Menipu Tuhan

“Apa isi ranselmu, Elang?” segelegar suara terasa menjejali telinga. “Bukan apa-apa” aku mengelak. “Apa isi ranselmu, Elang?” Semakin tegas. Keras sekali membombandir lubang telinga. “Bukan apa-apa.” aku kembali mengelak. “Apa isi ranselmu, Elang Wibowo?” repetisi ketiga. Hampir saja memecah gendang telinga. “Ini apel.” aku mengaku. Suaraku merendah. “Darimana kau dapatkan apel itu?” “Kubeli di pasar.” Ucapku lugas. “Kau berbohong. Kau akan masuk neraka!”

***

Tubuh-tubuh dalam kelas. Tubuh-tubuh kecil terbungkus kain merah putih. Tubuh-tubuh berkaos kali melorot dan bersepatu kumal. Tubuh-tubuh berperut kembang kempis. Tubuh-tubuh bergerak bagai undur-undur. Satu tubuh berlari seperti anak kucing, dikejar satu tubuh lain yang lebih cocok disebut kudanil. Satu tubuh melompat-lompat, dua tubuh lainnya memutar-mutar kepangan karet. Di pojok kelas, satu tubuh duduk bertopang dagu, tubuhku.

Hidup begitu tak adil. Tubuh-tubuh lain tak diberitahu kemana mereka kelak dijebloskan, surga kah? Neraka kah? Itulah sebabnya mereka bersenang-senang. Berkejaran, berlompatan. Sementara aku? Hari ini aku resmi menjadi calon penghuni neraka. Ya, tengoklah toko buku. Seandainya Tuhan mengarang buku berjudul Daftar Penghuni Neraka, namaku pastilah sudah tertulis dengan nyata disana. Elang Wibowo; Penghuni neraka termuda; Masuk neraka pada usia tujuh tahun. Begitulah kira-kira isinya.

Ah, aku tak bernafsu bermain-main lagi. Setiap kali bermain kejar-kejaran, aku teringat neraka. Setiap bermain lompat-lompatan, aku pun teringat neraka. Cocok sekali aku bersenandung lagunya Tante Evie Tamala, “Mau makaaan teringat padamuuu. Mau tiduur teringat padamuuuuu…” Ya, sungguh menyedihkan hidupku ini.

Semua ini karena mimpiku semalam. Setelah melewati pemikiran yang panjang, setelah meniru-niru gaya kakakku dalam menafsirkan mimpi, akhirnya sampai juga aku pada sebuah simpulan fantastik. Berdialog dengan Tuhan! Ya, kuyakini Tuhan mengajakku mengobrol dalam mimpi tadi malam. Ia menanyakan dari mana kudapatkan apel dalam ranselku. Namun sayang seribu sayang, aku lantas membohongi-Nya. Apel itu bukan kubeli, melainkan kucuri dari toko Pak Tono. Ah, andai saja aku tahu itu suara Tuhan, tentu saja aku tak akan berbohong. Mana berani aku menipu Tuhan.

Penafsiran kedua dari mimpi itu adalah, karena aku berbohong, Tuhan menjadi marah dan menetapkanku sebagai penghuni neraka. Ini yang paling berat. Bagaimana hidupku empat puluh tahun ke depan akan dibayang-bayangi neraka dan segala isinya. Meminum nanah, memakan bangkai, dipanggang ala ayam, disetrika bagai taplak meja. Ah, sungguh tak bisa kubayangkan bagaimana depresinya hidupku sejak hari ini. Selamat datang bayang-bayang neraka! Begitulah ucapan selamat yang paling cocok untukku.

***

Ransel kudekap. Sepatu kujinjing. Ujung-ujung jari kaki saja yang menapaki lantai. Napas kutahan sekuat tenaga. Kuharap ibu tak tahu kepulanganku dari sekolah. Aku hanya ingin cepat-cepat menuju kamar lalu membungkus seluruh tubuhku dengan selimut. Malu rasanya dilihati Tuhan sepanjang perjalanan menuju rumah.

Sayang bukan kepalang, Tuhan ternyata masih marah atas kebohonganku di mimpi itu. Tuhan menakdirkan Ibu mencium jejak kepulanganku. Naas! Kudapati ibu tengah mondar-mandir di kamar sembari mengelus-elus alat persembunyian yang kuidamkan sejak tadi, selimut! Ah, Tuhan. Kenapa Engkau begitu pendendam? Lirihku dalam hati. Ya, kuyakini semua ini terjadi lantaran Dia mendendamiku.

Tak habis akal, aku pun menuju tempat jemuran. Kucari seprai yang tadi pagi dicuci ibu. Rencananya, seprai itu akan kubawa ke gudang, dan akan kututupkan ke sekujur tubuhku sehingga tak mampulah Tuhan melihatku. Semua ini karena aku merasa sangat malu telah membohongi-Nya. Sungguh!

Tapi lagi-lagi Tuhan menggagalkan rencanaku. Seprai itu masih basah kuyup. Aku pasti dimarahi ibu kalau membawa cucian basah ke gudang. Huh! Akhirnya aku menyerah. Mana bisa aku menantang Tuhan yang Kuat itu. Yang dapat kulakukan hanyalah melandaskan pantatku di sofa sambil menatap lurus ke arah televisi. Kututupkan bantal sofa ke arah muka. Malu.

***

Sendok dan garpu menyenggol piring-piring. Sesekali suara kerupuk patah membahana dengan renyah. Ada pula suara tegukan air dan gemeretak gigi beradu. Riuhlah dibuatnya ruang makan ini. Walau tubuhku memang duduk disini, bersama ayah, ibu, dan kakak perempuanku, ingatanku tetap liar beringas. Melesat jauh ke alam akhirat. Di akhirat, aku akan makan bangkai. Semua ini gara-gara aku menipu Tuhan. Ah, kenapa aku harus menipu Tuhan? Atau paling tidak, kenapa harus ketahuan? Nafsu makanku hilang. Ludes.

Ibu pernah bilang, kelak di akhirat, Tuhan akan mengungkit semua dosa manusia. Baru kutahu, selain pendendam, Tuhan ternyata senang mengungkit-ngungkit dosa orang lain. Lebih parah lagi, dosa-dosa itu akan diumumkan di depan seluruh makhluk penghuni bumi dan langit. Ya ampun! Pastinya aku akan sangat malu saat Tuhan mengumumkan bahwa aku adalah anak ingusan yang telah berani membohongi-Nya. Ah, sungguh bukan main malunya diriku!

“Kamu kenapa, Elang?” tiba-tiba saja Ibu membuka pembicaraan. Suaranya berhasil menarik jiwaku kembali ke alam nyata. Aku tertegun. Awalnya, sebagai laki-laki yang sudah berusia tujuh tahun, kuputuskan untuk menyelesaikan masalah ini sendirian. Tapi kuurungkan. Seringkali orang dewasa memiliki solusi yang tak terpikirkan oleh anak kecil sepertiku. Aku pun membeberkan segalanya.

Kakakku tiba-tiba tertawa, diikuti kekehan ayah yang tertahan di kerongkongan. Ibu kemudian mengisyaratkan agar keduanya diam. Aku mulai putus asa. Ini adalah masalah besar bagiku, tapi mereka malah menertawakan. Ah, orang dewasa seringkali menganggap enteng masalah anak-anak. Aku mulai kesal lalu beranjak. Tampaknya masalah besarku hanya akan berakhir dengan tertawaan.

“Mau tahu arti mimpimu yang sebenarnya?” ibu berkata lembut. Aku tak jadi pergi. Pantat ini kulandaskan lagi di kursi. “Mimpi itu mengisyaratkan bahwa Tuhan sangat sayang padamu, Elang.” Ibu meneguk air, pertanda kegiatan makannya telah usai. “Tuhan memberi pesan agar Elang menjadi orang yang jujur. Karna kalau Elang menjadi pembohong, maka Elang akan masuk neraka.”

Aku tak mengerti ucapan ibu. Dahiku mengkerut, persis kerutan dahi ayah saat menonton berita politik di televisi. “Tapi aku telah berdosa. Aku membohongi Tuhan dan aku akan masuk neraka.” Aku meyakinkan ibu bahwa semua ini tak seenteng menjinjing belanjaan dari pasar. “Tuhan itu Mahaadil. Segala yang Dia takdirkan pasti tidak akan merugikan makhluk-Nya. Berbuat dosa dalam mimpi itu tak akan dituliskan malaikat, sayang. Karena itu diluar kendali kita.” Ibu menancapkan pandangannya padaku. “Kalau kamu berbohong di dunia nyata, itu baru dosa, dan kamu akan masuk neraka.” Bibir ibu melengkungkan senyum. Gigi serinya terpampang jelas.“Lagian Tuhan itu gak berbicara pake bahasa Indonesia kali, Lang” kakakku menimpali. Tentu saja, dengan muka cengengesan, menertawakan.

“Jadi aku nggak akan masuk neraka? Jadi aku nggak membohongi Tuhan?” kata-kataku terasa ringan. Aku kegirangan. Ibu, ayah, dan kakakku mengangguk bersamaan. “Horeeeeeee!” aku berjoget-joget seperti penyanyi dangdut. Tubuhku meliuk-liuk bagai ular kobra.

“Sekarang ibu mau nanya.” Ucapan ibu kontan membuat gerakanku terhenti. “Buah apel yang ada di meja belajarmu itu darimana?” mata ibu mulai menajam, diikuti tatapan menyelidik ayah dan kakak. “Itu… anu… hmm….” Aku mulai kebingungan. Di satu sisi aku merasa malu untuk mengaku, tapi di sisi lain aku takut masuk neraka jika berbohong. “Aku mencurinya dari toko Pak Tono.” Aku menunduk karena malu. Malu pada keluargaku, dan tentu saja, pada Tuhan.

***

“Tuhan, maaf ya. Aku menyesal udah mencuri apel. Makasi udah mengirimiku mimpi itu.Kalau Engkau tak mengirimiku mimpi itu, mungkin besok-besok aku akan mencuri lagi. Makasi Tuhan. Aku janji, besok apelnya akan kukembalikan. Aku pun janji tak akan mencuri dan berbohong lagi sepanjang hidupku. Selamat malam, Tuhan.”

8 thoughts on “Menipu Tuhan

  1. wah uci..
    kita mikir kaya gitu juga ga ya dulu, yaa meski mungkin dulu ga melakukan itu..🙂
    kisah baguss like this ceu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s