[a must] 23

Jadi ceritanya, tujuh september kemaren ada yang ulang tahun ke 23. Sebut saja saya. Ya, memang saya sih. Jadi gak usah bilang ‘sebut saja’. Haha.

You know, di hari lahir kemaren saya mati gaya!

Hape mati. Gak ada inet pula. Dan saat itu saya berada di sebuah rumah yang sulit transportasi. Gak ada angkot ataupun ojek, dan kalo mau naek sepeda atau jalan kaki sangatlah beresiko soalnya doggiee di kompleks lagi musim kawin. Hehe. Singkatnya, saya benar-benar untouchable! Cuma bisa keep in touch melalui telepati with my hubby yang lagi ke kantor *mana ada*.

Mengingat saya termasuk orang yang cuek tentang masalah ultah2ah, saya jadi inget suami nanya pas malem tgl 7, “ultahnya mau dikadoin apa?” Awalnya saya bilang, “Apa ajah.” Eh tapi suami saya malah jadi bingung. Dengan malu-malu lalu saya bilang, “do..eh..emm..zzz.. do..doa!!!”. Haisssshhhh. so’ cool tea geuning -__-“. Tapi yang ada dibenak saya saat itu ya cuman pengen di doain. Doa suami kan mujarab. hehe. *walaupun malem itu suami ngajak ngedate sambil makan malam. makasi cintaaah. luv you*

Mengenai budaya merayakan ultah, bagi saya sih sah-sah aja. Sebagai bentuk rasa syukur, selagi syukurannya gak berlebihan dan gak melanggar syariat ataupun meniru-niru budaya kafir, kayaknya sih never mind. Tapi bagi diri saya pribadi, ketika seseorang berulang tahun, saya lebih menitikberatkan pada pemberian doa dan nasehat-nya, bukan ucapan selamat-nya. Toh orang berkurang umur kok diselamatin? hehe.

Menurut pengamatan non-scientific saya, sebagian besar masyarakat indonesia pasti seneng deh kalo dikasi ucapan selamat pas ultah. Jadi kenapa enggan untuk membahagiakan orang lain dengan cara mengucapkan sesuatu di hari lahirnya? Begitu saya pikir. Terserah mereka menafsirkannya sebagai ucapan selamat atau bukan, yang jelas saya ingin mendoakan serta mengingatkannya untuk lebih banyak bersyukur dan bermuhasabah. That’s the point. Makanya, ketika ada yang berulang tahun, saya akan memaketkan doa dan nasehat sekaligus padanya, dan biasanya tanpa ucapan selamat.

Itulah inti berulang tahun bagi saya. Hari ulang tahun adalah moment yang tepat untuk menghisab diri. Digunakan untuk apa tangan,kaki,ilmu selama satu tahun ke belakang? Akan melakukan apa satu tahun ke depan jika masih ada umur? semacam persiapan untuk menjawab pertanyaan munkar-nakir di alam kubur kelak.

And well. Kali ini giliran saya. Sudah jadi kewajiban saya untuk menghisab diri tentang eksistensi saya di muka bumi slama satu tahun ke belakang *ceileh, eksistensi -__-*. And it’s shocking me that there’s too much distraction i left behind. huhu. But, never mind. Gak ada gunanya menyesal. Tinggal memperbaikinya selagi masih ada sisa usia. Bismillahirrahmaanirrahiim. Semangat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s