[a thought] Pincang

Entah. Tak ada gejolak yang dominan.

Itu mungkin satu-satunya yang bisa kuterjemahkan dari campur aduknya rasa dalam jiwa. Tentang sepotong pelangi yang membeku di sudut paru. TentangMu.

Apa kabar, jiwaku? Masihkah mencandai ilalang dan menghitung domba-domba sebelum tidur? Ah, Kau lebih tahu tentang ini. Bahkan tentang niatan emosiku di tiap detiknya, Engkau lebih tahu.

Ironi. Nyatanya aku tak mengerti, mencintaikah aku padaMu? Atau sekedar deklarasi tolol yang diamini sekumpulan iblis? Ah, tentu aku akan menjadi gila jika ternyata cintaku padaMu semu.

Di helaan yang lunglai, jujur aku ingin agar Kau hadir, bahkan hingga ujung kukuku. Lalu Kau menari dengan indah. Ah, Kau pasti melakukan itu jika saja hatiku benar-benar untukMu. Nyatanya? aku menduakanMu. Dan Kau enggan hadir. Maafkan aku.

Sebut saja aku membual. Ingin menujuMu namun sayapku patah. Kupatahkan, tepatnya. Sekali lagi, maaf. Aku yang katakan rindu, aku pula yang berlalu. Ah, ini sudah tak lagi normatif.

Secara ekstrem, aku rela mati demi mencintaiMu. Meski Kau tertawa. Itu lelucon, katamu. Ya, sepertinya begitu. Aku menjadi rendah diri dan semakin kerdil. Tersiksa. Ingin sekali mencintaiMu, bahkan dengan cara tersadis sekalipun. Kau tahu itu?

Lalu adakah yang lebih membebani selain ini? Rasa kecewa. Dan sedikit pedih. Entah sejak kapan aku begini rapuh. Sulit rasanya menjalani hidup yang tak kufahami. Ah, mengapa Engkau begitu sulit kucintai?

Satu tahta selalu ada untukMu, tertinggi. Namun Engkau tak kunjung kucintai. Entahlah… Lagi-lagi aku limbung, hilang pegangan. Sungguh menakutkan jika kuingat masa yang akan datang. Masih adakah Engkau dalam masa depanku? Aku menangis. Aku takut Engkau memudar.

Nyata sekali aku tak bisa tanpaMu. Seribu langkah kecil kulalui dalam kepincangan. Meski pernah Kau berjanji -yang mustahil Kau ingkari- bahwa Kau akan mendekat jika kudekati. Ah, tapi sulit sekali rasanya untuk menjangkau. Engkau yang terlalu jauh, atau memang usahaku saja yang masih terlalu murah?

*sudah Rajab, semoga saat Ramadhan tiba, aku telah mahir mencintaiMu*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s