[a thought] Malaikat Jalanan

 

Dago Timur, 18 Maret 2011, 11.59 PM.

Pernahkah engkau merasa menjadi orang yang ragu akan masa depan? Sampai-sampai bermimpi setinggi atap pun engkau tak berani? Pernahkah engkau tersenyum sementara hatimu menganggap itu omong kosong? Pernahkah engkau merasa berputus asa tentang kehidupan hari esok? Pernahkah engkau kebingungan, kepada siapa engkau harus mengasihani sementara engkau sendiri adalah orang yang paling patut dikasihani? Pernahkah, kawan?

Aku tak pernah. Tapi aku pernah berada di antara mereka yang demikian. Mereka yang tak yakin dengan masa depan. Mereka yang tak berani bermimpi. Senyum bagi mereka adalah fatamorgana. Ambisi adalah angan-angan menyakitkan. Mereka –yang walau malam ini menyungging senyum dan tawa, mereka tetaplah manusia-manusia berputus asa yang cemas akan garis hidupnya di hari esok.

Hatiku menangis. Mataku pun berair. Entah kenapa, justru sakit sekali rasanya melihat mereka tertawa. Walau senyum teruntai, aku tahu, “kesuraman” tetap menjadi tema kehidupan yang mereka yakini hingga saat ini. “However, I have no bright future.” Itulah kira-kira isi benak mereka. Ah, aku tahu tawa tak ada artinya bagi mereka. Tak juga ilmu matematika atau bahasa Indonesia. Yang berharga adalah recehan uang. Karena dengan itu mereka terjamin takkan mati kelaparan. Yang berharga adalah kasih sayang. Karena dengan itu mereka merasa dianggap ada.

Dulu aku tak menyukai mereka. Alasanku, mereka hidup bebas dan liar. Baru kutahu betapa kerdilnya pemikiranku itu. Apakah mereka menghendaki kehidupan seperti itu? Apakah mereka memilih jalan itu? Apakah mereka mau seperti itu? Tentu tidak. Jika mereka diizinkan kembali ke masa ruh, tentu mereka lebih memilih hidup normal daripada hidup di jalanan.

Hari ini aku merasa begitu dekat dengan mereka. Menciumi bau matahari dari baju-bajunya. Merasakan kasar di tangan-tangannya. Melihat rambut gimbalnya. Hari ini mataku terbuka, menyaksikan tubuh-tubuh bebas dan liar itu dari dekat. Ya Allah, mereka adalah anak-anak. Bagaimana pun mereka tetap anak-anak. Ini sungguh menyakitkanku. Mereka, dengan tubuh yang seharusnya menampung beban anak berusia 14 tahun, kini  tengah menanggung beban yang jauh lebih berat dari itu.

Lalu aku mewajarkan kebebasan dan keliaran hidup mereka. Usia tiga tahun kuhabiskan dalam perhatian dan dekapan orang tua. Sementara mereka? Mereka bahkan harus melawan debu-debu jalan dan tusukan matahari sedari lahir. Usia lima tahun kuhabiskan dengan belajar membaca dan mengaji. Sedang mereka? Mereka terlalu kalut untuk membagi waktu antara mencari nafkah dan belajar. Wajar. Wajar sekali jika kehidupan mereka begitu bebas dan liar.

“Saya mau belajar membaca, Teh.” Perkataan Ogi terlalu menyakiti hatiku. Aku teringat masa lalu, saat ibu dengan sukarela mengajariku membaca. Jika kebanyakan anak seusia Ogi lebih memilih berkata, “Saya mau belajar komputer, Teh.” Atau, “Saya mau belajar bahasa Inggris, Teh.” Tanpa kusangka, keinginan Ogi ternyata begitu sederhana: ia mau belajar membaca.

Lalu aku menatap Ogi, “Tak adakah orang yang mengajarimu selama 11 tahun ini, sayang?” aku merintih dalam hati. Tak kuat mengatakan satu kata pun dari pita suara. Ah, aku tahu, terlalu istimewa bagi anak jalanan seperti Ogi untuk mendapatkan perhatian sedetil itu. Karna untuk keselamatan nyawa sekalipun, belum tentu ada orang yang mau mempedulikannya.

“Saya mau sholat, Teh. Tapi saya pake anting dan tattoo. Gak apa-apa kan?” Heri, anak berambut merah itu berbicara begitu sopan padaku. “Ah, Heri. Sungguh istimewalah dirimu jika di tengah kerasnya kehidupan jalanan, kau masih mau menganggap-Nya. Kamu hebat.” aku kembali merintih dalam hati.

Obrolan kemudian mengalir renyah. Sekali lagi aku terkejut, mereka ternyata memang anak-anak. Sekalipun bertattoo, sekalipun berbicara kasar, mereka tetap berjiwa anak-anak. Lalu aku menyadari satu hal, mereka memang butuh ilmu matematika, mereka memang butuh ilmu agama. Tapi satu hal yang jauh lebih mereka butuhkan, perhatian dan kasih sayang.

Ah, maaf adik-adikku sayang, Iwan-Dedi-Mus-Kang Jojo-Heri-Rudi-Fajar-Ogi. Maaf karena aku terlambat datang. Harusnya sejak dulu aku berada di samping kalian. Meyakinkan bahwa masa depan kalian terang benderang. Meyakinkan bahwa hidup kalian begitu berharga. Meyakinkan bahwa kalian, malaikat-malaikat kecil penerang jalan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s