Tetep, Kriteria Utama adalah Agama

2Juni 2011, 12.29 AM.

Hari ini, ketika perasaanku bercampur-aduk antara bingung, cemas, capek, gelisah, cinta, suka -dan aku tak pernah tahu rasa apa yang dominan-, akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi seorang sahabat. Ingin rasanya kucurahkan segala unek-unek ini. Ingin rasanya kukatakan padanya bahwa aku bosan terus menerus begini. Tak tentu. Tak jelas. Tak pasti.

“Satu saja pesanku  buatmu, Ci. Istikharah dan lihatlah di antara mereka siapa yang paling baik agamanya. Gak perlu ragu untuk memilih cowok sholeh, sejelek atau semiskin apapun ia. Jangan kayak aku, Ci.”

Dia melanjutkan, “Hanya karena masalah gak penting, calonku membatalkan pertunangan. Pernikahan bagi dia sepertinya bukan untuk beribadah. Pemikiran dia tentang menikah terlalu kerdil, Ci.” Sahabatku ini lalu menjabarkan detail-detail pembatalan pertunangannya yang tentu saja tak bisa kujelaskan disini.

Lalu aku teringat isi buku Catatan Pernikahan buah karya Helvy Tiana Rosa. Terdapat sebuah dialog menarik sebagai berikut: Saat perselingkuhan sang suami tertangkap basah, ia berkata pada istrinya, “Lara, aku minta maaf. Semua ini terjadi lantaran aku melupakan-Nya, menjauhi-Nya. Maka sungguh, akan kuperbaiki hubunganku dengan-Nya dan hubunganku denganmu.”

atau dibuku lain, kutemukan dialog ini:

Saat seorang Istri selalu mengatakan dirinya jelek dan gemuk, sang suami kemudian berkata, “Aku tak peduli. Engkau sungguh cantik di hadapan Allah. Engkau sungguhlah wanita yang bahunya membuatku nyaman untuk bersandar, yang senyumnya membuatku berbunga, yang suaranya membuatku lelap tertidur. Bagaimana mungkin engkau mengatakan bahwa engkau tak cantik? Sungguh, engkau jauh lebih cantik dari bidadari surga. Sebab itulah, dalam tiap sholat kukatakan pada Allah, Allah, aku tak ingin bidadari. Aku hanya ingin bersama istriku lebih dari selamanya.”

Widiiiiih, so sweeetttt.

Aku mengangguk. Ternyata, tetap saja, kriteria utama dalam memilih calon haruslah agama. Tak dapat kubayangkan, bagaimana jadinya ketika para suami dalam dialog di atas adalah orang yang tak mengerti agama. Sereeeem.

Benar perkataan seorang sahabat Rasulullah, “Nikahilah ia karena agamanya. Jika ia mencintaimu, ia akan memperlakukanmu dengan baik. Jika ia tidak mencintaimu, setidaknya ia tak akan menyakitimu.” Terima kasih. Kata-kata itu selalu terngiang dan bergema di ruang telingaku. Jika diibaratkan harta, rupa, dan tahta sebagai angka nol, maka seungguhnya agama adalah angka satu. Sejauh apapun tampan dan kayanya ia, jika tanpa agama, ia tetaplah sederet angka nol tanpa makna.

Sempat aku lupa, saat seseorang mendatangiku dan membawa cinta. Hampir saja aku lupa bagaimana agamanya? Baikkah? burukkah? Ah, untung saja kemudian aku insyaf. Agama, mau gak mau, suka gak suka, haruslah jadi pertimbangan utamaku.

Kemudian aku berbicara pada seorang wanita di cermin, yang tak lain adalah diriku sendiri. Kukatakan, “Tak perlu khawatir dengan siapa engkau bersanding kelak. Khawatirkanlah ibadahmu, akhlakmu, dan ilmumu. Karena sungguh, ketika baik ibadah, akhlak, dan ilmumu, maka InsyaAllah Allah akan mengirimu seorang yang juga baik ibadah, akhlak, dan ilmunya. Allah berjanji menyandingkan wanita baik-baik untuk laki-laki baik, begitu pun sebaliknya.”

Lantas aku menerawang ke gerimisnya langit. Ya, jauh di atas sana, Allah telah menyimpan seseorang untukku. “Ah, Allah. Engkau tahu aku. Engkau tahu kadar keimananku. Engkau tahu tingkat ketakwaanku. Engkau tahu, seberapa besar usahaku menjaga diri dan hati. Engkau Maha Tahu, dengan siapa aku layak disandingkan.”

“Satu saja yang kupinta. Kirimkan seseorang yang bisa membuatku lebih sering menempelkan anggota sujudku di sejadah, lebih sering mendendangkan AlQuran, dan lebih mencintai-Mu karena cintanya. aamiin.”

4 thoughts on “Tetep, Kriteria Utama adalah Agama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s