[a live] Kesederhanaan Sukma

“Maaf ya. Kondisi kontrakan kami emang segini adanya.” Sukma, sepupu sekaligus sahabat kecilku itu mempersilakan aku duduk meleseh di ruang sempit ukuran 3x3meter. Tak banyak perabotan di dalamnya, hanya sebuah tv 12inch dipojok ruangan, sebuah kasur ukuran single tak berseprai, sebuah karpet tipis, dan baju-baju terlipat rapi di meja karna tak ada lemari.

“Ehmmm, aku mau nanya sesuatu, Ma. Bolehkah?” aku segan bertanya pada Sukma. “Ya. Santai aja.” Sukma menangkap keraguan di wajahku. “Hmmm, rrrr, gi..gi..gimana rasanya menikah?” aku malu. Ya, malu rasanya membicarakan pernikahan.

“Oh.” Sukma merapikan duduknya mendekatiku. Ia menggenggam tanganku. “Kamu akan menikah sebentar lagi kan? Sini, aku ceritakan tentang pernikahan berdasarkan pengalamanku.” Sukma yang telah memasuki bulan ketiga pernikahan, memulai cerita dengan basmallah.

“Kang Surya datang ke rumah saat Ayahku sakit keras. Ia menyatakan ingin meminangku, Ci. Kamu tahu lah ya cerita awalnya gimana.” Sukma memandangku, kubalas dengan anggukan. “Kang Surya datang di saat kondisiku sangat rapuh. Ia meminta aku dari Ayah.”

“Aku sangat ingat saat ia berbicara pada Ayah yang terbaring tak berdaya. Pak, saya minta izin untuk menikahi putri bapak. Terlihat sekali air mukanya yang serius. Lalu tanpa terduga, Ayah mengangguk meski lemah.”

“Beberapa hari menjelang pernikahan, Ayah meninggal. Kamu juga tahu kan ceritanya?” aku mengangguk lagi. “Nah, saat itu aku sempat bertanya pada Kang Surya, Kang, saya gak mau dinikahi hanya karna Akang kasian sama saya yang yatim piatu. Lalu Kang Surya menatap saya dan berkata, saya mencintaimu.”

“Lalu kami pun menikah alakadarnya. Sehari sebelum menikah Kang Surya berkata padaku, Aku tak punya apa-apa. Mungkin aku akan membuatmu susah. Berjanjilah kau akan bersabar. Kita mulai rumah tangga ini dari nol. Aku mengangguk.”

“Sekarang ya beginilah kondisi kami, Ci. Dengan gaji Kang Surya yang tidak seberapa, kami harus pintar-pintar mengatur keuangan. Kami harus berpikir seribu kali jika ingin membeli perabot atau keperluan lainnya, takut uangnya tak mencukupi untuk resiko dapur.”

“Tapi, Cici. Jangan berpikir bahwa aku menyesal telah menikah dengan Kang Surya. Kalau saja aku tahu bahwa begitu tentram dan bahagianya hati setelah menikah, mungkin aku tak akan menunda-nundanya.”

“Benar adanya firman Allah yang menyebutkan bahwa akan muncul Sakinah/ketentraman dalam sebuah ikatan pernikahan. Aku merasakannya saat ini.”

“Aku percaya insyaAllah Cici bisa menjalani pernikahan dengan indah. Cici shalihah. Cici pun menggunakan tata cara islami dalam berkenalan dengan calon Cici. Tujuan pernikahan Cici baik. Caranya pun baik. InsyaAllah rumah tangga kalian pun akan barakah. Aku dan Kang Surya memang pacaran, Ci. Tapi setelah menikah aku mulai mengerti mengapa banyak ikhwan-akhwat yang memilih cara taaruf secara islami. Karna memang hal itu sangat baik untuk dilakukan.” Sukma berhenti dan mempersilakanku menanggapi.

“Aku tak meragukan calonku itu, Ma. Aku justru meragukan diriku sendiri. Bisakah aku jadi istri shalihah nantinya?” aku menyela. “Pede aja kali, Ci. Berpegang pada tali agama Allah. Tunaikan tuntunan-tuntunannya. Bukankah Allah sudah menerangkan dengan jelas bagaimana caranya menjadi istri shalihah? Lakukan saja sesuai perintah Allah. Aku yakin kamu bisa!” Sukma mencubit pipiku.

Aku dan Sukma bertatapan penuh haru. Baru kemarin rasanya kami bermain petak umpet. Baru kemarin rasanya kami pergi sekolah bersama-sama. Kini Sukma sudah berlipat-lipat kali lebih dewasa dari yang dulu. Tampak sekali aura  bahagia dari tiap pancaran matanya.

Ia tak punya apa-apa. Bahkan ia tak berani membeli seprai untuk menutupi kasur singlenya itu, takut gak cukup untuk resiko dapur, Ci. Begitulah Sukma. Ia rela makan setengah porsi demi melihat suami tercintanya makan dengan  kenyang saat pulang kerja. Ia rela tinggal di ruangan sempit. Ia rela menangguhkan keinginannya membeli baju baru sementara baju-bajunya semakin lusuh. Aku menerima Kang Surya bukan karna dunia. Aku mengharapkan akhirat, Ci. Sukma, wanita yang begitu shalihah.

Terima kasih atas pelajaran berharga darimu, Sukma. Alhamdulillah. Tentu saja aku ingin berlomba denganmu, untuk menjadi istri shalihah yang dirindukan surga🙂

Bandung, Januari 2012, 10.12 AM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s