[a talk] Merasa Hidup Kembali

Bandung, 4 Maret 2011. Di celah-celah kebisingan para pecinta ilmu, Laboratorium Farmakokinetik, Sekolah Farmasi, Institut Teknologi Bandung.

Hari ini aku merasa hidup. Hidup kembali tepatnya. Sekian lama aku merasa ditinggalkan oleh jiwa, bahkan oleh kepribadianku sendiri. Aku sempat kehilangan keinginan. Bahkan ketika orang-orang bertanya, “Kamu mau apa?”. Maka dengan lugas aku akan menjawab, “Entahlah”. Aku kemudian menjadi sangat bingung. Yang aku lakukan hanya duduk, diam, dengan pikiran hitam dan kosong.

Tepatnya hari ini, sungguh tidak berlebihan jika kukatakan aku telah hidup kembali. Aku mulai mengumpulkan remahan jiwa yang sempat melebur. Dan ternyata, jiwa yang sempat hilang itu tak benar-benar hilang dariku. Hanya aku saja yang menimbunnya dengan bebatuan keras egoku, kesombonganku.

Akhirnya aku menyadari hakikat keinginanku, ambisiku. Aku mulai mengerti, bahwa berkorban bagi-Nya, dengan cara membahagiakan makhluk-Nya, sekalipun harus berpeluh, terluka, bahkan terhina, adalah kebahagiaan yang sangat nyata bagiku. Ya, berkorban dengan segala dayaku, mencintai dan membahagiakan makhluk-Nya, demi Dia. Itulah aku dengan segala kebahagiaanku.

Aku sempat menyangka kalau aku tak punya ambisi. Aku merasa linglung jika di hadapkan pada impian. Mau jadi apa kamu? Itulah pertanyaan terberat yang tak pernah aku tahu jawabannya. Tapi tidak untuk hari ini (insyaAllah sampai nanti). Aku tahu, impian terbesarku adalah menjadi berguna bagi alam raya, sekalipun dengan hal kecil, sekalipun pada orang kecil. Aku akan merasa sangat bahagia ketika dimintai tolong, pun hanya membantu ibu-ibu menaikkan dagangannya ke angkot di pasar simpang.

Aku merasa menyesal. Kenapa aku tak mengenal diriku sendiri dari dulu? Mengenal diriku yang senang bertegur sapa dengan tukang kupat tahu di depan gerbang tanpa canggung. Mengenal diriku yang senang mengusap-ngusap rambut anaknya si Mas Tukang roti. Mengenal diriku yang senang berjalan kaki mengunjungi panti sadang serang. Mengenal diriku yang senang bertukar pendapat dengan teman yang ingin mengenal islam. Mengenal diriku yang senang mengobrol dengan teman-teman mualaf. Mengenal diriku yang senang bergaul dengan masyarakat kecil para pencari Islam. Ah, kenapa aku sempat lupa kebiasaan-kebiasaan ini?

Lantas aku bersyukur untuk hari ini. Hari kembalinya jiwaku. Beberapa hal membuatku menyadari hakikat keinginanku, ambisiku:

Kebahagiaan pertama: Seorang mahasiswi (sebut saja Melati) berbicara hal serius padaku, setelah sebelumnya kami bercanda tawa. Dia mengatakan, “Teh, aku ini mualaf. Pas kelas enam SD aku baru masuk islam. Teteh tau gak, setiap magrib aku belajar mengaji Quran tapi sampai saat ini aku gak pernah lancar mengaji. Aku sedih, Teh” dia membenarkan posisi duduknya, kemudian berkata lagi, “Makasi karna udah mau ngajarin aku.” Akhh, aku terperanjat. Ucapan mahasiswi ini begitu menyetrum saraf-sarafku, mempercepat gelontoran darah-darahku. Kemana saja aku selama ini? Kenapa aku melupakan Melati-Melati lain yang juga mungkin sedang menunggu sambutan tanganku? Lalu aku pun berkata dalam hati, “Aku yang harus berterima kasih padamu, Melati. Kamu yang telah membuat jiwaku yang sempat tertimbun batu ego kembali hidup. Terima kasih. Aku bahagia sekali hari ini”.

Kebahagiaan kedua: Hari ini aku memang sedang tak enak badan. Kepalaku pusing dan keringat dingin bergelayutan di jidatku. Namun semua rasa sakit itu enyah ketika aku bertemu seorang mahasiswi S2 yang sengaja menghampiriku. Dia berkata padaku, “Maaf ternyata hari ini adik-adik gak bisa ikut belajar, Ci. Teteh juga gak bisa nemenin Uci lama-lama. Maaf ya, hari ini kita cancel aja.”Ya, menarik! Sudah hampir pingsan aku berjalan menuju Mushola Gedung Teknik Industri di lantai 3 ini. Sudah banyak persiapan yang kulakukan untuk mengajar. Tapi Allah ternyata tak menghendaki pertemuan ini terjadi. Aku tak menyesal, bahkan aku merasa sangat bahagia. Teteh S2 ini, beserta adik-adiknya, mengingatkanku pada masa kemarin. Dimana aku seringkali diuji kesabaran, diuji keimanan lewat kejadian seperti ini. Ta’lim gak ada yang dateng, mentoring gak ada yang konfirm, dan hal-hal serupa lainnya. Ya Allah, sudah lama aku tak membuang tenagaku seperti ini demi Asma Engkau. Sudah lama aku tak menghabiskan waktuku seperti ini demi Engkau. Ah, kemana saja aku selama ini Ya Rabb?.

Kebahagiaan ketiga: Sore ini, di Lab ini, setelah perjalananku menuju Mushola Teknik Industri begitu mengesankan, aku kembali mendapat kebahagiaan yang menggugah jiwa. Aku membuka blog teman. Lalu aku tertarik pada postingan berjudul ” There is no cosmetic for beauty like happiness”. Isi blog ini sungguh berjiwa. Dimana Yangie (temanku), berfoto dan berinteraksi dengan anak-anak jalanan Simpang. Ah, kemana saja aku? Bukannya dulu, seringkali aku dan Yangie mengunjungi panti asuhan, bermalam di desa-desa tetinggal bersama-sama? Kenapa aku begitu lupa kalau dluar sana, masih banyak anak-anak yang mau bermain petak umpet, belajar ngaji, belajar bahasa Inggris bersamaku? Kenapa aku begitu lupa? Lalu tiba-tiba Yangie -yang memang berada di lab yang sama denganku- menepuk pundak ini dan berkata, “Mereka masih butuh pengajar. Mau gak ngajar disana bareng aku, Ci?”. Lalu aku berkata dalam hati, “Ah, Ngie. bagaimana bisa aku menolak kegiatan yang paling membuatku sangat sangat sangat bahagia ini? Bergaul dengan mereka membuatku mengerti kehidupan. Makasi telah membangunkan kembali jiwaku yang sempat mati”

Ya, begitulah. Sekali lagi, sungguh tak berlebihan jika kukatakan aku telah hidup kembali. Ketika orang-orang kembali bertanya, “Kamu mau jadi apa?”. Dengan lugas aku akan menjawab, “Aku mau menjadi penolong.”Lalu ketika dahi para penanya itu berkerut keheranan dan bertanya lagi, ” Penolong siapa?” Aku dengan percaya diri dan teguh hati akan menjawab, “Ya penolong agama Allah lah. Penolong siapa lagi?!” Dan ketika kutemukan keruwetan di air muka mereka, aku akan mengatakan dengan tegas, “Penolong agama Allah dengan cara menjadi penolong manusia.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s