[a live] Woman In The Mirror

Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam selalu berbuat adil terhadap istri-istrinya, baik dalam hal harta, waktu, dan perhatian. Tapi tahukah engkau, bahwa dalam membagi perasaan dan cinta, Rasulullah tidak dapat membaginya sama rata.

Rasulullah lebih mencintai Aisyah ra dibanding istri-istrinya yang lain. Beliau selalu berdoa pada Allah SWT, “Ya Allah, inilah pembagian yang dapat aku lakukan.” Begitulah! Rasulullah tidak dapat adil dalam membagi hati.

Aku sempat menangis mendengar kisah ini di radio MQ. Allah sajalah yang mampu membolak-balikkan hati. Dia yang berkehendak menciptakan cinta dalam hati makhluknya, termasuk dalam hati Rasulullah saw. Ah, Allah sajalah yang menumbuhkan cinta dihati seseorang, untuk seseorang yang lain.

Hati adalah tempat bernaungnya rasa. Hati adalah ladang tempat bertumbuhnya cinta. Dan bagiku, hati adalah sebuah amanah. Ketika Allah berkehendak menumbuhkan cinta dihatiku, maka kewajibanku lah menjaganya dan mengolahnya dengan cara yang baik. Continue reading

Susah Tidur

Selama 21 tahun hidup di dunia, baru 2 hari terakhir ini aku merasa sangat sulit memejamkan mata di kala malam. Padahal aku sudah berlelah-lelah seharian di lab. Padahal aku sudah kepayahan menahan lapar dan haus. Padahal aku tak berhenti beraktivitas sampai pukul 9 malam.

Harusnya aku bisa tidur cepat. Harusnya aku dapat tidur pulas. Tapi entahlah. Aku tetap tak bisa tidur. Ah, mungkin Allah ingin menegurku saja. Karna kemarin aku lupa bersyukur atas nikmat tidur. Subhanallah, walhamdulillah, wala ilaaha illallahu 🙂

Sehatlah!

Kenapa kamu harus sehat?

Karna saat kamu sakit, ibadahmu pada-Nya menjadi sulit dan itu merugikanmu.

Kenapa kamu harus sehat?

Karna saat kamu sakit, ibumu pun ikut merasa sakit. Pun ayahmu, kakakmu, adikmu, dan orang-orang yang mencintaimu.

Maka, sehatlah!
Atau setidaknya, berperilakulah seolah kamu sehat!

[Boromeus,2011]

[a word] Ya Allah

“Ya Allah, Engkau dimana? Engkau terasa begitu jauh. Aku tak bisa mendekati-Mu. Kini aku terseok-seok merangkak menuju Engkau. Tapi Engkau tetap tak terjangkau.

Ya Allah, bukankah jika aku merangkak menuju-Mu, Engkau akan berjalan lebih cepat menuju-Ku? Bukankah satu langkahku akan Kau balas seribu langkah? Engkau dimana, Ya Rabb?  Aku masih saja tak mampu merasakan.

Apakah aku terlalu rendah untuk mendekati Engkau? Atau, usahaku saja yang masih terlalu murah? Ya Allah, aku rindu menangis karna Engkau. Aku rindu mencintai Engkau. 

(2 Ramadhan 1432H, di sela-sela Tarawih di Mesjid Salman ITB)