[a word] Apalagi Kalau Bukan…

Kupikir, kolong langit tak perlu tahu tentang keakraban kita. Pun pasak-pasak bumi, tak mestilah mereka mengerti perbincangan malam kita di pojok beranda.

Kupikir, cicak-cicak tak perlu tahu tentang kehangatan kita. Pun dinding-dinding gedung, tak mestilah mereka faham kebiasaan kita bercengkrama di pinggir kota

Sungguh mudah kuterka jika,
Hampir setiap hari aku bersamamu, lalu meminjamkan alas makanku, lalu meminjamkan alat mandiku, lalu berbagi tempat tidurku.

Dan mudah pula untuk kauterka jika,
Kau sering bersamaku, lalu meminjamkan alas makanmu, lalu meminjamkan alat mandimu, lalu berbagi tempat tidurmu.
Ya,
Apalagi namanya kalau bukan keluarga?

Tak peduli kau dari ras apa, keturunan siapa, suku mana,
Tak peduli pula kau mau, benci, dan takut apa,
Toh hakikatnya kita sama
Sama-sama susah
Sama-sama terpinggirkan
Sama-sama mencari celah keluar dari lubang jalanan

Kenapa lantas kau risih dengan perbedaan?
Bukankah setiap manusia sarat akan perbedaan?
Aku justru menyukai perbedaan
Perbedaan membuatku mengenalmu dan kau mengenalku

Lalu mengapa kita tak saling bertegur sapa saja dan mengukir sekelebat senyum?
Bukankah kita keluarga?

Puisi ini saya buat khusus untuk adik-adik Dewi Sartika yang kemaren sempet berantem.. Tapi alhamdulillah udah baikaaaan😀. Senaaangnyaaaa😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s