[a must] Selama Jantung Berdetak, Berhusnudzanlah!

Ada perbedaan signifikan antara reaksi dua wanita muda ketika mendapati handuk mereka sudah terjatuh dari jemuran pada suatu ketika. Wanita pertama menggerutu, mengutuki orang lain yang dia kira telah menjatuhkannya. Sementara wanita kedua, memungut helai handuknya dengan santai. Ia yakin bahwa anginlah yang mesti bertanggung jawab atas kejadian itu. Nyatanya? Nyatanya handuk mereka memang terjatuh lantaran angin.

Sungguh beruntung si wanita kedua. Ia tak perlu mengotori hatinya dengan praduga dan asumsi-asumsi ngawur. Ia pun tak perlu membuang-buang energi untuk bersumpah serapah. Ia, seorang husnudzan-er (?).

Bagi saya, orang yang berhusnudzan adalah mereka yang selalu punya banyak kacamata. Maksudnya, mereka selalu punya seribu cara pandang sebelum akhirnya mereka memilih salah satunya. Dan itu sangat mengesankan. Sepertinya, tak berlebihan jika saya katakan mereka adalah para manusia cerdas dan bijak.

Saya selalu iri pada mereka yang terampil dalam berhusnudzan. Adem ayem, begitu sebagian orang mengatakan. Ketika sebuah kejadian bertandang dalam hidup seseorang, sudah barang tentu terbawa dua pilihan, akankah kejadian itu disoroti dari sudut pandang positif? atau sebaliknya? Dan para husnudzan-er tentu saja akan memilih untuk berpikir positif. Once you replace negative thoughts with positive ones, you’ll start having positive results!

Kemarin sore, seorang teman tiba-tiba saja berceloteh, “Uci, kamu selalu positive thinking. Asik deh! Hidup kamu kayaknya tenang.” Kata-kata ini kemudian saya bungkusi dan kantongi rapat-rapat, lalu saya hamburkan di suatu malam yang senyap.

Husnudzan? Benarkah saya selalu berhusnudzan? Ah.. ternyata tidak😦. Saya hanya mudah mentoleransi kesemrawutan dan kesalahan. Dan tentu saja itu tidak termasuk kategori husnudzan, karna memang saya tidak berfikir positif -pun tak juga berpikir negatif-. Intinya sih lebih ke Yasudahlah ya. Wong udah terjadi, ya mau diapain lagi tho?

Namun dari indirect teasing (?) seorang teman kemaren sore itu, saya menangkap sekelebat hikmah. Kenapa saya tidak berhusnudzan saja? Pada apapun, siapapun, kapanpun! Karna sekali lagi saya katakan, sungguh mengesankan orang-orang yang terampil berhusnudzan itu. Hidup mereka dipenuhi energi positif. Menggiurkan bukan?

Pagi ini, dengan segudang energi dan semangat baru untuk berubah, saya gantungkan kata HUSNUDZAN ini di satu sudut asa di hati saya, yang secara nyata terealisasi di “Dream Corner” di salahsatu pojok kamar saya. Ya, semua keinginan biasanya akan saya tulis di Dream Corner, termasuk keinginan untuk selalu berhusnudzan ini.

sengaja dibuat buram. There’s some secret dreams.hehe

Hey, Uci! Selama jantung berdetak, kenapa kamu tak berhusnudzan saja? Pada apapun, siapapun, kapanpun. 

Pojok hikmah:

Menurut literatur yang saya baca, husnudzan itu merupakan ibadah hati. Anjuran berhusnudzan ada dalam surat Ali Imran 191. Yang dilarang dalam islam adalah suudzan, sesuai dengan QS AlHujarat ayat 12: “Hai orang-orang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa…”

Sebaik-baik husnudzan adalah pada Allah SWT, Dzat yang Maha Baik. Dari sebuah hadist Qudsi riwayat Bukhari-Muslim dinyatakan, “Aku sesuai sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku…” Nah, secara terang Allah menganjurkan kita untuk berhusnudzan. Dan ketahuilah, bahwa berhusnudzan kepada Allah adalah pangkal dari husnudzan-husnudzan lainnya. Jika kita bisa berhusnudzan pada Allah, dengan mudah kita akan mampu berhusnudzan pada makhluk.

Lalu, seperti apa bentuk berhusnudzan kepada Allah itu? Abu al-Abbas al-Qurthubi rahimahullah berkata, berperasangka (yakin) dikabulkan doa saat berdoa, diterima saat bertaubat, diampuni saat istighfar, dan berperasangka akan diterima amal-amal saat menjalankannya sesuai dengan syarat-syaratnya; ia berpegang teguh dengan Dzat yang janji-Nya benar dan karunia-Nya melimpah. Aku katakan, ini dikuatkan oleh Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,

ادْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإجَابَةِ

“Berdoalah kepada Allah sementara kalian yakin diijabahi.” (HR. Al-Tirmidi dengan sanad shahih).

Selain itu, dari lanjutan hadist qudsi di awal disebutkan, “…Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku…” Berdasarkan hadits di atas, husnudzan kepada Allah memiliki hubungan kuat dengan amal shalih. Karena setelah Allah menganjurkan kita untuk berhusnudzan pada-Nya di penghulu hadist, lalu disebutkan anjuran untuk berdzikir dan mendekatkan diri dengan amal ketaatan kepada-Nya. Dengan kata lain, siapa yang berprasangka baik kepada Allah pasti ia terdorong untuk berbuat baik. Itulah mengapa saya katakan bahwa setelah kita mampu berhusnudzan pada Allah, kita akan dengan mudah berhusnudzan pada makhluk (sebagai bentuk perbuatan baik). Wallahu’alam. (reference: Voice of Islam-Aqidah)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s