[Menikah Denganmu] Di Jalan Dakwah Kami Menikah

Dulu, selalu saja, kapanpun, dimanapun, saya pasti menyelipkan satu buku dalam tas. Sebuah buku dengan cover warna pink berjudul Di Jalan Dakwah Aku Menikah karya ustadz Cahyadi Takariawan. Buku yang bagi saya bukan hanya kumpulan kertas bertulisan, melainkan asma penggugah jiwa, pemudar warna-warna hitam di dalam hati. Buku yang kemudian membuat saya mantap untuk memperjuangkan menikah di jalan dakwah.

Apakah maksud menikah di jalan dakwah itu?  Subhanallah, butuh waktu satu tahun bagi saya untuk mengerti makna menikah di jalan dakwah. Berkali-kali saya membaca isi buku tersebut, mencoba memahami dengan gamblang kata per katanya. Tiap malam saya istikharah, meminta petunjuk pada Allah, cara seperti apakah yang harus saya ambil dalam mencari jodoh? (yang mana cara tersebut haruslah berada dalam kerangka dakwah).

Pernah ada yang datang (maaf, bukannya mengungkit masa lalu). Laki-laki yang kemudian menyatakan cinta. Saya merenung sangat lama. Akankah ini disebut menikah di jalan dakwah? Awalnya saya rasa iya karna ia adalah laki-laki baik, dengan agama yang juga baik. Tapi ternyata bukan. Menikah di jalan dakwah tidak mungkin diawali dengan embel-embeli sms mesra dan ajakan jalan-jalan berdua pra menikah. Saya menutup diri darinya. Laki-laki itu ternyata tidak sejalan dengan pemikiran saya. Saya  begitu ingin menikah di jalan dakwah!

Lalu hadir pula satu sosok. Berawal dari pertemanan di beberapa kegiatan kampus. Ia memang tidak menyatakan cinta sedari awal. Ia pula tak lancang mengirim sms atau kata-kata mesra. Ia hanya rajin mengundang saya untuk ikut taklim, daurah, dan majlis ilmu lainnya. Saya menjadi sumringah. Akankah ini nantinya disebut menikah di jalan dakwah? Mungkin iya.

Rutinitas tersebut berlanjut sampai akhirnya kami sampai pada sebuah diskusi sengit. Ia menyatakan konsep dakwah yang selama ini ia yakini. Oke, saya hargai pendapatnya. Tetapi tidak ketika ia mulai men-jugde dan menyatakan bahwa konsep dakwah harakah lain itu adalah sesat dan tidak benar. Saya mulai ragu. Bisakah kami mewujudkan konsep menikah di jalan dakwah? Mungkin bisa, tapi tidak dengan cara berdakwah yang sama. Saya pun mundur.

Saya kembali membaca buku ustadz Cahyadi. Seperti apa sebenarnya menikah di jalan dakwah itu? Saya lalu beristikharah dengan rutin, berharap Allah memberi petunjuk. Satu hal yang saya pegang teguh bahwa dalam pernikahan, awal-tengah-dan akhirnya haruslah sesuai syariat. Itu saja yang saya camkan saat itu.

Manusia hilir mudik dalam kehidupan saya. Semakin hari saya semakin mengenal apa itu menikah di jalan dakwah. Alhasil, setelah melewati perenungan panjang akhirnya saya mantap mengikuti usulan ustadz Cahyadi dalam bukunya. Saya akan menerima laki-laki yang juga ingin menikah di jalan dakwah, dengan catatan ia punya konsep dakwah yang sama dengan saya.

Bertemulah saya pada sosok laki-laki. Awalnya ragu karna saya sama sekali belum mengenalnya. Ya, sama sekali belum mengenalnya! Dalam beberapa periode waktu saya merenung kembali. Mencoba menata ulang hati. Merunut kebaikan dan keburukan yang mungkin hadir di antara kami berdua. Namun lapang… Yap, Allah menghadiahi kelapangan dalam hati saya untuk mencoba membuka hati padanya.

Saya memang tak mengenalnya, tapi sudah dapat saya pastikan bahwa kami sama-sama berjuang di jalan dakwah yang searah. Ketika itu saya aktif dalam kegiatan dakwah di mesjid kampus dan sang lelaki, adalah mas’ul lembaga dakwah di jurusannya. Kami bernaung di bawah satu lembaga dakwah tertinggi yang tidak dapat saya sebutkan disini.

Entah kenapa, saya sama sekali tak punya alasan untuk mundur. Dalam tiap sholat saya berdoa pada Allah, “Jika menikah dengannya bisa membuat saya jauh lebih dekat dengan Engkau, maka lancarkanlah semua prosesnya. Jika tidak, jauhkanlah kami secara baik-baik.” Begitulah, dalam menuju pernikahan, saya selalu ingin Allah terlibat di dalamnya.

Tak ada rintangan yang berarti dalam proses menuju pernikahan yang kami jalani. Sebisa mungkin kami menjalankan tata cara khitbah dan pernikahan islami. Dan setelah itu, kami harapkan bisa istiqamah dalam menjalankan syariat islam dalam rumah tangga.

Inikah yang disebut menikah di jalan dakwah? Dengan yakin saya katakan Ya, insyaAllah! Sebut saja Pernikahan sesama aktivis dakwah. Saya nobatkan demikian karena memang kami adalah dua manusia yang punya satu tujuan dakwah lalu dipertemukan di jalan dakwah. Tidak berlebihan jika saya mengatakan demikian, meski dalam pelaksanaannya terkadang kami lalai. Dengan menyematkan kata dakwah, itu selalu jadi pengingat bagi kami.

Setelah menikah, suami saya mengatakan, “Dek, dari dulu doa abang cuma satu, yaitu ingin selalu berada dalam barisan dakwah.” Subhanallah, redaksi doa yang sama dengan yang selalu saya panjatkan pada Allah. Begitulah…Kami memilih menikah di jalan dakwah. Rumah tangga yang ingin kami bangun adalah rumah tangga dengan tiang-tiang dakwah berdiri kokoh menopangnya. Aamiin. Semoga tulisan ini selalu menjadi pengingat bagi kami. Subhanallah walhamdulillah walailaaha illallaah..

*Kutipan dari buku di Jalan Dakwah Aku Menikah:

Di jalan apakah anda menikah? Terbentang dengan lurus dan amat luas jalan dakwah. Jalan para Nabi dan syuhada, jalan orang-orang saleh, jalan para ahli surga yang kini telah bercengkerama di taman-tamannya:

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik”. (Yusuf:108)

Inilah jalanku, yaitu jalan dakwah, jalan yang membentang lurus menuju kebahagiaan dan kepastian akhir. Jalan yang dipilihkan Allah untuk para Nabi, dan orang-orang yang setia mengikuti mereka. Jalan inilah yang menghantarkan Nabi saw menikahi istri-istrinya. Jalan ini yang mengantarkan Ummu Sulaim menerima pinangan Abu Thalhah. Jalan yang menyebabkan bertemunya Ali r.a dan Fatimah az-Zahra dalam sebuah keluarga. Di jalan dakwah itulah Nabi saw menikahi Ummahatul Mukminin. Di jalan itu pula para sahabat Nabi menikah. Di jalan dakwah itulah orang-orang saleh membina rumah tangga. Jalan ini menawarkan kelurusan orientasi, bahwa pernikahan adalah ibadah. Bahwa berkeluarga adalah salah satu tahapan dakwah untuk menegakkan kedaulatan di muka bumi Allah.

Menikah di jalan dakwah akan mendapatkan keberuntungan. Di jalan ini para sahabat Nabi melangkah, di jalan ini mereka menikah, di jalan ini pula mereka meninggal sebagai syahid dengan kematian yang indah. Jalan yang tak pernah memberikan kerugian. Justru senantiasa menjadi invesatasi masa depan yang menguntungkan di dunia maupun akhirat.

Di jalan ini kecenderungan ruhiyah amat mendapat perhatian, akan tetapi tidak mengabaikan segi-segi materi. Di jalan ini setan terkalahkan oleh orientasi Rabbani, dan menuntun prosesnya, dari awal sampai akhir, senantiasa memiliki kontribusi terhadap kebaikan dan umat. Sejak dari persiapan diri, pemilihan jodoh, peminangan, akad nikah hingga walimah dan hidup satu rumah. Tiada yang dilakukan kecuali dalam kerangka kesemestaan dakwah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s