Menikah Denganmu

Di antara kabut-kabut waktu, sejenak engkau menjelma, tak utuh. Apa kabar? Ah, tak terduga hingga detik ini kita tak pernah saling bicara. Tapi tak apa, memang sudah semestinya.

Telah begitu jauh sepasang kaki kita melangkah. Rasa-rasanya tak ada alasan untuk berhenti. Meski lirih, meski pernah terjewantah seulas tanya,  siapa kita? Untuk apa? Tetap tak ada alasan untuk berhenti.

Hei, Kak..

Adakah kau merasakan kegundahan mendalam malam ini? Aku iya, resah. Tentang jalinan ini, akankah ia melesat jauh hingga ke surga? Lantas membuat bidadari-bidadari disana cemburu buta. Pada kita. Pada kisah kita yang tak urakan, apalagi picisan. Akankah?

“Ya, insyaAllah.” Lagi-lagi jawaban diplomatis kudapati dari engkau.
Terima kasih. Gundahku mereda.

Sementara kutemukan ikrarmu diantara helaian jiwa: untuk menggamit jemariku menuju relung-relung jannah, lalu tak melepasnya. Seperti halnya jiwaku, yang nyata telah bertaruh: membersamaimu, sepanjang jalan, hingga lebih lama dari selamanya.

Semoga kakak selalu bertakwa, dan meleburku ikut di dalamnya. 

Suci.

Bandung, 23 Januari 2012.

1 hari setelah khitbah.


8 thoughts on “Menikah Denganmu

  1. Uci, barakallah ya ukhty sayang. Maafkeun aku kemarin ndak bisa datang ke walimahanmu. Semoga Allah selalu memberkahi ikatan yang sudah terjalin, semoga Allah menambahkan rizki di setiap amanah yang semakin bertambah, dan semoga Allah melapangkan jalan menuju jannah-Nya. (*peluk-kecup)

  2. Uciiii barakalllahh….🙂 sakinah mawaddah wa rohmah… hingga lebih lama dari selamanya ^_^ selamat menikmati indahnya pernikahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s