[Menikah Denganmu] Satu Bulan Pernikahan

Mungkin memang seperti itu cara kerja cinta: tak mudah diteorisasi, apalagi dijabarkan dalam prosa. Jika benar dan salah adalah mutlak, maka cinta adalah absurd. Cinta dan keabsurdan bak persamaan berbanding lurus yang selalu saling meneguhkan. Saling menambah nilai. Tanpa tapi. Tanpa alasan. Sungguh mengherankan.

Apa kabar, Cinta?

Begitu terang lidahku memanggilmu hari ini. Sejenak tersentak, bahwa cinta ternyata begitu lugas jika dibahasakan oleh jiwa. Ya, jiwa-jiwa yang mencinta, meski tetap absurd.

Cinta,

Sesederhana itu sajalah aku ingin mengenalimu. Memerhatikan detail molekul air mukamu yang bening, yang hanya bisa kuteliti saat kita hampir tak berjeda. Menghitung inci demi inci transformasi kharismamu, yang kemegahannya kusetarakan dengan Taj Mahal, bahkan lebih dari itu.

Tentangmu, Cinta, ingin rasanya menggapai asa-asa yang bergelantungan di tiap tatap matamu yang terjatuh padaku. Meleburnya bersama asa yang bergelamit di mataku. Asa kita. Lirih kudengar engkau berbisik, “Aku melihat mimpi-mimpimu di mimpiku.” Terima kasih.

Membersamaimu, Cinta, mungkin bisa terasa begitu melelahkan. Tapi kita tak pernah egois. Ibarat sepasang kaki, saat kau mengayun, akulah yang sejenak berdiam, mempersilahkanmu. Begitupun engkau. Mempersilahkanku mengayun dan kau berdiam, hingga langkah-langkah kecil kita seirama, tersisir hingga ke surga.

Mencintaimu, Cinta, sempat ada tanya, Seberapa besar cinta? Ah, kau ini.. bahkan sebelum Allah menciptakan massa, di lauhil mahfudz, aku telah ditakdirkan untuk mencintaimu dengan luas. Masihkah perlu kutimbang seberapa besar cinta (?)

Ketahuilah, aku hanya ingin mencintaimu dengan sederhana. Tanpa  pura-pura. Apalagi melebihi kadar cinta pada Tuhan dan kekasih-Nya. Cinta, selalu saja, adalah tentang bagaimana agar cintaku kepadamu bisa mengeksponensialkan besarnya cintaku pada Allah dan Kekasih-Nya. Adilkan?

Tak terasa sudah satu bulan, Cinta. Dan kurasakan hidup yang semakin tenang. Sakinah, orang menyebutnya. Percayalah, sebanyak kau mengulang kalimat “Aku takut kau tidak bahagia”, sebanyak itu pula aku teryakinkan bahwasannya aku sungguh berbahagia. Karna bahagia adalah tentang persepsi, dan persepsi tiap orang bergantung pada seberapa besar sudut yang ia tarik untuk memandang. Aku memilih untuk mengambil sudut terbesar, hingga pundi-pundi kebahagiaan begitu terasa meruah luas, membuka kungkungan sempitnya jarak pandang. Aku, memilih untuk bahagia. Mudah saja, bukan?

Dan kau, Cinta.. Dulu kau tiada, lalu kelak akan kembali tiada. Setidaknya itu yang kufahami. Sementara seantero bumi tahu betapa aku ingin agar kau tak menjauh, -bahkan sesenti pun-, apakah lantas aku harus lancang menyetop Tuhan saat Dia berniat menjauhkanmu dariku? atau menjadi limbung ketika tak kutemukan engkau di antara malam-malamku? Tentu tidak, walau sejatinya kapasitasku masih sangat kecil untuk berdiri sendirian.

Itulah fungsi iman, Cinta. Bagaimana aku harus mengerti bahwa bertemuku denganmu, bahkan berpisahku, lantaran Allah saja. Kita tidak sedang melakoni roman picisan, yang mencintai dengan membabi buta, lalu menjadi carut marut saat cinta berakhir. Kita memilih menyusuri jejak cinta Khadijah-Muhammad, atau Ali-Fatimah, yang ditiap geriknya terselip Allah. Ah, sungguh indah!

Cintaku, 30 hari lalu kau begitu asing, bahkan duduk di dekatmu pun rasa-rasanya tak mengenakkan. Lalu Allah melahirkan cinta, yang semakin hari bertumbuh ruah dalam hati kita. Ya, cinta karna Allah. Allah sajalah yang membalikkan hati hingga kini kita merasa begitu dekat tanpa jarak.

Cintaku, janganlah pernah kembali asing. Apapun yang terjadi nanti, jangan pernah kembali asing. Tetap seperti ini. Menjadi lelakiku. Menjadi imamku di dunia dan di surga.

Istrimu, cinta..

6 thoughts on “[Menikah Denganmu] Satu Bulan Pernikahan

  1. Uci.. terharu sekali…
    terima kasih nasihatnya ya
    Sekarang baru bisa paham,
    barakah itu seperti bunga, harumnya semerbak,
    bahkan bisa tercium oleh orang yang sekadar lewat.. barakallah🙂

  2. ucii…! tulisanmu membiusku dalam kekaguman yang tak terkatakan! gini deh efeknya kalo menulis pake hati, hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s