[a live] Kita, di Bulan Januari

Pertemuan itu terjadi di penghulu tahun, denganmu. Ah, sebelumnya, setitik pun tak ada dalam benak, bahwa aku akan begitu mudah mencintaimu. Kala itu, saat pertama kali kita bertemu, kau menatapku dengan seksama. Entah.. entah apa yang bergumul di jiwamu kala itu.

Tatapanku padamu, tak kalah seksama. Tapi kutahu dengan pasti, apa yang bergumul di jiwaku. Maha Suci Tuhanku, yang telah mempertemukanku dengan sosokmu. Begitu renyah jiwaku berkata-kata.

Benar adanya perkataan seorang teman, bahwasannya aku adalah tipikal manusia yang mudah jatuh cinta. Hmmm, mungkin iya. Aku memang begitu mudah mencintai biru dan kelamnya langit, kering dan beceknya tanah, tangis dan tawa anak kecil. Begitu pun padamu. Sejak pertama aku menjabat tanganmu, kutahu, aku telah terjatuh.

Sejak pertemuan kita di bulan Januari itu, aku semakin saja mencintaimu. Bukan, bukan lagi jatuh cinta. Rasa cinta itu berkembang menjadi serat-serat kasih sayang. Ya, tak terduga aku tiba-tiba saja menyayangimu.

Maha Kuasa Tuhanku dan Tuhanmu, yang telah menumbuhkan perasaan indah ini dijiwaku, dan mungkin jiwamu. Kau mungkin merasakan sayangku padamu, dan aku pun merasakan rasa sayangmu padaku, dari tatapanmu yang sejuk, dari sapaanmu yang lembut, dari nada bicaramu yang berjiwa.

Ah, aku jadi merinduimu. Setiap sore. Ya, sore yang bertengger selalu saja mengingatkanku padamu. Sedang apa engkau? Berbahagiakah? Semoga saja iya, karna aku pun berbahagia.

Begitu lekat di memori, saat suatu sore kau menyapaku di telepon. Katamu, kau ingin tahu sedang apa aku. Benar adanya bahwa kata-katamu jauh lebih romantis dari celotehan Rumi sekalipun, sungguh! Lalu Aku menjadi enggan meluruskan lengkungan bibirku hingga pagi tiba. Senyum bahagia🙂

Kemudian ketika kau menghadiahi sehelai kain cantik padaku, kau tahu? Aku merasa menjadi wanita paling bahagia. Senyumku kala itu, tak berhenti hingga malam berganti siang dan sebaliknya. Terima kasih.. terima kasih banyak, Ibu🙂


Ibu?

Ya, tentu saja aku berbicara padamu, Bu. Bukankah Allah mengirimmu bersama kilau-kilau sinar, untukku?

Pojok hikmah:

“Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya segala apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri berupa kebaikan”. [HR. Bukhari-Muslim].

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s