[a word] Senja dari Balik Jendela

Senja kembali. Senja yang kuundang sendiri. Kali ini, bukan lagi bersama arak awan beraroma kayu manis. Ia meremah air jingga.

Lihat, hujan turun!

Merayapi atap lalu lunglai. Dalam kaca dari balik jendela. Ya, dari balik jendela. Senja kembali. Senja yang kuundang sendiri. Kali ini dibersamai hujan.

Hei, senja. Senang melihatmu menari. Menari bersama hujan. Lalu menyipratiku. Aku dari balik jendela.

Kau senja, cintaku.

Lima musim kau membersamaiku.

Kau bertengger di ujung ilalang, untukku. Menjadi jingga, demi aku. Kali ini kau menari bersama hujan. Hujan yang bergulir pada kaca jendela.

Ingin senja kembali lagi. Meski hari masih pagi. Senja yang kuundang sendiri. Dalam diam.

Kau tahu, senja, aku tak ingin engkau pergi. Kala luluh, kau kupanggil lagi. Kuundang lagi.

“Tetaplah disini!.”rengekku. Karna meski dibersamai hujan, kau menghangatkan. Minimal, telingaku. Ya, kau ramai, meski bukan di pasar.

Gila! Senja kembali lagi. Kali ini dengan sejumput aster, eidelweis, dan rosa. Senja tak kuundang. Diam.

Kau menari untukku. Senja tak kuundang!

Ah sial! lidahku beku.

Senja tetap menari, lebih lincah lagi. Sesekali ia menatapku, dibersamai aster, edelweis, dan rosa. Aku dalam bingkai jendela. Beku. Tak berterima kasih.

Lalu senja tak kembali lagi, meski kuundang setengah mati.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s