[a talk] Menyukaimu dan Disukaimu

Suka. Menyukai. Ah, aku selalu tak punya jabaran tentang ini. Ketika kau bertanya, “Kau menyukai apa? Tidak menyukai apa?” maka aku akan kelimpungan setengah mati untuk menyusun jawabannya. Namun jika benar-benar aku harus menjawab, kukatakan, “Aku hampir tidak pernah membenci  apapun.”

Nah! Kau akan menjadi bingung dengan jawabanku yang terlalu diplomatis. Tapi ketika kau menyangkalnya, jutru akulah yang menjadi bingung. Rasa-rasanya, tak ada yang lebih tepat dari kalimatku barusan.  Lalu sekali-kali dengan lirih aku akan bertanya  pada hati kecil, “Hey, kamu hampir tidak pernah membenci apapun. Iya kan?” Dan kesemuaan lobus hatiku akan saling berdiskusi dengan bergemuruh.

Ya. Ternyata jawaban hatiku adalah iya. Aku hampir tidak pernah membenci apapun -walau sejatinya, tidak membenci bukan berarti suka-. Hmmm, benarkah? Mungkin iya, mungkin sangat iya. Aku selalu mempunyai investasi berupa toleransi yang besar, pada apapun, pada siapapun. Itulah yang menyebabkan aku tidak mudah membenci sesuatu.

Ah, itu dulu. Yap. Aku berani berkata begitu pada zaman dulu. Sekarang? Kondisiku yang sekarang ternyata menuntutku untuk lebih bisa tegas, berada di garis hitamkah? atau putih? Tak ada lagi abu-abu. Aku harus bisa memastikan, apa saja yang kusukai dan apa yang tidak. Aku jua harus memastikan itu darimu.

***

Suka. Menyukai. Kali ini aku punya jabaran jelas tentang ini. Ketika kau bertanya, “Kau menyukai apa? Tidak menyukai apa?” maka dengan lugas aku akan menjawabnya. “Aku suka jika kau menyukaiku dan tak suka jika kau tak menyukaiku.”

Lagi-lagi jawabanku terlalu diplomatis. Maaf. Tapi begitulah aku. Aku memang terlalu pengecut untuk berkata bahwasannya aku ingin kau menyukaiku. Cukuplah itu aku gumulkan dalam jiwa. Dalam hening. Kala malam. Jikalau pagi menjelang, aku hanya akan menerimamu apa adanya. Ya, menerimamu sebagai satu tokoh pemain dalam skenario hidupku yang datar.

Tapi..

Lagi-lagi aku bisa mentoleransi keambiguan ini. Keambiguan tentang aku dan kau. Aku telah menyiapkan samudera toleransi yang luas jikalau kau ternyata tidak menyukaiku. Yasudahlah. Walau sejatinya aku kemudian merasa menjadi wanita paling menyedihkan di dunia ini.

Ah, kenapa aku begitu lembek?

Pojok hikmah:

Tulisan di atas adalah contoh kisah seseorang yang mengharapkan dicintai oleh pasangannya. Setelah membuat tulisan di atas, dan seiring bertambah usia, saya semakin faham tentang rasanya mencintai. Pada orang tua, keluarga, lawan jenis, alam, dan masih banyak lagi. Namun, sejauh usia yang tertempa juga, saya (hampir) lupa bahwa ada Dzat yang jauh lebih patut dan wajib untuk saya cintai, Allah Azza Wa Jalla.

Memang, sangat sering saya mendengar kalimat “mencintai Allah” atau “dicintai Allah”, tapi sejujurnya, baru kali ini saya begitu tertarik dan ingin menjadi makhluk yang mencintai dan dicintai-Nya. *sedih sih, kemana aja saya selama ini? hufffh.

Allah SWT berfirman,

“Adapun orang-orang yang beriman, Amat sangat cintanya kepada Allah.” (QS. Al Baqarah: 165)

Dari ayat ini saya tahu bahwa hanya orang-orang beriman lah yang bisa menumbuhkan cintanya pada Allah. (alhamdulillah, saya termasuk orang beriman. insyaAllah.hehe. tapi cinta pada Allahnya masih jauh dari sempurna)

Lalu, setelah saya beriman, apa saja hal yang bisa memicu saya untuk mencintai Allah dengan sebenar-benarnya cinta? Check it out, saya kutip dari eramuslim.com:

  1. Hendaklah ia melihat dirinya sendiri, bukankah dia mencintai dirinya itu, mencintai kesempurnaannya, mencintai kelanggengannya dan membenci hal-hal yang dapat mencelakakannya, mengurangi kesempurnaanya dan meninadakannya. Jika dia begitu mencintai dirinya sendiri lalu mengapa dia tidak mencintai Allah SWT yang telah mengadakan dirinya, memberikan kesempurnaan dan berbagai kelebihan kepadanya?Tentulah jika ia mau obyektif dan jujur melihat hal itu pastilah ia akan lebih mencintai Allah daripada dirinya sendiri. Hasan al Bashri mengatakan, ”Siapa yang mengetahui Tuhannya, pasti mencintai-Nya dan siapa yang mengetahui dunia pasti menjauhinya.”
  2. Dirinya pastilah mencintai orang yang telah berbuat baik kepadanya, memperlakukannya secara lemah lembut, memberikannya bantuan, pembelaan dan perlindungan dari hal-hal yang dapat mencelakannya. Jika dirinya pun mau jujur pastilah dia akan menjadikan kecintaan yang utama adalah kepada Allah SWT karena Dia lah yang memberikan segala sesuatu yang ada pada dirinya sehingga dirinya bisa menikmati kehidupannya dengan sempurna melebihi daripada semua orang yang telah berbuat baik kepada dirinya walaupun jika semua perbuatan baik mereka itu dijadikan satu jika dibandingkan dengan kenikmatan yang telah berikan Allah kepadanya.وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ
    Artinya : “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nahl [16] : 18)
  3. Dirinya pun mencintai orang-orang yang melakukan kebaikan meskipun kebaikannya itu tidak sampai kepadanya atau tidak didapatkannya, seperti kecintaannya kepada seorang penguasa alim, adil, ahli ibadah dan menyayangi rakyatnya. Tentunya kecintaan kepada Allah haruslah lebih utama daripadanya karena Allah lah yang telah berbuat baik kepada semua pihak dan berjasa kepada semua makhluk.
Begitu banyak alasan logis untuk mencintai Allah, tapi kenapa saya malah risau dengan cinta pada makhluk? Ah, masih nol besar pemahaman saya😦

Imam Bukhori meriwayatkan dari Anas bahwa seorang laki-laki dari penduduk kampung datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata; “Wahai Rasulullah, kapankah hari Kiamat akan terjadi?” beliau menjawab: “Celaka kamu, apa yang telah kau persiapkan?” laki-laki itu berkata; “Aku belum mempersiapkan bekal kecuali aku hanya mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Beliau bersabda: “Kalau begitu, kamu bersama dengan orang yang kamu cintai.” 

Subhanallah. Merinding rasanya membaca hadist ini. Semangat memperbaiki cinta, Uci! DEMI ALLAH. DEMI BERTEMU DENGAN ALLAH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s