[a thought] Kontemplasi

Ada masa dimana saya lebih memilih memarginalkan diri. Sendirian tenggelam dalam imaji. Berkontemplasi tentang arti berdiri saya disini, di bumi ini. Pernah saya coba menelisik eksotika alam raya dan kerumitannya. Tentang mengapa filosofi piramida atau paradigma menjajah begitu kuat mengisi otak-otak manusia modern, padahal mereka bukan penganut majusi atau paganism? Atau tentang mengapa ada orang seperti Irshad Manji? Terlebih, mengapa ada manusia-manusia yang setuju dengan dia?

Ah, saya masih terlalu kerdil untuk menjawab semua itu. Kadang saya tak mengerti tentang propaganda yang ada saat ini. Apakah ada hubungan mesra antara Iran dan Israel, mengingat Iran adalah Negara berpenduduk Yahudi terbesar setelah Israel? Atau, mengapa begitu marak manusia-manusia yang menyetarakan Islam dengan ideologi, padahal islam sendiri jauh lebih luas dari itu? Dan pertanyaan lainnya yang justru malah membuat saya tertunduk, merasa begitu bodoh.

Saya lalu mencermati diri di depan cermin. Saya seorang muslimah. Seyogyanya saya berkontribusi bagi peradaban. Tapi apakah saya sudah berikhtiar mematutkan diri? Itu dia masalahnya! Saya terlena. Padahal semua anak panah para pembenci telah terpicing pada Islam, yang mana saya adalah salah satu sasarannya. Naas! Saya terlempar ke dalam dogma yang dihadiahkan iblis-iblis: cinta dunia dan takut mati. Ah, entah sejauh apa saya terhanyut di dalamnya.

Sejenak saya memejamkan mata. Menatap keliaran dunia dalam bayangan. Bisa apa saya melawan dunia yang telah penuh sesak oleh orang-orang lalim? Kamu terlalu kerdil, Ci. Sekali lagi, terlalu kerdil! lirih saya dalam hati. Ah, tetapi tidak, bukankah sepatutnya saya berbesar hati, -lagi-lagi- karna saya seorang muslimah? Saya adalah pencetak generasi pembangun peradaban. Ya, saya seorang calon ibu. Dari rahim sayalah akan lahir manusia-manusia baru, yang jika saya didik dengan mengagumkan, maka mereka akan bertumbuh menjadi sosok yang juga mengagumkan.

Pertanyaannya sekarang adalah, sejauh apa persiapan saya untuk membentuk generasi yang mengagumkan itu? Cukupkah hanya dengan duduk manis di teras rumah sambil sesekali bergosip dengan tetangga? Atau dengan selonjoran depan tv sambil membuka majalah fashion? TIDAK. Tentu saja tidak cukup dengan itu. Dan saya  miris melihat para ibu yang seperti itu.

Lalu bagaimana? Bisakah saya jadi ibu yang baik? Itulah yang saya cemaskan sejak awal. Menjadi seorang ibu adalah hal luar biasa, baik bahagianya maupun tanggung jawabnya. Saya merasa panas dingin jika mengingat-ngingat tentang ini. Mengemban amanah sebagai seorang ibu, seperti apakah rasanya? Bisakah saya melakukan yang terbaik?

Ah, lalu seonggok pemikiran bermanuver di benak saya, mengapa saya harus takut? Allah telah membekali saya dengan baik. Dengan kisah muslimah-muslimah tangguh yang bisa saya ambil ibrahnya. Saya tinggal berazzam untuk menjadi ibu terbaik bagi anak-anak saya kelak. Itu saja.

Semoga saya termasuk wanita yang dipercaya Allah untuk menjadi seorang ibu. Ibu terbaik! Agar setitik donor kebaikan bisa saya berikan untuk peradaban islam, melalui malaikat-malaikat kecil luar biasa yang kelak lahir dari rahim saya. Aamiin.

Katakanlah (Muhammad), wahai ahli kitab! Marilah (kita) menuju pada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukannya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan –tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah, “Saksikanlah bahwa kami adalah muslim.” (QS Ali-Imran 64)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s