[a word] Domba Kesepuluh #2

Aku duduk

Di bangku besi tua

Gundukkan Keji Beling di kiri dan kanan

Bak dinding-dinding rendah pembunuh pandangan

Langit menjadi atap

Rumput-rumput jepang menjadi permadani pelindung telapak

Satu sorot matahari di sudut dunia

Hangat terasa bersama raga

Benak berkelana

Riuh menggulung dada

Gemuruh dedaunan membahana

Gemericik air bercerita

Semua bersuara bak pertunjukkan surga

Beruntung aku menontonnya

Sesekali angin bergolak

Menyapu semesta

Kolam menjadi beriak

Bebatangan menjadi renta

Lalu angin minggat

Tanpa berujar maaf

Ah, angin memang tak tahu adat

Aku dalam taman

Jiwaku sajalah yang meraba

Gemeretak gigiku sajalah yang merasa

Aku sajalah yang bercanda bersama bunga-bunga

Lalu bermain-main dengan sejumput rumput dan sekelebat senja

Mungkin aku tega

Menemani taman hanya di kala luka

Tetapi sungguh, mencengkramai alam adalah obat duka lara

Menyentuh alam adalah terapi jiwa

Aku dalam taman, bersama secarik kertas kusut terdekap di dada.

“Laki-laki dihitungan domba kesepuluh itu tak kunjung nyata”

[Randombanget. 16 Maret 2011. 5.56 PM]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s