[Menikah Denganmu] The Day

“Cepatlah tidur,” ujar Ibu.

“Sebentar lagi.” Aku memelas.

“Udah jam 11 lho, Dek” kakak perempuanku ikut-ikutan menimpali.

“Emmm,” mataku memicing. Masih berantakan. Ya, semuanya masih berantakan. Bunga-bunga yang baru dikirim tadi sore masih terdampar di pojok aula. Ratusan kursi tertumpuk acak di dekat pintu. Piring-piring terdengar berdentangan karna masih dirapikan. Begitu pula gelas, sendok, dan guci-guci.

Tukang-tukang bersahutan mengetok dinding dengan palu untuk memasang background. Panitia acara masih ramai berdiskusi. Ibu-ibu masih saja mengepulkan dapur.

“Tidurlah, Nak.” kali ini Bapak yang angkat bicara. Tampak sekali rona khawatir di air mukanya. “Biar Bapak yang mengurus semuanya.”

“Hm, satu jam lagi. Bolehkan?” aku kembali memelas.

“Gak boleh. Tidurlah. Biar besok segar. Sleeping beauty yah!” kakakku kembali berujar. Gemas melihatku yang masih mondar-mandir.

“Oke deh,” lalu aku menuju kamar meski tak ingin segera tidur.

Entahlah, bagiku tak ada malam yang lebih menegangkan dari malam yang kulalui kali ini. Aku menghela nafas. Besok insyaAllah adalah hari pertamaku sebagai seorang istri. There’s always a first time. Literally “first time” Hufffhh.

***

“Ceci itu kekurangannya banyak lho. Dek Galang mesti tahu itu.” gaya bahasa Bapak seolah mengatakan, “Beneran mau sama anak saya?”

“InsyaAllah, Pak. Kekurangan Ceci adalah amanah bagi saya, dan kelebihannya adalah hadiah.” Kak Galang mantap merespon.

“Saya memilih Ceci dengan serius. Bukan main-main. Ini hasil istikharah, Pak.”

“Meskipun Ceci bla..bla..bla..?” Bapak kembali mengkonfirmasi.

“Ya, meskipun Ceci bla..bla..bla..” Repetisi yang tegas.

“Jadi bagaimana, Pak?”

“Bapak mah menyerahkan semuanya pada Ceci. Datang lah lagi dua minggu ke depan. Kami beritahukan jawabannya.”

***

Masya Allah. I am the one in grey gown! Aku satu-satunya wanita yang mengenakan gaun abu-abu di hari ini. Gaun dengan kilauan payet menjuntai melebihi tumit. Ya! Kolaborasi warna yang elegan antara dark, soft, and pale grey membaluti seluruh bagian badanku. Jilbab tergerai hingga dada dengan ornamen glamour menempel cantik di bagian frontal, temporal, dan oksipetal kepala. Kuku-kuku dicat merah darah, tak kalah meronanya dengan kedua bagian pipi. Adapun bagian yang paling kusuka adalah mata. Teduh rasanya.

“Wahai Galang.. Bapak nikahkan ananda dengan putri bapak…”

Dari dalam kamar rias, sayup terdengar Bapak mulai mengucap ijab di mesjid. Tak tahulah seperti apa kondisi disana. Sepertinya Bapak tengah menjabat tangan Kak Galang. Lalu di sampingnya duduk dua orang saksi. Ada juga penghulu dan ratusan tamu undangan. Kurang lebih begitu.

Satu  hal saja yang kutahu pasti, disana ada satu tempat yang  akan ku isi. Ya, tempat kosong di samping Kak Galang. Tempat yang kemudian ingin kutempati selamanya.

“Terima saya nikah kepada putri bapak…”

Dengan terang kini kudengar Kak Galang mengucap kabul. Sebuah ikrar sakral terucap mengguncang arasy. Membuat riuh penghuni langit dan bumi. Membuat geram iblis-iblis. Dua insan telah menjadi genap, baik jiwa maupun agamanya. Galang. Ah, laki-laki ini telah memilihku menjadi teman hatinya. Di bawah persaksian Allah, di hadapan ratusan pasang mata manusia, ia meminta jiwa ragaku dari Bapak. Ia berjanji membersamaiku hingga akhir usia.

***

“Saya bermaksud melamar putri bapak,” Kak Galang datang kembali dalam dua pekan terakhir.

“Bapak minta Ceci saja yang menjawab,” ucapan Bapak menembus seluruh dimensi pikiranku. Dalam kondisi apapun, Bapak selalu tampil sebagai sosok yang bijak.

Aku menatap Bapak.

“Terbanglah, Nak. Mengangkasalah.” itulah siluet yang mampu kubaca dari raut wajah Bapak hari ini.

“Bapak sudah renta. Dan kau telah dewasa. Sudah saatnya bapak mempersilakanmu pergi. Merajut warna baru.”

Ah, Bapak. Malaikat tak bersayap yang selalu gagah. Aku menghela nafas. Mungkin memang sudah saatnya aku pergi. Mengangkasa bersama malaikat lain, dan itu bukan bapak.

“InsyaAllah, saya menerima lamaran Kak Galang.” jawabanku diringi riuh decak dzikir yang membahana. Kupersilakan Kak Galang menduduki singgasana baru di hatiku. Singgasana yang tinggi dan megah.

***

Menyisir jarak. Satu persatu lantai bermarmer di selasar mesjid aku jejaki. Ah, semakin dekat saja aku menuju ruang akad. Akad telah usai. Bapak, Kak Galang, Penghulu, dan semua tetap pada posisinya, menungguku muncul dari balik hijab.

Aku mulai masuk mesjid. Satu tempat kosong benar-benar ada untukku di samping Kak Galang. Ia duduk memunggungiku. Satu, dua, tiga langkah… aku semakin mendekat.

Ia menunduk. Jantungku berdetak kencang. Seluruh pasang mata menatapku yang tengah berjalan. Mencoba tersenyum. Berharap mereka menganggapku baik-baik saja meski sebenarnya tidak.

“Silakan duduk,” penghulu mempersilakanku.

Ya Allah, for the very first time aku duduk sangat dekat dengannya. For the very first time tanganku disentuhnya. For the very first time aku mencium punggung tangannya. Yes, indeed, there’s always a first time!

Hari ini aku telah sah menjadi seorang istri. Menjadi pendamping dari sesosok laki-laki yang kuyakini akan menggamit jemariku hingga ke surga. Alhamdulillah.

***

Abang Galang.

“Dek, Abang takut tidak bisa membahagiakan adek.” Nada kekhawatiran yang saban kali kudengar.

Aku menatap ke dalam matanya. “Abang, dengar, adek lebih lebih lebih dari sekedar bahagia bersama abang. Terima kasih telah memilih adek yang masih banyak kekurangan ini.”

Dia, Abang Galang.

Laki-laki yang sama sekali tanpa cela. Yang selalu ingin memberikan segalanya. Yang tak pernah rela jika aku sakit, meski secuil. Yang tanggung jawab dan kesabarannya lebih kokoh dari Eiffel. Yang cemas melihatku lelah. Yang enggan menyaksikanku menangis. Yang terindah.

“Terima kasih, Dek. Maaf, Abang juga masih banyak kekurangan. Maafin abang ya, Dek.” matanya menatapku semakin lekat.

“Abang pengen kita tetap seperti ini sampai kita tua. Abang mencintai adek hari ini, besok, dan selamanya karna Allah…”

Aku merekah.

***

Kuberitahu padamu sayang, sebagai apa kau di masa depanku:

Sebagai satu mata.

Sebagai sebuah sayap.

Sebagai separuh nafas.

Sebagai benar saat dunia berbohong.

Sebagai percaya di sekumpulan rimba keraguan.

Sebagai romantis.

Sebagai indah.

Sebagai aman.

Sebagai setengah hati.

Belahan jiwa.

Tak perlu kuberitahu seperti apa masa depanku tanpamu, bukan?

 ***

Abang mendekapku erat.

***

8 April 2012

Dengan sejuta rasa bahagia bergumul dalam jiwa.

We love life, not because we are used to living but because we are used to loving


3 thoughts on “[Menikah Denganmu] The Day

  1. GA SUKAAAAAAAAA… ucii, dalemmm gilaa
    uchi became the first bride among us.. >.<

    "…Seluruh pasang mata menatapku yang tengah berjalan…." <<– I was there, n tried to capture ur face..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s