[a must] Istri Penghuni Surga

“Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: “Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha.” (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257. Silsilah Al-Ahadits Ash Shahihah, Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah, no. 287)

Ini hadistnya subhanallah banget. Tentu saja setiap muslimah punya keinginan tuk jadi istri penghuni surga. Merinding banget baca hadist ini :’). Semangat mengamalkan! *bagi yang sudah bersuami 🙂

Advertisements

[a story] Galaksi Kinanthi

Sudahlah..

Aku sudah tidak punya doa untukmu..

Selesai. Tuhan sudah terlalu baik.tidak pantas aku merepotkan Dia terus menerus. Bukankah sudah hampir 2 tahun kausibukkan aku dengan doa-doa sebelum tidur?

Lanjutkan hidupmu. Namun, aku tak akan meminta izin jika sewaktu-waktu ingin menggambar wajahmu. Aku harap bukan dengan air baru. Aku bosan. Penyiksaan itu telah menua. Ketika setiap ingatan tentang engkau mengubah keceriaan.

Aku tak menjanjikan apapun . Tidak, bahwa aku akan melupakanmu atau malah mengabadikan tawamu. Bukankah sejak namamu ada di kepalaku, hampir sepuluh tahun lalu, aku pun tidak pernah berkata apa-apa?

Langit adalah arenamu, terbanglah. Aku tidak akan berkata apa-apa. Ini bukan sebuah pengorbanan. Sebab, aku memang tak pernah merasa berhak atasmu. Engkau akan selalu menjadi keajaiban bagiku. Bahkan diammu, dulu.

Terima kasih, karena engkau pernah menangis untukku. Aku tidak pernah bertanya dan engkau pun membiarkannya sebagai misteri. Mengapa harus berkaca-kaca? Hanya sekali, itu sudah cukup untuk membangun surga di mimpiku. Engkau tak harus tahu, penjaraku membuat setiap jeda napasku adalah kebuntuan.

Apa di masa depan, biarkan.

Bahkan, engkau akan tetap remaja, meskipun usia kita kelak telah menua. Aku yang berdosa. Bahkan, mengingatmu mungkin…adalah dosa. Namun, bukankah kau tahu, aku terlahir dengan seragam dosa?

Ah, aku ingin berbagi mimpiku dulu. Aku hanya butuh sepotong sore yang tenang, angin sepoi, dan helaan pada pucuk-pucuk ilalang. Kita menikmati matahari dan sinarnya yang kelelahan. Namun, mimpi itu tak akan menyata, meskipun aku memiliki surga.

Kematian tidak akan pernah menyatukan. Ini aku, gadis kecil yang engkau tahu dulu. Aku tetaplah aku sepuluh tahun yang lalu. Tidak pernah benar-benar beranjak dari waktu itu. Aku terperangkap, mungkin selamanya.

Namun, tak perlu kau pikirkan itu. Aku sudah terbiasa dengan ini. Aku tidak akan apa-apa. Tuhan sudah membekaliku dengan baik. Lewat engkau, Dia memang menjajahku. Namunm Dia sudah mengguyuriku dengan kesenangan lain. Meskipun aku benar-benar butuh surga untuk menggantikanmu.

Jadi, sudahlah. Aku tidak lagi punya doa buatmu. Waktu punya caranya sendiri melewatkan segala ini.

Sudahlah..mengepaklah. Continue reading

[a must] Selama Jantung Berdetak, Berhusnudzanlah!

Ada perbedaan signifikan antara reaksi dua wanita muda ketika mendapati handuk mereka sudah terjatuh dari jemuran pada suatu ketika. Wanita pertama menggerutu, mengutuki orang lain yang dia kira telah menjatuhkannya. Sementara wanita kedua, memungut helai handuknya dengan santai. Ia yakin bahwa anginlah yang mesti bertanggung jawab atas kejadian itu. Nyatanya? Nyatanya handuk mereka memang terjatuh lantaran angin.

Sungguh beruntung si wanita kedua. Ia tak perlu mengotori hatinya dengan praduga dan asumsi-asumsi ngawur. Ia pun tak perlu membuang-buang energi untuk bersumpah serapah. Ia, seorang husnudzan-er (?).

Bagi saya, orang yang berhusnudzan adalah mereka yang selalu punya banyak kacamata. Maksudnya, mereka selalu punya seribu cara pandang sebelum akhirnya mereka memilih salah satunya. Dan itu sangat mengesankan. Sepertinya, tak berlebihan jika saya katakan mereka adalah para manusia cerdas dan bijak.

Saya selalu iri pada mereka yang terampil dalam berhusnudzan. Adem ayem, begitu sebagian orang mengatakan. Ketika sebuah kejadian bertandang dalam hidup seseorang, sudah barang tentu terbawa dua pilihan, akankah kejadian itu disoroti dari sudut pandang positif? atau sebaliknya? Dan para husnudzan-er tentu saja akan memilih untuk berpikir positif. Once you replace negative thoughts with positive ones, you’ll start having positive results!

Kemarin sore, seorang teman tiba-tiba saja berceloteh, “Uci, kamu selalu positive thinking. Asik deh! Hidup kamu kayaknya tenang.” Kata-kata ini kemudian saya bungkusi dan kantongi rapat-rapat, lalu saya hamburkan di suatu malam yang senyap.

Husnudzan? Benarkah saya selalu berhusnudzan? Ah.. ternyata tidak :(. Continue reading