[Menikah Denganmu] Satu Bulan Pernikahan

Mungkin memang seperti itu cara kerja cinta: tak mudah diteorisasi, apalagi dijabarkan dalam prosa. Jika benar dan salah adalah mutlak, maka cinta adalah absurd. Cinta dan keabsurdan bak persamaan berbanding lurus yang selalu saling meneguhkan. Saling menambah nilai. Tanpa tapi. Tanpa alasan. Sungguh mengherankan.

Apa kabar, Cinta?

Begitu terang lidahku memanggilmu hari ini. Sejenak tersentak, bahwa cinta ternyata begitu lugas jika dibahasakan oleh jiwa. Ya, jiwa-jiwa yang mencinta, meski tetap absurd. Continue reading

[a must] Kamu Cuma Butuh Satu Hal: Konsisten!

Beberapa kali saya mengernyitkan dahi membaca ┬ájudul postingan blog kali ini. “Kamu Cuma Butuh Satu Hal: Konsisten!” Cuma? Cuma? Cuma? Mari kita garis bawahi kata yang saya tulis tebal dan diulang sampai tiga kali di atas. Cuma? Hufh, it isn’t that easy, Nona!

Sepertinya para pembaca setia blog (ciyeeeh,lebai) sudah faham, bahwasannya ketika saya menggunakan kalimat perintah, nasehat, dan kalimat-kalimat kritik lainnya sebagai judul postingan di blog, maka sejatinya saya tengah bersiap mengoceh dan mengkritik diri saya sendiri. Sebutlah itu monolog atau komunikasi interpersonal, atau bahasa kerennya, ngomong olangan (?). Ya! Saya akan mencaci maki diri sendiri sampai saya sendiri pundung *lhoh? Continue reading