[a story] Galaksi Kinanthi

Sudahlah..

Aku sudah tidak punya doa untukmu..

Selesai. Tuhan sudah terlalu baik.tidak pantas aku merepotkan Dia terus menerus. Bukankah sudah hampir 2 tahun kausibukkan aku dengan doa-doa sebelum tidur?

Lanjutkan hidupmu. Namun, aku tak akan meminta izin jika sewaktu-waktu ingin menggambar wajahmu. Aku harap bukan dengan air baru. Aku bosan. Penyiksaan itu telah menua. Ketika setiap ingatan tentang engkau mengubah keceriaan.

Aku tak menjanjikan apapun . Tidak, bahwa aku akan melupakanmu atau malah mengabadikan tawamu. Bukankah sejak namamu ada di kepalaku, hampir sepuluh tahun lalu, aku pun tidak pernah berkata apa-apa?

Langit adalah arenamu, terbanglah. Aku tidak akan berkata apa-apa. Ini bukan sebuah pengorbanan. Sebab, aku memang tak pernah merasa berhak atasmu. Engkau akan selalu menjadi keajaiban bagiku. Bahkan diammu, dulu.

Terima kasih, karena engkau pernah menangis untukku. Aku tidak pernah bertanya dan engkau pun membiarkannya sebagai misteri. Mengapa harus berkaca-kaca? Hanya sekali, itu sudah cukup untuk membangun surga di mimpiku. Engkau tak harus tahu, penjaraku membuat setiap jeda napasku adalah kebuntuan.

Apa di masa depan, biarkan.

Bahkan, engkau akan tetap remaja, meskipun usia kita kelak telah menua. Aku yang berdosa. Bahkan, mengingatmu mungkin…adalah dosa. Namun, bukankah kau tahu, aku terlahir dengan seragam dosa?

Ah, aku ingin berbagi mimpiku dulu. Aku hanya butuh sepotong sore yang tenang, angin sepoi, dan helaan pada pucuk-pucuk ilalang. Kita menikmati matahari dan sinarnya yang kelelahan. Namun, mimpi itu tak akan menyata, meskipun aku memiliki surga.

Kematian tidak akan pernah menyatukan. Ini aku, gadis kecil yang engkau tahu dulu. Aku tetaplah aku sepuluh tahun yang lalu. Tidak pernah benar-benar beranjak dari waktu itu. Aku terperangkap, mungkin selamanya.

Namun, tak perlu kau pikirkan itu. Aku sudah terbiasa dengan ini. Aku tidak akan apa-apa. Tuhan sudah membekaliku dengan baik. Lewat engkau, Dia memang menjajahku. Namunm Dia sudah mengguyuriku dengan kesenangan lain. Meskipun aku benar-benar butuh surga untuk menggantikanmu.

Jadi, sudahlah. Aku tidak lagi punya doa buatmu. Waktu punya caranya sendiri melewatkan segala ini.

Sudahlah..mengepaklah.

***

Apa kabar?

Bagaimana hidupmu? Kau tahu, hidupku semakin tidak mudah. Takdir masih mencandaiku. Apa yang kau lakukan sebenarnya? Mengapa kau tetap bergeming di kepalaku dan tak hendak bergeming?

Bukankah sudah upersilahkan padamu untuk mengawan? Jujur, aku takut. Sepuluh tahun atau dua puluh tahun kedepan aku tak muda lagi. Apa yang aku alami nanti?

Apakah tidak ada perubahan dan dunia menjadi begitu menyesakkan? Sepuluh atau dua puluh tahun lagi, apakah kau tetap menjejali otakku, seperti juga hampir dua tahun terakhir ini?

Apa kabarmu hari ini? Masihkah sendu matamu itu? Aku tahu kau tak akan terganti. Sekuat apapun aura kedatangan orang baru pada hidupku, kau akan selalu menang. Seperti hampir dua tahun ini.

Katakana kepadaku, bagaimana hidup ini mesti kujalani? Kau Tanya apakah aku lelah? Ya, aku lelah. Belakangan lebih-lebih. Ketika aku sadar aku tak remaja lagi. Aku mulai ketakutan karena semakin jauh dari masa kanak-kanak dulu. Semakin jauh dari waktu ketika aku merasa memilikimu, meski aku tak pernah memilikimu.

Sekarang, tanpa menyalahkan janjimu, aku kehilangan semua kata-katamu. Bahwa aku selamanya bagimu. Bahwa…kau mengembalikanku ke masa itu. Tidakkah ku penting bagimu? Pernahkah kau memikirkan sedang apa aku hari ini? Sementara ketika kau mendatangi mimpiku, aku menangis.

Aku merasakan kehadiranmu, saat itu. Aura hatimu. Senyum surgamu. Bahkan, setelah aku tak lagi berharap untuk bertemu, aku tetap menginginkan auramu. Berharap kau mampir sejenak di bunga tidurku. Sejenak saja, dan itu sudah cukup membuatku menangis. Setelah dunia ini, kita tetap tak akan menyatu. Lalu, dimana aku bisa menemuimu? Semakin aku merasa pernah memiliki, semakin keras rasanya kehilangan. Jadi, mana yang lebih baik?

Ini bukan tentangmu, melainkan aku. Kau tahu, tiba-tiba aku mengkhawatirkan masa depanku. Sesuatu yang dulu tidak pernah kupikirkan. Dimanakah kau pada masa depanku? Ketika kita telah semakin menua dan lemah. Dimanakah kau pada waktu itu? Masihkah kau akan memberikan senyummu?

Tiba-tiba aku ketakutan dan kehilangan pegangan. Ketika pertama setelah begitu jauh langkah kakiku dan aku tak pernah ragu atau berhenti. Tiba-tiba, aku begini rapuh dan berharap kau ada disini. Menatapku, mengetahui aku. Memahami apa yang dibenakku…hampir sepuluh tahun itu.

Masih berhakkah aku menemuimu, meluruhkan segala resahku. Mungkin sudah tidak lagi. Atau, memang tidak pernah aku memiliki hak untuk itu. Yang pasti, aku begitu merindukanmu,…berkeinginan merengkuh tanganmu. Menangis di pelukmu.

Bisakah? Tentu saja tidak. Kau pun pasti akan menolak.

Mungkin, ini waktuku untuk melangkah lagi. Aku menua dengan rasa yang tersisa. Mungkin, aku akan membaginya kepada orang-orang. Aku akan sisakan sedikit untuk tetap mengingatmu.

Bukan mauku, tapi memang takdir ini mengharuskanku berbuat begitu. Kau begitu kuat…auramu begitu kuat. Aku sangat rindu…sangat ingin mendengar hangat suaramu. Seperti dulu.

***

Hari ini terasa lebih menyakitkan. Sebab, kau telah berjanji. Sebuah janji yang kuperbolehkan jika kau ingkari. Aku lelah, kau tahu? Menginginkan suaramu pada saat itu haram bagiku…bagimu.

Aku lelah, setiap  kuberkhayal perjalanan ini masih begitu panjang dan aku masih akan mengingatmu. Kau melupakanku, meminggirkanku, menafikanku. Jadi, aku harus mengingat orang yang  melupakanku, meminggirkanku, dan menafikanku. Jangan kau ajari cara melupakanmu. Aku lebih tahu itu. Hari-hariku lebih fasih mengeja rasa itu. Sekuat apapun ku mencoba, tetap saja…aku rindu.

Di luar kekuatanku untuk menolaknya, aku akan tetap menunggumu…sekedar salammu, suara embunmu.

***

Aku menunggumu. Sederet kalimat paling normative sekalipun. Tapi tidak. Kau tidak menyapaku dengan cara yang paling sederhana sekalipun. Meski telah kuduga, berderak juga otak ini rasanya. Kau benar-benar meminggirkanku. Rupanya semua sudah selesai. Seperti memang seharusnya semua harus selesai.

Aku mengundangmu lagi…

Aku hanya sebentar ingin menyapa auramu. Apa kabar? Lihat, aku tersenyum. Terheran-heran, mengapa kau masih begini hebat?

Tidak apa-apa. Kau tak lagi mengingatku…tidak apa-apa. Kau mngenyahkan aku…juga tidak apa-apa. Tidak tahu…rasanya semakin putus asa saja.

***

Malam tadi kau datang tidak berbicara kepadaku. Tapi, matamu itu. Aku terbangun, air mata menetes lagi. Rindu bukan kepalang. Auramu…masih terasa hingga kini. Sedangkan kau semakin menjauh.

***

Aku mengingat air matamu. Perasaan…memilikimu. Rindu yang menghentak dadaku. Memelukmu hingga berat napasku, sempit rongga jiwaku. Bisakah kelak, kusaksikan lagi wajahmu…meski ku tak ada disitu. Meski kau tak menyadari adaku. Tak apa jika ketika itu kau bersama cintamu. Melihat kebahagiaanmu, meski itu neraka bagiku.

***

TASARO

http://lautanhati89.wordpress.com/2011/07/05/dulu-astu-kali-ini-kinanthi/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s