Titik Hampir

Kau pikir menyenangkan, mengulum kopi pahit berlama-lama di mulut asammu? Kau pikir mengagumkan, berkata ‘tidak’ untuk sesuatu yang seharusnya kau ‘iya’kan? Sungguh, seperti itulah cinta bagiku. Cinta… kosakata yang entahlah, aku tak pernah mengerti seperti apa cara kerjanya.

Aku tak pernah jatuh cinta. Aku pun tak tahu bagaimana rasanya cinta larut di darahku. Karna selalu saja, cinta berhenti di titik ‘hampir’. Ya! hampir jatuh cinta.

Tak perlu jujur, karna Tuhan jauh lebih tahu. Bahwa menghentikan cinta jauh lebih pahit dari sekadar menyeruput kopi tanpa gula. Ah, cinta. Membuatku menghena nafas panjang.

Aku memang selalu menang melawan cinta. Selalu dapat berdiri kembali meski limbung. Tapi itu kemarin. Untuk hari ini dan masa depan? Aku tak menjamin. Aku tak tahu apakah cinta tetap akan berhenti di titik ‘hampir’.

Maka sudahlah. Cinta bukan makananku. Mencintai bukan keahlianku. Aku kerap panas dingin. Denyutku tak kalah kencang dengan napasku. Aku lelah!

Benar adanya kelelahan itu. Terlebih ketika harus mempertahankan rasa di titik ‘hampir’. Tak lebih dari itu. Sungguh sakit dan merasa bodoh! Bagaimana bisa kuberkata ‘tidak’ untuk hal yang sejatinya kerap di’iya’kan hati? Aku menipu diri.

Bagaimana dengan dicintai? Sama lelahnya! Lelah untuk berpikir. Lelah untuk mengolahnya di ingatan. Seringkali ingin kucoreng mukaku agar tak ada yg tau keberadaanku. Kadang ingin sekadar mengusir diri dari hingar bingar manusia. Ah, sungguh menjijikkan.

Sudah cukup kepayahan ini. Aku tak mau bermain lagi di arena ini. Untuk kau yang hampir kucintai,“Terlalu berharga buliran energiku untuk menyulam nama asingmu. Walau mengingatmu adalah menyenangkan, tapi lantas apa untungnya buatku? Kembali, kuhentikan jatuh cinta ini di titik hampir. Selamat tinggal.”

Untuk kau. Kau yang katanya mencintaiku. “Mengapa tak kau coba bersahabat saja dengan malaikat penjagaku? Ketuk pintu rumahnya dan katakan kau ingin ikut pula menjagaku. Kau mencintaiku. Ah, itu pun jika kau benar mencintaiku.”

Lalu sekarang, aku ingin seperti ini saja. Cinta tak lagi menjadi zona nyaman bagiku. Aku hanya akan duduk beberapa masa. Sampai benar-benar matang kutahu tentang cinta.

Bandung, 2011 


2 thoughts on “Titik Hampir

  1. membaca ini seperti deja vu..
    dulu saya pun enggan sekali berkenalan dengan yang namanya cinta..
    aah, waktu memang telah merubah banyak, banyak sekali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s