[a short story] Utuh

“Kamu suka main layang-layang?” Suara Runa bahkan kalah oleh deru ombak senja.

“Suka. Saat aku masih kecil.” Getar mengernyit dahi. Pertemuan kali ini dengan Runa terasa senyap, meski di antara kebisingan ombak.

“Pernah layang-layangmu putus lalu diambil orang?”

 “Hmm. Ya…” Getar kebingungan, tak bisa menebak arah pembicaraan Runa. Matanya hanya mampu menjelajahi matahari senja yang sudah hampir terbenam.

Runa menunduk. Mukanya merah padam. Ia hampir menangis, “Bagaimana rasanya?”

“Ayolah, Runa. Aku tak mengerti maksud pertanyaanmu. Please, ada apa?” Getar menatap tajam ke dalam mata Runa. Berharap bisa menafsirkan air mata yang akan jatuh dari matanya.

“Bagaimana rasanya kalah saat bermain layang-layang? Kau telah menerbangkannya tinggi-tinggi, lalu talinya putus dan diambil orang. Bagaimana rasanya…sekarang?” Runa menghela nafas.

“Sekarang?”

“Ya, sekarang. Karna aku tak peduli tentang perasaanmu di masa lalu.” Runa mempertegas pertanyaanya. Ia menangis.

“Baiklah. Kau sudah tahu rupanya.” Getar memperbaiki posisi duduknya. Sebenarnya ia enggan membahas hal ini. Yang lalu biarlah berlalu, pikirnya.

“Layang-layang itu sudah jadi milik orang lain. Dan aku pun telah memilih layang-layang baru. Aku memilihmu, Runa.”

Hambar.

Runa merasa perkataan itu hambar. Sebagai seorang wanita, ia punya perasaan yang kuat. Ia merasa, separuh hati pria ini masih tertinggal di masa lalu.

***

“10 tahun.

Selama 10 tahun aku tak lagi tahu tentangmu.

Kau bukan Getar yang dulu, laki-laki kecil yang senang memanjati pohon sekolah. Kau bukan lagi Getar yang tiap sore mengetuk pintu rumahku sambil menyodorkan eskrim. Kau ternyata tumbuh dewasa, Getar. Dan kau pernah menaruh separuh hatimu pada seorang wanita.

Aku tahu, kau melamarnya. Dan kusimpulkan bahwa ia begitu berharga bagimu. Kau terpuruk sekian lama ketika tahu ia memilih untuk hidup bersama yang lain. Kau benar-benar terpuruk, Getar. Separuh hatimu hancur bercerai. Hingga kemudian kita bertemu, setelah sepuluh tahun yang lalu.” Runa kembali menarik nafas.

“Jujur, aku… meragukanmu. Adakah kepingan hatimu yang masih tertinggal di masa lalu?” Runa menatap nanar ke arah Getar, berbalik, lalu melangkah meninggalkannya.

Getar terdiam. Runa berjalan semakin jauh.

“Utuh, Runa…” terdengar samar-samar teriakan Getar dari kejauhan. “Hatiku utuh. Bukan hanya setengah, seluruhnya untukmu…”

Runa berhenti. Tersenyum.

“Aku.” lirihnya.

“Ragu….”

***

Apa kabar, Getar? Ah, kutahu keadaanmu sekarang jauh lebih baik dibanding saat bersamaku dulu.

Hari ini aku merinduimu hingga ke tulang-tulangku. Masih kuingat saat kau mengetuk pintu rumahku sambil menyatakan kau ingin melamarku tapi tak kubukakan pintu itu untukmu. Masih kuingat wajah sesalmu saat aku menangis, lalu kau berkata, “Maafkan jika masa laluku menyakiti hatimu.”. Masih kuingat baumu, detail wajahmu, semua tentangmu.

Sudah 35 tahun, Getar …

Sudah 35 tahun hidupku bersamamu. Dan selama itu pula aku mengutuk semua masa lalumu. Aku menerima pinanganmu, tapi selalu saja aku mempertanyakan hatimu, masihkah kau mengingat dia? wanita yang dulu pernah ada di hatimu itu. Aku menyalahkanmu atas masa lalu yang sejatinya di luar kuasamu.

35 tahun aku meragukanmu, Getar…

Dan kini…

Utuh..

Ternyata hatimu benar-benar utuh,

bukan hanya setengah, tapi seluruhnya untukku..

Kau benar, Getar… Tapi itu kuyakini saat kau telah pergi menuju-Nya.

Maafkan aku, sayang… Aku hanya bisa menghabiskan sisa umurku dalam penyesalan.

Terima kasih laki-laki terbaik, yang tiap nafasnya adalah demi kebahagiaanku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s