[a thought] Sekalinya Nonton Infotainment…

*Sejatinya tulisan ini bukanlah justifikasi bahwa menonton infotainment itu bermanfaat. Tetap jauhkan buah hati Anda dari menonton siaran gosip di tivi. Waspadalah! Waspadalah!*

Sebelumnya, saya memohon maaf karna saya memang payah dalam mengawali sebuah tulisan, apalagi menyangkutpautkannya dengan tema yang diusung sejak awal. Jadi, silakan sangkutpautkan sendiri jika memang terdapat banyak paragraf yang ngalor ngidul gak jelas. Terima kasih. *berwajah pilu*

***

Saya yang notabene dibesarkan di lingkungan pesantren, sudah sangat akrab dengan lantunan ayat suci AlQuran sejak usia dini. Sampai-sampai saya yang masi balita, pada saat itu, sudah mampu menirukan cengkok Mama dan Enin (nenek saya) saat mereka tilawah, meski dengan lafal yang ngaco -___-‘. Orang lain yang mendengar saya “mengaji” biasanya mengatakan, “Wah, neng Uci udah jago ngaji ya?”. Padahal, saat itu, saya hanya “berpura-pura” mengaji. Dan saya merasa bahagia telah berhasil mengelabui orang dewasa. *nah lho*

Seiring berjalannya waktu, saya semakin fasih saja menirukan Mama mengaji. Intonasi dan pelafalannya semakin mirip, begitu pula melodi dan cengkoknya. Alhasil, dikala saya belum dapat membaca AlQuran pun, saya sudah mulai agak hafal ayat kursi, beberapa ayat dalam surat Yaasin, dan 3 ayat terakhir surat Al-Baqarah. Saat itu, saya sangat menyukai 3 ayat terakhir surat Al-Baqarah.

Atas dasar takdir Ilahi *yaelah* entah mengapa curiosity tentang arti dari 3 ayat terakhir surat Al-Baqarah baru muncul saat saya duduk di bangku SMA. Ternyata, setelah saya faham artinya, saya semakin jatuh cinta. Pantas saja Enin dan Mama sangat senang membaca ayat tersebut >,< *kemane aje*

Adalah terutama ayat yang artinya, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya”. NAH! Ayat inilah yang membuat saya terkagum-kagum pada Allah, AlQuran, Enin, dan juga Mama. It’s so muccchhhhhh awesome! Dan pada akhirnya, ayat inilah yang kemudian selalu membuat saya percaya diri bahwa semua kesulitan yang saya hadapi tak akan pernah melebihi batas kemampuan saya. That’s the major point.

Lalu di hari kemarin, tanpa sengaja, *tanpa sengaja!!!catat!* saya menonton infotainment di tivi. Yang membuat saya enggan memindahkan channel adalah karena saatitu muncul info tentang salah satu ustadz kondang yang istrinya baru saja di operasi karna pembengkakan tuba falopi *kalo gak salah sih infonya gitu*. Ya, we know lah, secara ilmu kedokteran, dengan kondisi seperti itu, seorang wanita kemungkinan besar tidak akan bisa punya keturunan. Dan sebagai seorang wanita yang telah menikah, sedikit banyak saya sangat mengerti perasaan mereka. *sedih juga*

But, wait. Lalu apa hubungannya kecintaan saya terhadap 3 ayat AlBaqarah dengan ustadz tersebut? Nah, ini dia masalahnya. Saya sendiri bingung. Hm, mungkin begini, sejujurnya sejak permulaan ustadz tersebut muncul di tivi, entah mengapa saya tidak begitu bersimpati *astaghfirullah :'(* Entahlah, saya merasa males aja mendengar beliau berceramah. Terlalu bertele-tele dan banyak guyon.  Tapi kemudian, setelah ujian berat menimpa rumah tangganya yang baru seumur jagung itu *ini kata2 yang saya kutip dari host infotainment tersebut.hehe*, saya menjadi malu sendiri. Ah, ternyata saya telah menggunakan kacamata yang salah dalam menilai ustadz ini.

As we know bahwa Allah menyesuaikan kadar ujian dengan kesanggupan hamba-Nya. Dan sang ustadz beserta istri diberi ujian dengan kadar dan tingkat kesulitan yang menurut saya sangat tinggi. Hal ini -menurut saya lagi- merupakan  representasi dari tingkat keimanan keduanya, dimana jika keduanya bersabar, maka dapat dipastikan keduanya berada di level keimanan yang tinggi pula.

Lalu saya menjadi kerdil. Malu pada Allah dan sang ustadz. Seenaknya saja menjudge beliau padahal di mata Allah, sepertinya beliau berlevel-level lebih tinggi dibanding saya. Lihat saja dari ujian yang dihadiahkan Allah. Ujian beliau begitu berat. Sementara saya? Kadang gara-gara digigit nyamuk aja saya sering ketus. Lalu apa jadinya jika saya mengalami hal yang dialami istri beliau? Ah, saya memang manusia kerdil yang sok’ sok’an.

Hm, kemudian saya berifikir, mengapa dulu tiba-tiba dan tanpa sebab yang jelas saya malah tidak menyukai ustadz ini? Padahal jelas-jelas di luar sana banyak sekali manusia yang mutlak harus saya benci (israel.red). Jujur, saya sangat berduka. Yang pertama, atas ujian yang menimpa sang ustadz dan istri. Kedua, atas kebodohan dan kejelekan hati saya selama ini. Astagfirullah!

Semoga sang ustadz beserta istri mampu melewati ujian ini dengan mulus. Dan semoga saya dapat pula memperbaiki hati yang kacau balau ini. aamiin.

2 thoughts on “[a thought] Sekalinya Nonton Infotainment…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s