[Menikah Denganmu] Kotamu

Siapa yang menyangka kalau perjalanan menuju kotamu menjadi satu memori yang selalu ingin kudekap selamanya. Kamu, dengan segala keluarbiasaanmu, menorehkan kesan safari terindah yang pernah aku lakukan. Romantika naik pesawat, perjalanan membelah gunung-gunung, kemesraan menyusuri pantai pada suatu senja, hingga jalan-jalan kecil keliling kota.

Kotamu adalah kota kecil di selatan Sumatera. Kota yang kemudian selalu ingin kusinggahi. Lagi dan lagi. Kota tempat kamu bertumbuh. Kota tempatmu tertawa, menangis, dan menjalani kehidupan. Kota yang mungkin bagimu sama berartinya dengan ijazah sarjana, atau mungkin lebih dari itu. Ah, apapun yang berarti bagimu, tentu saja berarti bagiku. Maka tentang kotamu, aku pun mencintainya.

Siapa menyangka, kalau pengalaman pertama naik pesawat pada saat itu, kulalui bersamamu.  “Lihat, kita berada di atas awan,” ujarmu. Ah, saat itu bukan hanya ragaku, jiwaku pun mengangkasa di atas awan. Aku sungguh bahagia dibuatmu. Continue reading

[a word] Senja dari Balik Jendela

Senja kembali. Senja yang kuundang sendiri. Kali ini, bukan lagi bersama arak awan beraroma kayu manis. Ia meremah air jingga.

Lihat, hujan turun!

Merayapi atap lalu lunglai. Dalam kaca dari balik jendela. Ya, dari balik jendela. Senja kembali. Senja yang kuundang sendiri. Kali ini dibersamai hujan.

Hei, senja. Senang melihatmu menari. Menari bersama hujan. Lalu menyipratiku. Aku dari balik jendela.

Kau senja, cintaku.

Lima musim kau membersamaiku.

Kau bertengger di ujung ilalang, untukku. Menjadi jingga, demi aku. Kali ini kau menari bersama hujan. Hujan yang bergulir pada kaca jendela.

Ingin senja kembali lagi. Meski hari masih pagi. Senja yang kuundang sendiri. Dalam diam.

Kau tahu, senja, aku tak ingin engkau pergi. Kala luluh, kau kupanggil lagi. Kuundang lagi.

“Tetaplah disini!.”rengekku. Karna meski dibersamai hujan, kau menghangatkan. Minimal, telingaku. Ya, kau ramai, meski bukan di pasar.

Gila! Senja kembali lagi. Kali ini dengan sejumput aster, eidelweis, dan rosa. Senja tak kuundang. Diam.

Kau menari untukku. Senja tak kuundang!

Ah sial! lidahku beku.

Senja tetap menari, lebih lincah lagi. Sesekali ia menatapku, dibersamai aster, edelweis, dan rosa. Aku dalam bingkai jendela. Beku. Tak berterima kasih.

Lalu senja tak kembali lagi, meski kuundang setengah mati.

 

[a short story] Utuh

“Kamu suka main layang-layang?” Suara Runa bahkan kalah oleh deru ombak senja.

“Suka. Saat aku masih kecil.” Getar mengernyit dahi. Pertemuan kali ini dengan Runa terasa senyap, meski di antara kebisingan ombak.

“Pernah layang-layangmu putus lalu diambil orang?”

 “Hmm. Ya…” Getar kebingungan, tak bisa menebak arah pembicaraan Runa. Matanya hanya mampu menjelajahi matahari senja yang sudah hampir terbenam. Continue reading

[a talk] Urang Sunda

Kumargi simabdi kantos nyepeng gelar juara lomba pidato basa sunda, sareng kumargi simabdi memang katurunan sunda asli, dina danget ieu simabdi bade nyobian nulis nganggo pengantar basa Sunda. Mung sateuacana, simabdi neda dihapunten upami seueur kalepatan boh dina penggunaan kata atanapi cara nulisna. Punten oge kumargi simabdi mung tiasa nganggo basa sunda nu biasa dianggo sadidinten (sanes basa sunda nu sae). hehe.

Tisaprak borojol dugika danget ieu, simabdi masih satia nyalikan tanah sunda. Sakali-kali osok nyobian ameng ka daerah sanes sapertos Jawa Tengah atanapi Sumatera. Mung seseringna mah abdi kukulikbekan di sakitaran Jawa Barat: Bandung, Subang, Sumedang, Tasik, Garut, jeung sajabana. Saur rerencangan mah abdi teh meni Sunda Pisan. Resepna teh pagulung-gulung jeung kolot, teu aya jiwa rantau cenah. Nya abdi mung sura-seuri weh upami disebat kitu teh. Continue reading

[a must] 23

Jadi ceritanya, tujuh september kemaren ada yang ulang tahun ke 23. Sebut saja saya. Ya, memang saya sih. Jadi gak usah bilang ‘sebut saja’. Haha.

You know, di hari lahir kemaren saya mati gaya!

Hape mati. Gak ada inet pula. Dan saat itu saya berada di sebuah rumah yang sulit transportasi. Gak ada angkot ataupun ojek, dan kalo mau naek sepeda atau jalan kaki sangatlah beresiko soalnya doggiee di kompleks lagi musim kawin. Hehe. Singkatnya, saya benar-benar untouchable! Cuma bisa keep in touch melalui telepati with my hubby yang lagi ke kantor *mana ada*. Continue reading

[a thought] Sekalinya Nonton Infotainment…

*Sejatinya tulisan ini bukanlah justifikasi bahwa menonton infotainment itu bermanfaat. Tetap jauhkan buah hati Anda dari menonton siaran gosip di tivi. Waspadalah! Waspadalah!*

Sebelumnya, saya memohon maaf karna saya memang payah dalam mengawali sebuah tulisan, apalagi menyangkutpautkannya dengan tema yang diusung sejak awal. Jadi, silakan sangkutpautkan sendiri jika memang terdapat banyak paragraf yang ngalor ngidul gak jelas. Terima kasih. *berwajah pilu*

***

Saya yang notabene dibesarkan di lingkungan pesantren, sudah sangat akrab dengan lantunan ayat suci AlQuran sejak usia dini. Sampai-sampai saya yang masi balita, pada saat itu, sudah mampu menirukan cengkok Mama dan Enin (nenek saya) saat mereka tilawah, meski dengan lafal yang ngaco -___-‘. Orang lain yang mendengar saya “mengaji” biasanya mengatakan, “Wah, neng Uci udah jago ngaji ya?”. Padahal, saat itu, saya hanya “berpura-pura” mengaji. Dan saya merasa bahagia telah berhasil mengelabui orang dewasa. *nah lho*

Seiring berjalannya waktu, saya semakin fasih saja menirukan Mama mengaji. Intonasi dan pelafalannya semakin mirip, begitu pula melodi dan cengkoknya. Alhasil, dikala saya belum dapat membaca AlQuran pun, saya sudah mulai agak hafal ayat kursi, beberapa ayat dalam surat Yaasin, dan 3 ayat terakhir surat Al-Baqarah. Saat itu, saya sangat menyukai 3 ayat terakhir surat Al-Baqarah. Continue reading

Romansa 6

Bersyukur punya kamu: hati luas bak bumi dan langit. Wajah berseri bak molekul berfluoresens. Rambut mekar bak mayang. Tatap mata tajam bak alumina. Senyum manis bak fruktosa ditambah glukosa, maltosa, galaktosa. Jauh pemikiranmu bak jarak bumi dengan galaksi andromeda.

[resiko punya suami peneliti, gombalannya ilmiah sekali.hehe]