[a must] Kamu Cuma Butuh Satu Hal: Konsisten!

Beberapa kali saya mengernyitkan dahi membaca  judul postingan blog kali ini. “Kamu Cuma Butuh Satu Hal: Konsisten!” Cuma? Cuma? Cuma? Mari kita garis bawahi kata yang saya tulis tebal dan diulang sampai tiga kali di atas. Cuma? Hufh, it isn’t that easy, Nona!

Sepertinya para pembaca setia blog (ciyeeeh,lebai) sudah faham, bahwasannya ketika saya menggunakan kalimat perintah, nasehat, dan kalimat-kalimat kritik lainnya sebagai judul postingan di blog, maka sejatinya saya tengah bersiap mengoceh dan mengkritik diri saya sendiri. Sebutlah itu monolog atau komunikasi interpersonal, atau bahasa kerennya, ngomong olangan (?). Ya! Saya akan mencaci maki diri sendiri sampai saya sendiri pundung *lhoh?

Teringat beberapa memori yang telah lalu, ketika di suatu kesempatan saya dan teman-teman se-geng melakukan pembicaraan intim seputar diri pribadi kami masing-masing. kala itu seorang teman bertanya dengan fasih, “Apa yang kamu gak sukai, Uci?” Wow, tak terduga, ternyata pertanyaan ini begitu sulit dijawab –mengingat saya memanglah orang yang sangat mudah mengiyakan dan tak senang mendebat, apalagi bilang gak suka– Saya pun bersemedi beberapa menit untuk mencari jawabannya. (so’ mikir).

“Hmm, saya punya ranah toleransi yang luas. Saya lebih senang ikut arus daripada menentangnya, asalkan itu adalah hal baik dan untuk kebaikan.” saya berdehem sebentar (so’ cool). “Dengan kata lain, saya hampir menyukai banyak hal, atau dengan kata lain, saya gak tahu apa yang saya benci…” Cuihhh, jawaban saya saat itu sangat bertele-tele dan membuat perut mual, permirsa.hehe

“Eh eh, tapi ada satu hal yang sering saya benci…” teman-teman se-geng mulai menjatuhkan titik fokus matanya kembali pada muka saya. “Saya sering membenci diri sendiri.” #kemudian hening. kriik..kriiik

Ya, sejujurnya, secara random dan periodik, rasa benci pada diri sendiri sering datang tanpa diundang dan pulang tak ingin dipulangkan (meh, ngarang :p). Seperti hari ini, atau lima bulan yang lalu, atau satu tahun lalu, entah mengapa saya begitu membenci diri sendiri. Hmm, kenapa oh kenapa?

Entahlah. Bahkan terkadang saya tak mengerti dengan apa yang ada di tempurung kepala saya. Secara tiba-tiba and in the bad way, saya mulai memaki dan terpuruk, membenci diri!

Tapi kali ini

Tiba-tiba saja..

*Triiiing! Ahaa

kali ini saya mendapat ilham. Pertanyaan jelimet yang bersarang terus-menerus di kepala saya rasa-rasanya akan segera terjawab. Tentang kebencian saya terhadap diri.

Begitu sesak rasanya napas saya ketika seorang psikolog membacakan isi selembar hasil tes psikologi di hadapan muka saya. Ia bilang, “Ci, kamu punya segudang talenta, sebut saja multitalented. Tapi kamu kesulitan untuk mengembangkannya gara-gara kamu mudah jenuh, Ci.”

Hwaaaa. Sepertinya pernyataan itu terlalu sialan untuk dibilang sialan. Tidak. Tidak bersalah, pun kertas dan mbak psikolognya. Saya yang bersalah. Benar adanya kecurigaan saya selama ini, bahwa saya mengalami sindrom mudah jenuh, dan itu sangat berbahaya bagi kehidupan saya, juga sangat saya benci. Huks!

Ya, saya merasa diri ini tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang sulit konsisten, atau mudah jenuh, atau bahasa gaulnya, tidak istiqamah. Padahal, konsistenlah yang bisa membuahkan hasil dari sebuah usaha yang telah dilakukan. Saya begitu payah, bukan?

Beberapa waktu lalu saya mendapat kabar dari seorang teman, bahwasannya Rumah Belajar yang dia bangun baru saja masuk program Kick Andy. Hey, kemana komunitas jalanan yang saya bangun? ah, saya tidak konsisten. Komunitas saya sudah lama masuk ICU, kritis, gak keurus.

Lalu seorang teman yang lain telah menerbitkan buku. Lah, mana buku yang katanya mau saya bikin? lagi-lagi saya tidak konsisten. Bukunya cuman setengah jadi, dan orang kurang waras sekalipun tahu kalo buku setengah jadi gak akan pernah bisa dirilis. Saya memang payah.

Tak jauh berbeda dengan seorang teman lainnya, yang hafalan qurannya sudah sampai belasan juz. Ckckck. Mana hafalan quran saya? Ah, again and again.. saya tidak konsisten. Bahkan yang dihafal pun sudah terlalu banyak yang menguap dari benak. Mengenaskan!

Tentang saya yang katanya punya talenta yang bervariasi; tentang saya yang katanya punya attitude yang baik dan otak yang cerdas; Semua hal baik tentang saya… kesemuanya itu bisa saja menciut dan layu karna ketidakkonsistenan yang berakar dalam diri saya. Payah.. sekali lagi saya katakan, payah..

Lalu apa? Apa yang harus saya lakukan? Ah, pertanyaan bualan yang sering diucapkan para pecundang dan orang-orang kalah. Tak sekompleks itu kok. Saya cuma butuh satu hal: konsisten! Ya, konsisten sajalah dalam menjalankan hal-hal baik. Konsisten sajalah! Konsisten sajalah! Karna konsisten itu adalah salah satu tanda syukur. Pada tuhan. Ya, pada Tuhan yang telah menghidupkan dan mengatur kehidupan.

Kamu cuma butuh satu hal, uci: Konsisten!

2 thoughts on “[a must] Kamu Cuma Butuh Satu Hal: Konsisten!

  1. hm,,, sewaktu saya membaca artikel ini,, saya cukup tersinggung dengan ungkapan-ungkapan yang anda tulis.
    ternyata saya seperti aya yang anda utarakan….
    artikel yang bagus… saya menjadi sadar setlah membaca artikel ini… ternyata satu hal yang seperti sepele tp sangat berdampak signipikan pada kelangsungan hidup saya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s