[a word] Musik Malam

Aku kian takjub.

Menikmati nada-nada malam terlampau membuat rasa kantukku enyah. Desiran angin menyapu jendela, riuh decak binatang malam, suara samar Murratal, bahkan desah nafas yang bergesekkan dengan dinding hidung, semua berkolaborasi menjamukan karya seni terbaik milik Tuhan. Musik malam.

Subhanallah! Dunia bisa sebegitu diamnya di kala gelap. Bahkan detikan jam pun, kedipan mata pun, gemeretak sendi pun, semuanya begitu terang terdengar di telinga. Menakjubkan!

Aku tak sedang pulas lantas ngelantur, atau terkantuk-kantuk sambil mengangguk. Aku tengah duduk berlipat kaki, berhampar kain hijau bergambar kubah. Tentu saja, malam ini takkan kuacuhkan hanya dengan menikmati alam mimpi. Sama sekali tidak. Aku ingin terjaga, lantas berkisah pada-Nya, Penguasa Malam. Continue reading

[a word] Konayuki English Translation

The season in which the powdered snow dances always passes by
Even if I’m lost in a crowd, I can see the same sky
Even though I’m chilled as if I’m being blown by the wind

I don’t know anything about you, do I?
And yet, I found you amongst a billion people
There’s no (scientific) basis for this, but I believe this with all seriousness

We can’t live at the same time without trivial fights
If I can’t be honest, then rapture and sorrow are meaningless

Powdered snow, if you paled me white to the heart
Can you share our loneliness?

I pressed my ear against your heart
Going gently, deeply towards where the sound (is coming from)
(That’s where) I want to disembark,
There, we’ll meet once again

I want us to reach rapport but I was the (only) one who touched its surface
The only thing that was holding us together was my hand squeezing yours that was numb with cold
Powdered snow, in front (of us), eternity, too fragilely, becomes a stain upon rough asphalt

Powdered snow, this heart that has transcended time is faltering
And yet, I want to continue to protect you Continue reading

[a thought] Malaikat Jalanan

 

Dago Timur, 18 Maret 2011, 11.59 PM.

Pernahkah engkau merasa menjadi orang yang ragu akan masa depan? Sampai-sampai bermimpi setinggi atap pun engkau tak berani? Pernahkah engkau tersenyum sementara hatimu menganggap itu omong kosong? Pernahkah engkau merasa berputus asa tentang kehidupan hari esok? Pernahkah engkau kebingungan, kepada siapa engkau harus mengasihani sementara engkau sendiri adalah orang yang paling patut dikasihani? Pernahkah, kawan?

Aku tak pernah. Tapi aku pernah berada di antara mereka yang demikian. Mereka yang tak yakin dengan masa depan. Mereka yang tak berani bermimpi. Senyum bagi mereka adalah fatamorgana. Ambisi adalah angan-angan menyakitkan. Mereka –yang walau malam ini menyungging senyum dan tawa, mereka tetaplah manusia-manusia berputus asa yang cemas akan garis hidupnya di hari esok. Continue reading

[a talk] Merasa Hidup Kembali

Bandung, 4 Maret 2011. Di celah-celah kebisingan para pecinta ilmu, Laboratorium Farmakokinetik, Sekolah Farmasi, Institut Teknologi Bandung.

Hari ini aku merasa hidup. Hidup kembali tepatnya. Sekian lama aku merasa ditinggalkan oleh jiwa, bahkan oleh kepribadianku sendiri. Aku sempat kehilangan keinginan. Bahkan ketika orang-orang bertanya, “Kamu mau apa?”. Maka dengan lugas aku akan menjawab, “Entahlah”. Aku kemudian menjadi sangat bingung. Yang aku lakukan hanya duduk, diam, dengan pikiran hitam dan kosong.

Tepatnya hari ini, sungguh tidak berlebihan jika kukatakan aku telah hidup kembali. Aku mulai mengumpulkan remahan jiwa yang sempat melebur. Dan ternyata, jiwa yang sempat hilang itu tak benar-benar hilang dariku. Hanya aku saja yang menimbunnya dengan bebatuan keras egoku, kesombonganku.

Akhirnya aku menyadari hakikat keinginanku, ambisiku. Aku mulai mengerti, bahwa berkorban bagi-Nya, dengan cara membahagiakan makhluk-Nya, sekalipun harus berpeluh, terluka, bahkan terhina, adalah kebahagiaan yang sangat nyata bagiku. Ya, berkorban dengan segala dayaku, mencintai dan membahagiakan makhluk-Nya, demi Dia. Itulah aku dengan segala kebahagiaanku. Continue reading