[a talk] Bergerak atau Tertinggal?

Tadi malam saya berkunjung ke milis teman-teman seperjuangan. Widiiih, ternyata udah lama banget saya gak buka milis. Ternyata saya kemarin-kemarin sempat lalai dan egois. Sibuk mengurusi diri sendiri tanpa peduli pada umat. Wuihhhh, ayolah bangkit! Bergerak atau tertinggal, Ci?

Ternyata mengurusi umat itu bisa berimpact besar pada kehidupan pribadi lho. Secara logika, ketika kita sibuk mengurusi urusan umat maka kita akan melalaikan urusan pribadi. Tapi ini tidak berlaku dalam dakwah. Semakin banyak kita mengurusi urusan umat, maka semakin Allah mudahkan urusan diri sendiri.

Haha. Saya sempat khilaf. Makanya kemarin sedikit mengalami keos dalam menata diri. Ayo ah bangun! Seruan dakwah udah sayup-sayup kedengeran lagi. hehehe. Bismillah ­čÖé

[Menikah Denganmu] Di Jalan Dakwah Kami Menikah

Dulu, selalu saja, kapanpun, dimanapun, saya pasti menyelipkan satu buku dalam tas. Sebuah buku dengan cover warna pink berjudul Di Jalan Dakwah Aku Menikah karya ustadz Cahyadi Takariawan. Buku yang bagi saya bukan hanya kumpulan kertas bertulisan, melainkan asma penggugah jiwa, pemudar warna-warna hitam di dalam hati. Buku yang kemudian membuat saya mantap untuk memperjuangkan menikah di jalan dakwah. Continue reading

Romansa 3

“Bagaimana mungkin aku kecewa padamu sementara kau adalah bidadari yang murni Allah pilihkan untukku? Seperti yang selalu kukatakan, kekuranganmu adalah amanahku dan kelebihanmu adalah hadiahku” katamu.

18 Juli 2012
Semacam janji yang terlalu menyamankan hati.

Romansa 2

Apa kabar langit fajarmu? Masihkah bersemburat violet? Bagaimana dengan bianglala senja? Masih senang mencandai bougenvilla? Ah, langitku masih seperti kemarin, penuh kerinduan tanpa jeda. Kau tahu? aku tak pernah ingin eskrim. Tak pula sebuket rosa atau sepotong kembang gula. Cuma ingin kau mengangkasa dengan perkasa.. di langitku.. seperti yang sudah-sudah.

Maukah jumat ini kau datang lagi?

Bandung, 29 Mei 2012

[Menikah Denganmu] Kau di Senin Pagi

Acapkali aroma pagi meruak, aku menjadi sumringah. Gemericik air kolam membuat telingaku bergetar jumawa. Lalu uring-uringan ayam pejantan mengelabui alam bawah sadarku.

Pukul enam pagi.

Ya, aku terbangun untuk yang kedua kali setelah pukul tiga tadi.  Sejenak, begitu kunikmati aroma pagi. Aroma yang juga dihirup para petani nan bergegas meladang. Atau para pejabat yang menggagahi singgasananya di gedung indah di tengah kota. Aroma yang bagiku tersuguh bersama sepiring harapan baru tentang kehidupan yang lebih bernyawa, yang lebih baik. Continue reading