[a live] Kesederhanaan Sukma

“Maaf ya. Kondisi kontrakan kami emang segini adanya.” Sukma, sepupu sekaligus sahabat kecilku itu mempersilakan aku duduk meleseh di ruang sempit ukuran 3x3meter. Tak banyak perabotan di dalamnya, hanya sebuah tv 12inch dipojok ruangan, sebuah kasur ukuran single tak berseprai, sebuah karpet tipis, dan baju-baju terlipat rapi di meja karna tak ada lemari.

“Ehmmm, aku mau nanya sesuatu, Ma. Bolehkah?” aku segan bertanya pada Sukma. “Ya. Santai aja.” Sukma menangkap keraguan di wajahku. “Hmmm, rrrr, gi..gi..gimana rasanya menikah?” aku malu. Ya, malu rasanya membicarakan pernikahan.

“Oh.” Sukma merapikan duduknya mendekatiku. Ia menggenggam tanganku. “Kamu akan menikah sebentar lagi kan? Sini, aku ceritakan tentang pernikahan berdasarkan pengalamanku.” Sukma yang telah memasuki bulan ketiga pernikahan, memulai cerita dengan basmallah. Continue reading

Advertisements

[a word] Puisi dari Ziad untuk Saya

Ukhti, 

Hari ini aku kukuhkan segala hasrat di jiwa

kulangkahkan kakiku dengan segala cinta dan pintaku

menuju cinta yang akan kita bina

tapi maafkanlah

mungkin hari ini, detik ini

aku takkan mengatakan cinta

belum saatnya aku ungkapkan sayang

belum waktunya aku lepaskan rindu

jangan kau tanyakan perihal rinduku yang menggebu

tak usah kau bertanya seberapa dalam cintaku

aku tak mau cinta ini ternodai 

aku tak ingin kasih ini teracuni

kusimpan cinta ini di kiblatmu

jika memang kau benar-benar mencintaiku

maka bersujudlah mohon ampunan kepada Sang Pemberi Cinta

pintalah kebaikan dari-Nya

Kutitipkan rindu ini di mushafmu

Apabila kau rasakan rindu, basuhlah wajahmu

buka dan renungi pesan dan tuntunan yang Ia ajarkan 

larutlah dalam mentadaburi makna-makna yang dikandungnya

Ukhti,

jagalah cintamu untuk ikhwan yang halal bagimu

begitupun aku

jika suatu saat kita ditakdirkan untuk bersama

kau akan tahu dimana aku akan labuhkan hati ini

tuangkan cinta ini,

sangkarkan melodi rindu di hati ini

——————————

Puisi ini dibuat oleh Ziad, kakak sepupu saya, pada tanggal 22 Januari 2012. Ziad memberi judul “Suara Hati Seorang Ikhwan.” Terima kasih untuk semua kasih sayang dan nasihat dari keluarga dan orang-orang yang begitu mencintai saya. Semoga Allah membalas semua kebaikan kalian. aamiin.

Menikah Denganmu [Kata-Kata Kecil Untuk Seorang Tuan]

[Bismillahirrahmaanirrahim]

Hey Tuan..

Aku menerimamu,

semata karna kecintaanmu pada Allah dan Rasul-Nya. Ya. Karna pengabdian sakral  yang kau haturkan untuk Allah, dan penghormatan-penghormatan tertinggi yang kau hadiahkan untuk Rasulullah Muhammad saw.

Aku menerimamu,

semata karna keteguhan perjuanganmu mengejar takwa. Kau tak limbung meski lelah dan penuh luka. Kau melangkah tegap di jalan yang musuh-musuh Allah membencinya. Jalan yang para munafik menakutinya. Jalan yang para pemalas mengabaikannya. Jalan Dakwah.

Aku menerimamu,

semata karna baktimu pada wanita bernama Ibu. Kau menyantuninya dengan mempesona. Kau menyejukkan jiwanya. Kau luar biasa di matanya.

Aku menerimamu, Continue reading

[a talk] Resolusi Besarmu Ini, Perlukah Diketahui Banyak Orang, Nona?

Adakah yang jauh lebih konyol dari menulis resolusi-resolusi pribadi di media sosial? Ah. Hanya bisa tertawa getir. Bukan menertawakan mereka yang senang mengumumkan resolusi luar biasanya di media umum. Tentu bukan! Dengan kapasitas toleransiku yang begitu besar, aku seringkali tak ambil pusing dengan tindakan orang lain. Pun saat mereka memutuskan untuk menyampaikan mimpi dan resolusi itu ke khalayak umum, ya mangga. Silakan.

Lalu untuk apa kegetiran tawa itu?

Untuk jiwa dan diriku sendiri. Entahlah. Aku merasa terlalu banyak beromong kosong! Aisssshhhh, sungguh heran dengan jalan pemikiranku yang dulu. Konyol! Aku begitu bersemangat mengumumkan mimpi, cita-cita, dan resolusiku di media umum. Dalihku, “Semangatmu perlu ditularkan, Nona!”. Naas. Alih-alih menularkan semangat, malah riskan ketiban penyakit RIYA. Naudzubillah.

Lalu aku merasa jijik pada kekeliruan-kekeliruanku terdahulu. Misalnya aku menulis status facebook, “Selamat puasa sunnah di hari Senin!” yang tujuan awalnya untuk mengingatkan orang lain agar shaum sunah, namun disadari atau tidak, hal ini sekaligus menjadi ajang pencitraan, gue puasa lhoo hari ini! Fatal, bukan?

Atau saat tahun baru masehi menjelang, aku sibuk menuliskan di blog, “Resolusi 2012: Tilawah Quran 30 juz sehari (lebay cuy).” Perlu waspadalah, karna terselip dua tujuan berbeda dibalik kalimat maha dahsyat tersebut. Pertama, tujuan bersyiar untuk  meningkatkan tilawah quran di tahun yang baru. Kedua, tujuan mengumumkan bahwa, di tahun yang baru ini gue akan lebih rajin tilawah lhooo!  Miris. Amalan luar biasa ini menjadi bias karna diumbar dengan sadis di media umum. Fatal, bukan?

Hm, mungkin maksud ‘fatal’ku disini belum begitu terang dan jelas. Begini, dulu, saat aku kanak-kanak, sering aku mendapat petuah sederhana dari Ibu Guru, bahwa saat tangan kanan melakukan kebaikan, maka tangan kiri tak boleh tahu. Amal kebaikan itu barakahnya dilakukan dalam sunyi. Hanya si manusia dan Allah yang tahu. Akan menjadi sangat fatal ketika amal-amal kebaikan itu diumbar di depan khalayak.

Tapi kan itu salahsatu bentuk syiar? Ah, segudang cara bersyiar yang jauh lebih ‘aman’ dapat aku lakukan kok. Yang jelas, terlepas dari apapun opini orang lain tentang ini, kukatakan dengan lembut namun tegas, “Mimpi dan resolusi besarku kali ini, akan kupeluk saja seorang diri. Dalam sunyi.” 

Sekian.

Wallahu’alam.