[a live]The Strangers

Saya biarkan kata-kata mengalir deras dari jiwa. Tanpa metafora, tanpa rekayasa. Tak seperti tulisan yang lalu-lalu, kali ini saya tak hendak memilih kata-kata indah, atau membenah ulang rangkaian kalimat demi kalimat. Saya hanya ingin tulisan ini mengalir apa adanya.

Mari kita mulai. Seseorang mengatakan, “Just set it free. If it comes back it’s yours. If not, it wasn’t meant to be.” Ah, kata-kata yang terlalu teoritis. Kata-kata yang memang terbukti benar namun tak aplikatif. Serius, saya benci! Benar-benar membenci kata-kata itu.

Terlalu sering saya kehilangan teman. Dan tentu saja, tak mudah bagi saya untuk mengatakan if it comes back it’s mine and if not, it wasn’t meant to be. Teman bukanlah duit recehan yang bila jatuh masuk got lantas dengan ringan bisa saya ikhlaskan. Teman, sebuah kata yang melibatkan elemen-elemen hati di dalamnya.

Ingin marah. Ingin menyalahkan. Tapi entah harus bagaimana dan pada siapa. Pun pada dia–teman saya, walau telah ia lepas tali pertemanan secara perlahan, tetap saja tak ada alasan bagi saya untuk menyalahkannya. Ini di bawah kendali-Nya, dan saya tak berhak membantah apa-apa.

Satu hal saja yang saya sesalkan. Seringkali saya gagal mengatakan padanya, “Please, don’t fall in love unless you are ready for the changeover in our friendship. We will no longer feel pleasant to talk each other. We will be the stranger for each other.” Ya, saya selalu gagal dan gagal mengatakan itu padanya. Sampai akhirnya semua ini terjadi, dan kini kami benar-benar berubah menjadi The Strangers.

Saya tak bisa menyalahkan dia. Tak pula perasaannya. Tak pula takdir kami. Ini jernih rencana-Nya. Semua ini tentu saja telah tercatat di lauhul mahfudz sejak lama. Dan sejujurnya, sungguh sebuah anugerah terhormat, ketika seorang shalih seperti dia memilih saya untuk menjadi sebagian hidupnya. Sungguh anugerah luar biasa.

Dia bisa membimbing dan menenangkan saya. Dia seorang pecinta Tuhan dan Rasul. Dia seorang yang berilmu, jauh lebih banyak dari ilmu saya. Namun sayang, ia bukan untuk saya. Perbedaan prinsip, perbedaan cara pandang, dan perbedaan pemikiran, membuat saya urung mengiyakan dirinya.

Ia kemudian pergi dari saya. Melucuti pertemanan yang sejak lama dipintal bersama. Lagi-lagi saya kehilangan seorang teman. Kehilangan teman yang bisa membuat saya tertawa. Teman yang bisa saya jadikan tempat bertanya. Ya, saya kehilangan (lagi) seorang teman dan itu karena alasan yang sama, cinta. Ya, dia jatuh cinta.

“Please, don’t fall in love unless you are ready for the changeover in our friendship. We will no longer feel pleasant to talk each other. We will be the stranger for each other.

*Friend, yes we did. We did become the strangers.

You’re not to blame, and so am I. It’s Him! It’s because of Him. And it must be the best way from Him, for us.

9 thoughts on “[a live]The Strangers

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s