[ a thought] Jika Tukang Cuci Itu adalah Ayah Saya…

Balai Besar POM Bandung. Sudah hampir satu pekan saya melaksanakan kerja praktek di Instansi pemerintah bidang pengawasan obat dan makanan ini. Lumayan menyenangkan. Banyak imu baru yang saya dapatkan, kerjanya santai, dan orang-orangnya nyaman (sebagian besar dihuni ibu-ibu yang baik hati dan lemah lembut, walau pada senang ngobrol dan bergosip. hehehe). Saya sempat terkejut, memang farmasi itu cewek banget ternyata. Sampe-sampe sebagian besar penghuni di BBPOM aja mayoritas adalah perempuan. *pantesan, anak farmasi susah cari jodoh! Toh ketemunya sama cewek terus. upss*. Oya, jadi inget jaman S1 dulu, bertemu mahasiswa adalah hal paling jarang dialami oleh mahasiswi farmasi. Ya, dari 120an orang, kurang dari 20 orang saja bergender laki-laki. Hoho. Naas!

Kembali ke BBPOM. Di BBPOM, saya kebagian kerja di bidang Teranokoko, yakni bidang yang menguji kelayakan dan keamanan obat terapeutik, narkotik, psikotropik, obat tradisional, serta kosmetik. *Eh, tumben uci ngeposting hal-hal berbau farmasi dan tek-tek bengeknya?* Eits, tunggu dulu. Postingan saya memang diawali dengan penjelasan geje tentang BBPOM Bandung, tapi inti pembicaraan saya bukan ke arah sana. Hahaha :p Saya hanya ingin menuliskan sebuah pemikiran yang menggelitiki tempurung kepala saya selama hampir satu pekan ini. Tentang seseorang yang saya temui di BBPOM Bandung.

Hari ini, sambil berleyeh-leyeh di meja kerja menunggu jam pulang, lagi-lagi saya tertarik memperhatikan salah satu dari kurang lebih tiga orang bapak-bapak penghuni Lab Teranokoko. Bapak paruh baya ini bekerja di lab yang sama dengan saya. Ya, lab yang sama sebenarnya bukan berarti kami punya pekerjaan yang sama. Saya bekerja menguji keamanan produk jamu, sementara beliau sebagai tukang cuci alat lab yang telah digunakan oleh saya dan ibu-ibu lain.

Merasa sangat tersindir dan sedih, soalnya saya sering mengeluh dan malas untuk mencuci alat-alat lab yang udah saya gunakan. Tapi kemudian setelah saya melihat beliau di pagi, siang, dan sore hari (dengan pekerjaan yang itu-itu aja/mencuci alat) saya kemudian menjadi insyaf. Nah lho, Ci. Lihat tuh, si bapak tiap hari nyuci alat lab. Mending kalo itu alat bekas kerjaannya sendiri, si bapak nyuciin alat-alat yg dipakai orang se-lab, Ci! Masa kamu malas sih nyuci alat yang udah kamu pake sendiri? Saya mulai mencaci maki diri sendiri.

Entah. Saya sepertinya terjangkit Feel Sad Easily Syndrome (FSE Syndrome). Sejenis sindrom mudah sedih yang saya karang sendiri nama dan gejalanya. Oke, fine. Sebut saja itu sejenis sindrom yang diidap manusia-manusia melankolis seperti saya * sok’ sok’ melankolis padahal bohong banget. haha*. Gejalanya adalah mudah terenyuhnya hati saat melihat hal-hal yang memilukan. Sindrom lebih lanjut dari sindrom FSE adalah Acute-Crying Easily Syndrome (ACE syndrome) yang nama dan gejalanya juga saya karang lebih lanjut. Sindrom ini memungkinkan pengidapnya untuk mencucurkan air mata dengan sangat mudah saat melihat hal-hal yang mengiris hatinya. Dan saya mengidap sindrom FSE yang sedikit demi sedikit bertransformasi menjadi sindrom ACE. Hoohoo.

Saya mudah sekali merasa sedih melihat apapun. Melihat cicak terperangkap di lem tikus, semut berenang di genangan air westafel, anak kucing mengeong mencari ibunya, bunga melati yang gugur ke comberan, atau kelelawar yang terbang di siang hari *emang ada?*. Hufh, ya begitulah. Melihat hewan-hewan yang teraniaya saja *menurut saya sih mereka teraniaya* hati saya jadi terenyuh. Apalagi melihat manusia yang teraniaya *Catat! teraniaya menurut versi saya,lho.*.

Saya akan sedih melihat adik-adik saya yang lagi ngamen di simpang dago, supir angkot yang gak dapet penumpang, tukang soto yang sibuk meladeni pelanggan, mbak-mbak tukang potong rambut di salon yang di komplain pengunjung, para analis di lab yang punya segudang kerjaan, bu guru yang ngajar tapi dicuekin murid, dan lain-lain. Dan saya pun, sampai detik ini selalu merasa sedih jika mengingat siaran TV tentang seorang tukang ojek yang disiksa polisi, di bui 7 bulan, padahal ia tidak melakukan tindak pidana apapun. Huks, sediiihnyaaa.

Well, mari kita sudahi sedih-sedihannya. Kembali ke tema awal. Kenapa bisa terjadi sindrom FSE dan ACE? Oke, akan saya jabarkan penyebab sekaligus faktor resiko (sekalian sama epidemiologinya dah, gak deng.hehe) dari sindrom ini. Hoho. Berdasarkan pengalaman empiris seseorang yang entah siapa dan dimana ia berada sekarang, disimpulkan bahwa penyebab sindrom ini adalah adanya respon otak berupa rasa empati yang kemudian diteruskan ke seluruh reseptor empati yang tersebar di lobus-lobus hati. Ya, simpelnya begini: ketika si pengidap sindrom ini melihat supir angkot yang gak dapet penumpang, secara otomatis stimulus respon empati akan menjadi aktif di otaknya, dan ia akan memposisikan si supir sebagai ayahnya. Ia kemudian akan merasa sedih membayangkan ayahnya sendiri, yang rela muter-muter bandung sampai tengah malam demi menyekolahkan dan memberi makan dirinya dan adik-adiknya, yang kini malah sedang sepi penumpang. Begitu kurang lebih penjelasan ngaconya. Sekali lagi, ngaco!he

Back to tukang cuci alat lab. Saya sedih melihat beliau. Kerjaannya hanya nyuci alat. Dan lebih sedihnya lagi, berapa sih upah untuk pekerjaan seperti itu? Apalagi di instansi pemerintah kayak BBPOM. Pasti kecil bangeeeeet. Huks. *Biarkan saya sedih, meski sebenernya bisa jadi si bapak sangat bangga dan bahagia dengan pekerjaannya. Atau si bapak udah terlalu kaya sehingga ia ingin mencoba pekerjaan berupah kecil seperti itu. Atau alasan lainnya yang gak pengen saya ambil pusing. Please, saat ini biarkan saya sedih melihat kondisi si bapak! Titik!*

*nah looh*

*terus, abis sedih-sedihan emang kondisi jadi lebih baik, ci (?)*

*nggak*

*trus ngapain sedih doang without take any action?*

*…….*

Hm. Saya jadi merasa random. Tulisan ini terlalu berbelit dan bercabang-cabang temanya. Haisssshhhhhh!!!! Intinya sih saya pengen berbagi hikmah bagi tuan dan nona, especially bagi diri saya sendiri, untuk mencoba lebih peka terhadap mereka yang ada di sekitar kita. Ketika malas mencuci alat lab, ingatlah bahwa ada bapak-bapak tua yang tiap hari harus mencuci ratusan gelas kimia, termasuk gelas kimia bekas kita. Kasian kan? Atau ketika naik angkot kosong dan supirnya ngetem seabad, inget aja bahwa dia adalah suami dari seorang istri dan ayah dari anak-anaknya. Siapa tahu ia sedang butuh uang yang banyak untuk bekal sekolah anaknya, Makanya ia harus ngetem lama di tiap percabangan jalan demi dapet penumpang. Intinya, mencobalah berempati dan menempatkan diri sebagai mereka. Atau bisa juga dengan memposisikan mereka sebagai keluarga kita. Belajarlah memandang dengan menggunakan kacamata orang lain. Dengan begitu, kita bisa mengerti meski kita sejatinya tidak begitu memahami apa yang mereka rasakan. So, mari mulai hentikan kukulutuk/ngomel2 ke orang lain, terutama ke orang-orang kecil seperti tukang ojek, penjual roti kukus, satpam, waiter café, staf indomart, penjual tiket bioskop, OB kantor, dan lain-lain. Belajarlah lebih sabar dan mengerti. Bayangkan, bagaimana jika mereka adalah ayah atau ibu kita? Sedihkan? Apalagi jika mereka dicaci orang lain. Ouwh, I just can’t imagine. Tamat.

PS: hasyah! this is the most random post I’ve ever written.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s