Inilah, Bagaimana Ibu Mendidik Saya

Tentang ibu saya.

Beliau, wanita cantik dengan empat anak. Dua laki-laki, dua perempuan. Beliau adalah putri bungsu dari Aki Muhsin (alm) dan Enin Epon Rohmah. Ya, sebut saja ibu saya berasal dari kalangan tokoh besar agama di daerah saya. Keluarga saya punya beberapa pesantren di beberapa kota.

Ibu saya dibesarkan dalam lingkungan pesantren salafiyah yang kental, dimana tiap hari ia bergaul dengan puluhan ustadz-ustadzah yang tengah mencari ilmu, sehingga, sudah barang tentu ibu saya ini akrab dengan yang namanya pendidikan agama –apalagi kakek saya tergolong ulama yang sangat menomorsatukan pendidikan agama. Dengan latar belakang tersebutlah ibu saya kemudian mendidik anak-anaknya.

Meski hidup di pesantren konvensional, Ibu saya disekolahkan di sekolah umum. Tujuan kakek saya waktu itu adalah agar ibu saya melek dunia luar. Hal itu pulalah yang membuat ibu saya prefer menyekolahkan anak-anaknya di sekolah umum –sembari tetap dibekali ilmu agama.

Karna ibu saya adalah seorang guru, maka beliau sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Hingga pada akhirnya anak-anaknya jebol ke universitas-universitas terbaik di Indonesia. Hm, sedikit saya rinci tentang keempat anaknya sebagai berikut: Pertama, kakak saya. Nganti namanya. Sejak SD sampai SMA selalu rangking 1; Jadi juara umum di SMA cluster 1 di Bandung, SMA 2 Bandung; Kuliah di Program Studi Kimia ITB; kerja sebagai RnD di Wardah Cosmetics; menikah dengan Mas Wisa, dari ITB juga.

Kedua, saya. Riwayat pendidikan idem dengan kakak saya; Kuliah di Farmasi ITB; menikah dengan cowok shaleh dan sangat cerdas, Abang Gilang Ramadhan, dari ITB juga. Ketiga, adik cowok, Hafy namanya. Cerdas, sangat cerdas malah; slalu rangking 1 sejak SD sampe SMP; Slalu rangkin 1 atau 2 di SMA terbaik di Bandung, SMA 3 Bandung; anak olimpiade fisika, Kuliah di Teknik Elektro ITB; sering juara lomba.

Terakhir, si bungsu, Bagea namanya. Sejak SD-SMP slalu rangking 1; sangat cerdas dan punya wawasan luas; juara siswa berprestasi dan olimpiade fisika; sekolah di SMA 1 Bandung; sekarang kuliah di akuntasi vokasi UI.

Ya, itu anak-anak ibu saya. Melihat prestasi anaknya yang cukup ‘wah’, ibu saya seringkali dihujani pujian. “Bu, kok anaknya pintar semua?” atau “Bu, anaknya nambah lagi aja biar makin banyak yang pinter dan sholeh.” Seringkali ibu saya sendiri bilang, “Tak ada yang lebih membanggakan selain mempunyai anak-anak sehebat kalian.” yaa, dalam hati saya juga sering berharap punya anak-anak yang mulus seperti anak-anaknya ibu.

“Apa sih Bu rahasianya biar punya anak yang pinter dan sholeh?” Ibu saya mungkin sudah bosan mendengar pertanyaan teman-temannya itu. Dan tiap kali itu juga saya mendengar jawaban yang sama dari ibu, “Itu kehendak Allah. Saya hanya berusaha mengenalkan agama islam pada mereka. Saya juga menjaga makanan dan pakaiannya dari yang najis dan tidak halal.“Teman-teman ibu pun mengangguk kagum.

Ya, ibu saya memang begitu. Beliau memang sangat lembut, tapi ketika dihadapkan dengan urusan menuntut ilmu agama, atau tentang hal-hal najis dan haram, ibu saya akan berubah menjadi Ibu darting (darah tinggi) –itu julukan saya sewaktu kecil.hihi. Ya, beliau tak main-main tentang dua perkara ini.

Percaya atau tidak, dulu, sebelum mencapai akil baligh, saya adalah anak yang sangat malas melaksanakan sholat dan shaum. Tahukah apa yang ibu lakukan? Ibu tidak memaksakan. Beliau hanya memberi satu syarat, saya gak boleh bolos sekolah agama sehabis pulang sekolah. Itu saja. Adapun saya, saya yang notabene senang bermain malah kegirangan dan senang karna bisa bertemu teman-teman disana.

Usut punya usut, setelah saya tumbuh dewasa, saya pun mulai mengerti maksud ibu. Melalui belajar Aqidah&Akhlak tiap subuh bersama ibu, dan tiap sore serta malam di rumahnya ustadz Ade, secara tidak langsung ibu ingin menegur saya. Ibu ingin mengenalkan Allah pada saya. Ibu ingin mengatakan bahwa saya harus sholat dan shaum agar Allah tidak murka, tentunya dengan cara yang brilian, menurut saya.

Ya, ibu memang tidak mendoktrin ini itu, tidak melarang ini itu, beliau membebaskan saya. Beliau hanya selalu memupuk pengertian yang kaffah dalam diri saya: Allah..Allah..Allah diatas segalanya!!! Adapun tentang kenapa harus begini, kenapa tak boleh begitu, kenapa ini wajib, kenapa itu haram, hal itu akan saya fahami ketika saya telah mengenal Allah.

Berhasilkah ibu saya? InsyaAllah begitu. Jadi sebenarnya, sejak sebelum akil baligh pun sudah tumbuh dalam hati saya ketakutan kepada Allah jika saya meninggalkan sholat dan shaum. Tapi karna saat itu saya tahu bahwa anak yang belum baligh itu masih belum dicatat amalnya, makanya saya manfaatkan momen itu untuk bermalas-malasan. Hahaha. Lucu juga kalau saya pikirkan sekarang.  Setelah mencapai akil baligh hingga sekarang, saya tak pernah meninggalkan amalan-amalan wajib itu. Karna insyaAllah saya mengerti urgensinya.

Pernah suatu ketika, saat adik saya kelas 1 SMP, entah bagaimana ceritanya dia kebablasan sholat isya. Maka gegerlah di subuh harinya. Adik saya marah-marah dan menangis, kenapa tak ada satupun yang membangunkannya. Saya juga menyesal, padahal sejak sebelum subuh saya telah bangun. Saya kira dia udah sholat isya. Dan tahukah? Si anak kecil kelas 1 SMP itu pun menangis berjam-jam sambil berdzikir di atas sejadah. Hal itu membuat saya merinding. Memang begitulah dahsyatnya pelajaran aqidah. Ketika aqidahnya baik dan kuat, insyaAllah, tanpa mengenal tua atau muda, Allah akan bersemayam di hatinya.

Tentang menjaga anak-anak dari hal yang najis dan haram, ibu saya bilang, hal tersebutlah yang membuat anak-anaknya tumbuh cerdas dan jujur. Bibit yang baik akan menghasilkan tanaman yang baik, begitu kata ibu saya. Ya, ibu saya memang sangat menjaga hal ini. Sejak kecil saya sudah akrab dengan pelajaran fiqh Assyafii. Saya sudah bisa membedakan mana barang najis dan tidak, mana makanan halal dan tidak, bagaimana mensucikan hal-hal najis, dan sebagainya. Saya diberi pengertian bahwa sebelum melaksanakan sholat, saya harus dalam keadaan suci dari hadas dan najis. Dan itu terimplementasi di keluarga saya. Makanya jangan heran kalau anda berkunjung ke rumah saya, anda akan dihadapkan pada beberapa prosedur tetap sebelum melaksanakan sholat. Tujuannya, menjaga agar tempat sholat dan juga diri anda terhindar dari najis.

Ya, sungguh luar biasa memang ibu saya. Wanita hebat yang tak ada duanya. Di satu sisi beliau mendorong anak-anaknya agar berprestasi secara akademik, dan disisi lainnya kami digembleng oleh ilmu agama secara membabi buta *lebay. Memang, di luar sana  masih sangat banyak orangtua yang jauh lebih sempurna didikannya. Dan juga bukan berarti tak ada kecacatan yang dimiliki ibu dalam mendidik kami. Ibu juga manusia. Tapi bagi saya, karna ibu adalah orang yang paling tahu tentang saya, maka semua pendidikan yang ia berikan adalah pendidikan yang paling baik.

Well. Sebagai anaknya, sudah sepatutnya saya banyak bersyukur. Allah menghadiahkan sesosok wanita shalihah dan cerdas, yang secara seimbang mengenalkan dunia dan akhirat pada anak-anaknya. Kemarin, ibu saya bilang, “Aqidah, Nak! Aqidah! Kelak kalau punya anak, kuatkan terlebih dahulu aqidahnya.” beliau lalu melanjutkan, “Dan jaga anak-anakmu dari hal yang najis dan haram.”

Wallahu a’lam.

“Nak, aku akan ajarkan kepadamu beberapa patah kata: Jagalah Allah, Niscaya Dia akan senantiasa menjagamu. Bila engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah, dan bila engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, jika semua umat manusia bersatu padu untuk memberikan suatu kebaikan kepadamu, niscaya mereka tidak dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis oleh Allah bagimu, dan jika semua umat manusia bersatu padu untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditulis oleh Allah bagimu. Pena telah diangkat dan catatan-catatan telah mengering.”(HR. Tirmidzi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s