[Menikah Denganmu] Kotamu

Siapa yang menyangka kalau perjalanan menuju kotamu menjadi satu memori yang selalu ingin kudekap selamanya. Kamu, dengan segala keluarbiasaanmu, menorehkan kesan safari terindah yang pernah aku lakukan. Romantika naik pesawat, perjalanan membelah gunung-gunung, kemesraan menyusuri pantai pada suatu senja, hingga jalan-jalan kecil keliling kota.

Kotamu adalah kota kecil di selatan Sumatera. Kota yang kemudian selalu ingin kusinggahi. Lagi dan lagi. Kota tempat kamu bertumbuh. Kota tempatmu tertawa, menangis, dan menjalani kehidupan. Kota yang mungkin bagimu sama berartinya dengan ijazah sarjana, atau mungkin lebih dari itu. Ah, apapun yang berarti bagimu, tentu saja berarti bagiku. Maka tentang kotamu, aku pun mencintainya.

Siapa menyangka, kalau pengalaman pertama naik pesawat pada saat itu, kulalui bersamamu.  “Lihat, kita berada di atas awan,” ujarmu. Ah, saat itu bukan hanya ragaku, jiwaku pun mengangkasa di atas awan. Aku sungguh bahagia dibuatmu.

Kau sudah tahu, bahwa langit dan seluruh ornamennya adalah wacana yang selalu ingin aku bincangkan–meski kekagumanku pada langit kadang tak bisa diungkapkan dengan perkataan. Mereka luas, lepas, sehingga setiap kali menengadah ke langit, akupun merasa luas, lepas.

Kau harus tahu bahwa ketika kita mengangkasa menuju kotamu, di pagi itu, aku merasa seribu kali lebih bahagia dari yang bisa kau bayangkan. Seorang pecinta langit, kini berada di langit. Menakjubkan, bukan? Terima kasih karna kau mengajakku terbang. Ah, kau memang selalu bisa membuatku merekah🙂.

Lalu siapa menyangka, bahwa perjalanan membelah hutan, melewati Raflesia, menghirup udara pegunungan itu kulalui bersamamu.

“Yah, beginilah hutan Sumatera.” ujarmu. “Kamu suka?”

“Tentu saja,” ucapku.

Dalam 2 jam perjalanan dari bandara menuju kotamu, aku mengamatimu yang sedang menatap ke luar jendela mobil. Entah apa yang ada di pikiranmu kala itu. Setahuku, itu tatapan lepas. Kau disana, tapi entah dimana hati dan pikiranmu. Ah, kenapa aku menjadi terharu? Sudah setahun lamanya kau tak pulang, sayang. Rindu pada kampung halaman sudah tentu membuncah di dadamu.

***

“Selamat datang, cinta.” kau sumringah menyambutku di kotamu. Benakku berkelana. Oh, ini kota yang menyuguhkan banyak kisah  masa kecilmu itu. Kota yang, hmmm, aku tak punya kata yang tepat untuk menjabarnya. Kota yang membekaskan kenangan yang dalam bagiku, pun hingga hari ini.

Kecintaanku pada kota ini bukan hanya karna kota ini begitu spesial buatmu, melainkan juga karna ibu serta keluarga baruku juga meninggali kota ini. Keluarga yang belakangan ini baru kusadari begitu membuat rindu. Mama, Abang, Uni, dan adik-adik yang menyambutku di daun pintu saat itu, ah mereka kemudian menjadi sosok-sosok manusia yang kutempatkan di keindahan hati.

“Dulu aku senang bermain disini, belajar disana, main bola disini, main layangan disana, bla..bla..bla..” kau banyak bercerita saat kita jalan-jalan keliling kota. Aku mendengarkan dengan seksama sambil membayangkan kau yang masih kecil benar-benar sedang berada disana. Aku melihat kau bermain bola, bermain layangan, bahkan tampak jelas sekali dalam imajiku saat kau mengenakan seragam merah putih. Ah, kau pasti sangat menggemaskan.

Siapa menyangka, bahwa wanita yang kau ajak menikmati kotamu ini adalah aku. Aku yang bahkan belum satu tahun mengenalmu. Saat teman-teman kecilmu, tetanggamu, bahkan keluargamu bertanya bagaimana kisah perkenalanku denganmu, aku katakan, “Kami dipertemukan Allah.” akupun merona dan tersipu sendiri meski mereka kemudian mengerutkan dahi. keheranan.

Kau tahu, aku begitu menikmati tiap detik yang kulalui di kotamu. Teringat aku pada suatu senja, menyusuri pantai sambil bergandengan tangan denganmu. Erat. Kau menggenggamku erat. Lalu kita menjamah laut dengan mata-mata kita yang tertakjub. “Terima kasih, sayang.” aku menajamkan tatapanku padamu. “Aku suka laut. Laut itu luas, lepas. Maka ketika aku berada diantaranya, aku merasa luas, lepas.”  kau pun terlihat sangat tampan dengan satu sunggingan senyum.

Senja kala itu menjamu kita dengan sepotong matahari jingga. Kau tetap menggenggamku erat. Lalu kita larut dalam musik alam. “Aku ingin selamanya denganmu.” aku berkata dalam hati.

Siapa menyangka, bahwa meninggalkan kotamu rasanya seperti kehilangan separuh hidup. Entah kapan aku bisa lagi membantu mama memasak di dapur, menemani abang di toko, jalan-jalan menapaki senja-nya kota, mengunjungi sekolahmu, mengamati tempat bermainmu, dan segalanya. Entah kapan.

Meninggalkan mama, kakak serta adikmu membuatku terluka. Disaat rasa cinta tumbuh meruah dengan cepat dalam hatiku, saat itu pula aku harus belajar meninggalkan. Aku tak mungkin selamanya berada disana. Haru menyelimuti perasaanku saat kita melambaikan tangan pada mereka… dan pada kotamu.

Tahun depan kita kesana lagi, kan?

9 thoughts on “[Menikah Denganmu] Kotamu

  1. sy suka sekali tulisan ini teh, sy bisa membayangkan detail yg teteh tulis. karena sy dibesarkan di kota yg sama dgn kak gilang..🙂
    salam kenal teh, sy adik ny teman dekat kak gilang waktuSMA..😀
    afwan ya, jadi bongkar2 tulisan teteh.. hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s