berdaya. Tapi aku bisa apa?” katamu.

“Bagaimana jika kita anggap saja ini romantika. Agar ketika aku kembali, aku, dan juga kau, akan merasakan rindu yg membuncah.” katamu lagi.

“Tapi aku sepi. Aku tak suka sepi…” aku menolak teorimu. Kau menarik nafas.

“Kau pikir aku tak sepi? Aku pun sepi. Tersiksa.
Kau tahu apa yg membuatku tersiksa?” suaramu rendah.

“Aku tersiksa melihatmu sepi…” kau menunduk.

“Kau pikir aku baik-baik saja sementara wanita yang paling ingin kubahagiakan merasa sepi?”katamu, lemah.

“Aku suamimu. Aku mau menghabiskan
seluruh waktuku denganmu. Tapi aku harus menafkahimu, Cinta… Maka ringankanlah beban kepergianku dengan kesabaranmu. Agar aku bisa berkarya dengan lebih perkasa di luar sana. Demi kamu.”

aku terdiam.

“Deal?” kau mengangkat kelingking untuk dipautkan di kelingkingku.

“Maafkan aku yang masih kekanakan.” kusambut tanganmu.

“Tak apa. Aku suka.” kau pun terlihat sangat tampan dengan sesungging senyuman.

[Menikah Denganmu] Sebuah Roman

Dengan sejuta bunga bermekar dalam jiwa, kukatakan bahwa semenjak hari ini, hari esok, dan hingga sejauh apapun masa yang mampu kulalui, aku akan tetap begini: menunggui kemunculanmu di lembar daun pintu, lalu menyambutmu dengan sebuah pelukan sangat erat–seerat rindu, lalu kulekatkan telingaku padamu, dan kudengarkan kejernihan degup jantung yang terselip di antara rusuk-rusuk yang bersamurai, lalu kudengarkan lagi… lagi… hingga sampai pada sebuah waktu dimana kau akan berbisik di nafasku, “Kau suka suara jantungku?” Continue reading